Eldi berdiri di depan papan pengumuman fakultas, menatap jadwal UTS yang baru ditempel. Angin pagi masih dingin, menyusup dari sela-sela jaket jins lusuh yang dia pakai sejak semester satu. Di tangannya, map plastik berisi tugas terjemahan novel Tanizaki sudah agak kusut karena tergenggam terlalu erat.
Dari kejauhan, suara sepeda motor Honda Astrea Prima terdengar mendekat. Elang.
Ia turun dengan gaya santai khas anak Sastra Perancis: kemeja putih dikeluarkan, rambut gondrong diikat karet hitam, dan tas kanvas berisi buku Roland Barthes serta puisi Rimbaud yang tak pernah dia baca habis.
Mereka dulu sering duduk berdua di bawah pohon bungur dekat perpustakaan pusat. Di situ, Eldi biasa membacakan haiku dalam bahasa Jepang, sementara Elang akan mendengarkannya tanpa mengerti, tapi selalu bilang, “Suaramu bikin waktu berhenti, El.”
Kini, waktu benar-benar berhenti. Tapi bukan karena haiku. Karena hening.
Venus mulai masuk ke lingkaran mereka saat pertunjukan seni tahunan jurusan. Dia vokalis di grup musik Sastra Perancis, suaranya merdu, cara bicaranya tenang, dan pengetahuannya soal wine dan filsafat Prancis membuat semua orang menganggapnya canggih. Termasuk Elang.
Eldi merasakannya sejak awal.
Elang mulai datang terlambat ke pertemuan mereka di warung Teh Ninih. Mulai sering menghindari pembicaraan tentang masa depan. Bahkan ketika Eldi memberanikan diri menulis surat tangan berisi puisi Jepang yang diterjemahkannya sendiri, Elang hanya berkata, “Bagus.” Tanpa mata yang berkaca seperti dulu.
Hari itu, selepas kelas, Elang mengajak Eldi bicara di dekat tangga gedung timur, tempat biasa mahasiswa merokok dan menunggu gerimis reda.
“El…,” katanya pelan, “Aku… minta maaf.”
Eldi hanya diam. Di belakang mereka, bunyi mesin tik dari ruang dosen berdenting seperti detak jantung yang terburu-buru.
“Aku yang milih dia,” Elang melanjutkan. “Bukan dia yang merebutku.”
Eldi menggigit bibir bawahnya. Ingin menangis, tapi malu. Tahun 1993 bukan zaman perempuan menangis di depan lelaki dan dianggap kuat. Jadi ia hanya menatap Elang, lama, lalu berkata lirih, “Kamu bukan direbut, Lang. Kamu pergi sendiri.”
Malam itu, Eldi menulis lagi. Bukan di kertas surat seperti biasa, tapi di belakang fotonya bersama Elang yang dulu mereka cuci di kios film Fuji depan kampus.
“Manakala kau merasa cantik ada di dekatnya, lalu hatimu berbunga-bunga, tiba-tiba seseorang datang menyingkirkanmu, bagaimana perasaanmu?”
Ia tak pernah memberikannya. Foto itu ia simpan di dalam novel Norwegian Wood, diselipkan di halaman yang belum pernah ia baca ulang sejak Elang pergi.
Venus tak tahu apa-apa. Ia bahkan tak tahu Eldi pernah menghabiskan sore hujan dengan Elang di bawah payung yang sama sambil bertukar lagu dari kaset kompilasi. Tapi Eldi tak ingin menjelaskan. Penjelasan tak akan mengubah apa pun. Elang sudah memilih. Dan pilihan bukan untuk diperdebatkan.
Hari-hari setelahnya, Eldi mulai sering menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca puisi Matsuo Basho dan belajar menulis dengan pena celup. Ia menolak tawaran teman-temannya ke Dago Tea House, lebih memilih menuliskan rasa kehilangan dalam kalimat pendek—seperti haiku, tapi tak berima.
Beberapa bulan kemudian, saat Elang dan Venus tampil berdua di panggung sastra dengan membacakan puisi Paul Éluard, Eldi berdiri di belakang aula. Tak menangis. Tak pergi. Tapi hatinya—hatinya diam-diam menulis satu baris yang tak sempat ia sampaikan:
“Cinta yang tak dipilih, bukan berarti kalah. Hanya tidak dijadikan cerita oleh orang yang tak sanggup menyimpannya.”
Bandung akan terus dingin. Tapi Eldi mulai terbiasa. Di Fakultas Sastra, di antara aroma kertas dan debu buku tua, ia belajar bahwa kehilangan bisa jadi bagian dari perjalanan mencintai diri sendiri.
Dan bahwa perempuan yang berdiri kecil di samping pemenang…
Kadang justru yang paling besar jiwanya.

