Akhir April 2025, seorang mantan presiden menghadiri pemakaman Paus di Vatikan. Wajahnya bersih, langkahnya tenang. Bahasa tubuhnya seperti biasa: hemat kata, hemat emosi, hemat penjelasan. Ia kemudian pulang. Tak lama berselang, muncul kabar ia sempat bertemu beberapa pemimpin dunia. Tapi tentu saja, gayanya khas: ringkas dan irit interaksi.
“Ya dengan presiden dan perdana menteri yang lain (bertemu). Hanya sebentar, hanya say hello saja. Hanya berbincang semenit-dua menit,” ujarnya.
Tentu, ini sudah termasuk pencapaian. Mengingat kualitas percakapan beliau yang selama ini dikenal publik, menyapa dua menit itu sudah termasuk marathon diplomatik.
Sebulan kemudian, wajahnya berubah. Bukan tambah segar, tapi malah seperti korban uji klinis krim abal-abal dari kios kosmetik kelas Nusa Indah. Kulit leher dan pipi memerah. Muncul gurat-gurat yang membuat publik bertanya: sakit apa? Efek pengobatan? Autoimun? Infeksi kulit? Atau alergi?
Jawaban pun datang. Tapi bukan dari dokter, rumah sakit, atau tim medis. Yang bicara justru ajudan. AJUDAN. Seolah kalau nanti ada operasi jantung, klarifikasinya boleh dari tukang kebun atau satpam komplek.
Kata ajudan, “Itu cuma alergi biasa.”
Alergi yang katanya muncul setelah kunjungan ke Vatikan, tapi baru terlihat sebulan kemudian.
Kita pun belajar satu hal baru: rupanya ada jenis alergi spiritual. Bukan karena debu, bukan karena cuaca, tapi karena tanda-tanda langit.
Netizen mulai bergunjing: “Apa ini balasan langit dari mubahalah orang-orang yang dulu dipenjara karena disebut memfitnah?”
Mereka yang dulu dijerat karena dugaan, justru perlahan dibenarkan oleh kenyataan. Yang menyeret malah tetap tampil, yang membongkar malah dituduh nyinyir.
Di republik ini, salah ucap bisa berujung bui. Tapi menyembunyikan kebenaran? Bisa masuk TV.
Tak heran kalau rakyat makin percaya kasak-kusuk, karena yang resmi selalu telat, dan yang jujur sering dihukum.
Seperti biasa, ketika keraguan memuncak, muncullah footage pembelaan. Mantan presiden itu tampak bersepeda, tersenyum bersama cucu.
Dan seperti biasa pula, narasi yang dibangun: “Lihat, sehat-sehat saja, kan?”
Ya, sehat. Tapi wajahnya seperti habis tawuran dengan skincare expired. Dan rakyat disuruh puas dengan satu kalimat: “Cuma alergi, kok.”
Masalahnya, ini bukan sekadar soal kulit. Ini soal kebiasaan menghindar.
Publik dulu bertanya soal ijazah, jawabannya juga sama: berputar-putar. Bukan ditunjukkan agar adem, tapi dioper-oper ke loyalis, buzzer, konten kreator, sampai influencer yang lebih sering endorse serum glowing daripada fakta hukum.
Woi netizen!
Mantan presiden kita bukan cuma alergi kulit. Dia alergi transparansi. Alergi klarifikasi resmi. Alergi dengan rakyat yang kepo soal data.
Makanya tiap kali muncul kritik, yang keluar bukan jawaban, tapi dongeng pengantar tidur:
“Sudahlah, lihat tuh, dia masih bisa ketawa bareng cucu.”
Sebentar. Sejak kapan tertawa bersama cucu jadi bukti medis?
Tapi ya sudahlah. Seterah.
Bukan sekadar terserah, karena di negeri ini, jadi mantan presiden itu enak.
Kalau wajah belang, tinggal bilang “alergi”.
Kalau ijazah diragukan, tinggal bilang “Sudah diperiksa Bareskrim”, walaupun katanya, yang diperiksa bukan ijazah asli, tapi fotokopi.
Dan ketika rakyat bertanya soal kebenaran, jawabannya selalu sama:
“Sudah dong, bre. Move on aja.”
Padahal yang belum move on itu bukan rakyat.
Tapi narasi-narasi lama yang terus dibungkus baru.
Seperti wajah yang dibungkus krim, tapi tetap belang di cermin sejarah.

