Pagi yang seharusnya menjadi awal perjalanan spiritual menuju Baitullah berubah menjadi puing dan kepulan asap. Rabu, 28 Mei 2025, langit Sanaa bergemuruh oleh serangan udara militer Israel, menghantam Bandara Internasional Sanaa sebanyak empat kali. Bukan pangkalan militer yang menjadi sasaran, bukan gudang senjata atau pos komando perang, melainkan sebuah pesawat sipil—Airbus A320—yang tengah bersiap membawa jamaah haji Yaman menuju Jeddah, Arab Saudi. Ratusan harapan, doa, dan kerinduan yang menggantung pada perjalanan suci itu, hancur tak bersisa.
Serangan itu bukan sekadar serangan militer. Itu adalah tusukan ke dalam jantung umat Islam. Di dalam pesawat itu, harusnya ada para ayah, ibu, kakek, dan nenek yang telah menabung bertahun-tahun untuk menunaikan rukun Islam kelima. Ada cucu-cucu yang menyiapkan pelukan perpisahan. Ada doa-doa yang belum sempat dikumandangkan. Namun yang tersisa kini hanyalah puing, darah, dan isak tangis yang tertahan di antara puing-puing aluminium yang hangus terbakar.
Direktur bandara, Khaled al-Shaif, dalam kepedihan yang nyaris tak tertahankan, menyebut bahwa pesawat itu adalah pesawat terakhir milik Yemenia Airways yang masih bisa terbang. “Israel menghancurkannya sepenuhnya,” tulisnya di platform X. Bukan hanya pesawat yang musnah—tetapi juga harapan 800 jamaah haji yang kini tak tahu bagaimana lagi mereka bisa menunaikan panggilan Allah.
Israel berdalih, ini semua adalah balasan atas serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal Israel di Laut Merah. Tapi apakah membalas dengan membom pesawat sipil yang membawa jamaah haji adalah tindakan militer yang beradab? Apakah dunia telah kehilangan akal sehatnya, hingga membedakan antara kombatan dan warga sipil pun tak mampu lagi?
Suara Solidaritas, Jeritan Keadilan
Pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, menyuarakan amarah rakyatnya. Ia menegaskan bahwa ini adalah strategi jahat Israel untuk melumpuhkan solidaritas terhadap Palestina. Serangan itu dimaksudkan untuk memutus hubungan batin umat Islam—agar tiada satu pun negeri Muslim yang mampu atau berani berdiri di samping Gaza.
Namun nyatanya, justru sebaliknya. Serangan brutal itu membakar semangat. Hizbullah, dari Lebanon, mengecam keras apa yang mereka sebut “agresi biadab”. Mereka tak segan menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang membiarkan kekejaman ini terus berlangsung, sementara dunia hanya terdiam, bisu, seolah menutup mata atas penderitaan yang setiap hari bertambah panjang.
“Di manakah suara kemanusiaan?” teriak rakyat Yaman yang kini bukan hanya kehilangan saudara, tempat tinggal, dan makanan, tapi juga kehilangan satu-satunya jalur udara yang tersisa untuk pengobatan dan kemanusiaan. Pemerintah di Sanaa menyebut serangan ini bukan hanya penghancuran fisik, tapi penghancuran martabat manusia. Pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Tapi hukum mana yang bisa berbicara ketika yang melanggar adalah mereka yang tak tersentuh?
Luka yang Dalam, Tapi Takkan Membungkam
Sejak awal agresi Israel terhadap Gaza Oktober 2023, seluruh wilayah Arab tak pernah benar-benar damai. Houthi menyerang karena mereka melihat darah anak-anak Gaza tumpah setiap hari. Tapi Israel membalas dengan menghancurkan rumah sakit, pelabuhan, dan kini, pesawat haji.
Sebulan sebelumnya, pada 6 Mei, 30 serangan udara menghantam bandara yang sama. Dan sekarang, pesawat terakhir pun lenyap. Bandara ditutup. Jalur udara kemanusiaan mati. Dunia? Masih memilih diam.
Satu fakta yang tak bisa dihapuskan: Bandara Sanaa baru saja dibuka kembali untuk penerbangan sipil setelah bertahun-tahun lumpuh. Harapan baru muncul, rakyat mulai percaya mereka bisa keluar dari keterasingan. Tapi harapan itu kini terkubur di bawah reruntuhan beton dan besi pesawat yang terbakar.
Doa dari Tanah Terluka
Di balik tragedi ini, satu hal tak bisa dihancurkan: iman. Al-Houthi bersumpah, jamaah haji akan tetap berangkat, Insya Allah. Karena apa yang tak bisa disampaikan pesawat, akan disampaikan oleh hati. Karena kiblat tak pernah menutup pintunya untuk siapa pun yang datang dengan niat suci, sekalipun mereka harus berjalan melewati reruntuhan.
Rakyat Yaman tak meminta belas kasihan. Mereka hanya meminta satu hal: keadilan. Agar dunia membuka matanya, agar suara-suara dari reruntuhan ini bisa terdengar lebih lantang dari rudal, agar doa-doa yang tertahan di langit Sanaa bisa sampai ke Makkah—dan mengguncang hati umat manusia.
Karena ini bukan hanya tentang sebuah pesawat. Ini tentang kehormatan, kemanusiaan, dan hak untuk menyembah Tuhan tanpa dihalangi oleh misil.

