Elang menatap layar ponselnya yang menyala. Notifikasi dari Utari kembali muncul: pesan singkat, dingin, dan jelas. “Aku lagi sibuk. Nanti aja, ya.” Sudah tiga hari berturut-turut kalimat serupa muncul dengan variasi kata yang nyaris sama. Elang tak membalas. Ia hanya mengunci layar dan memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.
Di luar, angin sore berhembus pelan, membawa aroma hujan yang baru saja reda. Kafe tempat ia duduk tidak ramai, hanya ada dentingan sendok dan cangkir yang sesekali terdengar dari meja lain. Di hadapannya, Budi duduk dengan ekspresi prihatin, mengaduk kopi yang sudah dingin sejak tadi.
“Lo yakin dia masih punya rasa?” tanya Budi akhirnya.
Elang diam. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Di luar, daun-daun basah berkilau di bawah cahaya senja. Ia menarik napas panjang.
“Gue gak tahu, Bud. Tapi gue ngerasa, dia udah gak ngelihat gue sama kayak dulu,” jawab Elang pelan.
Budi mengangguk pelan. “Kadang kita harus tahu kapan berhenti, Lang. Laki-laki gak ngemis cinta. Kalau dia gak dicintai, dia pergi.”
Kalimat itu menggantung di udara. Elang tahu Budi benar. Tapi perasaan tidak semudah logika. Ia telah jatuh hati pada Utari sejak dua tahun lalu, saat pertama kali mereka bertemu di komunitas literasi kampus. Utari dengan senyumnya yang teduh, dengan mata bening yang selalu penuh semangat ketika bicara soal buku dan mimpi-mimpinya. Elang jatuh, terlalu dalam. Dan seperti kebanyakan orang yang jatuh cinta, ia buta akan tanda-tanda.
“Gue cuma gak mau nyesel,” gumam Elang.
“Lo justru akan nyesel kalau terus bertahan di tempat yang gak ngasih lo ruang untuk dihargai.”
Elang menunduk. Diam-diam, hatinya berdesah perih.
Beberapa hari berlalu. Utari tak menghubunginya sama sekali. Elang, yang biasanya akan mencoba menghubungi lebih dulu, kini memilih diam. Ia ingin tahu, seberapa penting dirinya bagi Utari jika dia berhenti hadir.
Namun yang ia temukan hanyalah keheningan. Dan dari keheningan itu, kebenaran muncul tanpa perlu ditanya: Utari tak mencarinya.
Satu malam, Elang duduk di kamar sambil membaca ulang pesan-pesan lama. Di sana, Utari pernah mengiriminya puisi. Dulu, Utari bilang, “Kamu itu rumah, Lang.” Tapi kini, rumah itu seperti ditinggalkan, tak pernah dikunjungi lagi. Apa yang berubah? Elang tak tahu pasti. Tapi ia yakin, cintanya masih sama. Hanya Utari yang mungkin tak lagi melihatnya sebagai rumah.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Budi.
“Lo harus ketemu gue besok. Penting.”
Keesokan harinya, mereka bertemu di taman kampus. Budi duduk di bangku kayu di bawah pohon besar, tampak gelisah.
“Gue lihat Utari tadi siang,” katanya cepat. “Dia jalan sama cowok. Bukan teman kuliah kita. Orang kantoran kelihatannya.”
Elang mengangguk pelan, seolah sudah menduga.
“Dia keliatan nyaman banget. Pegang tangan. Senyum.”
Tak ada kemarahan di wajah Elang. Yang ada hanyalah kekosongan yang mendalam.
“Gue kira, dia cuma butuh waktu. Tapi ternyata dia udah punya pilihan lain,” kata Elang, lebih kepada dirinya sendiri daripada Budi.
Budi memandangnya prihatin. “Lo gak marah?”
Elang tersenyum kecil. “Buat apa? Cinta bukan soal memaksa. Kalau gue gak dicintai, gue pergi. Harga diri gue bukan buat dinegosiasikan, Bud.”
Budi diam, lalu menepuk pundaknya.
“Elang yang gue kenal, gak akan pernah jatuh karena ditinggalin. Tapi bakal berdiri lebih tinggi karena tahu siapa dirinya.”
Elang menghapus semua pesan dari Utari malam itu. Ia juga menghapus foto-foto mereka, dan mengarsipkan kenangan yang pernah begitu indah namun kini hanya menyisakan luka samar. Ia tidak marah. Ia hanya kecewa karena ketulusan tak selalu dihargai.
Beberapa minggu berlalu, dan hidup berjalan seperti biasa. Elang mulai menulis lagi — sesuatu yang ia tinggalkan sejak perasaannya untuk Utari mulai menggantung. Ia kembali aktif di komunitas literasi, menjadi pembicara di beberapa forum kecil, bahkan mulai menyiapkan naskah bukunya sendiri.
Utari mendengar kabar itu. Ia melihat nama Elang di salah satu poster acara literasi. Wajah itu, yang dulu menemaninya menulis hingga larut, kini tersenyum di depan khalayak. Ia merasa ada yang hilang — tapi tak bisa dijelaskan dengan kata.
Suatu malam, Utari mengirim pesan.
“Hai, gimana kabarnya?”
Pesan itu dibaca Elang setelah beberapa jam. Ia menatap layar ponselnya lama, lalu tersenyum. Ia tidak membalas. Ia tahu, ada hal-hal yang hanya indah ketika belum rusak. Dan rasa cinta yang pernah tulus itu, tak layak ditarik kembali hanya karena si pemiliknya merasa sepi.
Beberapa bulan kemudian, Elang menerbitkan bukunya. Judulnya: “Lelaki yang Tidak Mengemis Cinta.” Buku itu memuat kumpulan prosa dan refleksi tentang cinta, harga diri, dan memilih pergi saat tidak lagi dicintai.
Pada peluncuran bukunya, banyak yang hadir. Termasuk Utari, yang duduk di barisan tengah dengan wajah ragu. Elang melihatnya, tetapi tak menunjukkan tanda apa pun. Ia berbicara dengan tenang, menyampaikan proses kreatifnya. Tak ada nama yang disebut, tak ada sindiran. Hanya cerita tentang bagaimana cinta bisa mengubah seseorang — bukan hanya membuat jatuh, tapi juga membuat bangkit.
Usai acara, Utari mendekatinya.
“Hai,” sapa Utari.
“Hai,” jawab Elang ramah.
“Bukunya… bagus. Aku suka bagian ini.” Ia menunjukkan halaman yang ditandai: “Cinta bukan soal siapa yang paling berjuang. Tapi siapa yang tahu kapan harus berhenti.”
Elang mengangguk. “Itu juga bagian favoritku.”
Hening sesaat.
“Aku… minta maaf,” kata Utari akhirnya. “Aku tahu aku salah waktu itu. Dan mungkin, aku kehilangan sesuatu yang gak bisa aku temukan lagi.”
Elang menatapnya. Matanya tidak lagi memendam luka. Hanya kedamaian.
“Gak apa-apa, Tar. Semua orang berhak memilih. Aku juga udah memilih, waktu aku memutuskan pergi.”
Utari tersenyum tipis, lalu menunduk. “Kamu udah nemuin orang baru?”
Elang tertawa kecil. “Belum. Tapi sekarang, aku lagi sibuk mencintai diriku sendiri.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Elang benar-benar merasa bebas. Ia tak lagi menunggu pesan yang tak kunjung datang, tak lagi menahan harapan yang mengikis harga diri.
Ia tahu, cinta yang sejati tak pernah butuh untuk diminta. Dan lelaki sejati — tak akan mengemis cinta. Jika tak dicintai, ia tahu jalan pulang.

