Hujan turun sejak sore. Gerimisnya halus, nyaris seperti bisikan yang malu-malu mengetuk jendela kamar Fiera. Di luar, langit kelabu menggantung rendah, seolah mendekap bumi dengan kehampaan.
Di dalam kamar, Fiera duduk membungkuk di atas ranjang, mengenakan hoodie abu-abu, dengan earphone masih menempel di telinga — tapi lagu sudah berhenti diputar sejak lima belas menit lalu.
Matanya kosong menatap layar ponsel yang padam. Sekilas, seperti menunggu pesan dari seseorang yang tidak kunjung datang. Padahal kenyataannya, tidak ada yang ia tunggu. Sudah lama tidak ada. Dan mungkin, memang tidak ada.
Kamar itu sunyi. Tapi yang lebih sunyi adalah hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk lembut.
Tok… tok… tok…
“Fiera.” Suara itu tenang. Datar. Suara yang sudah ia kenal seumur hidup. Kakaknya, Elang.
“Ada apa?” Fiera menjawab tanpa menoleh.
“Aku boleh masuk?”
Fiera menghela napas pelan, lalu menjawab singkat. “Masuk aja.”
Elang membuka pintu perlahan, masuk dengan langkah tenang. Ia mengenakan baju koko biru tua, lengan panjang, celananya bersih. Wajahnya teduh, dengan sorot mata yang tenang — tapi Fiera tahu, di balik ketenangan itu, kakaknya selalu tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Elang menutup pintu. Ia tidak langsung duduk. Ia berdiri sebentar, memperhatikan adiknya yang memeluk lutut di ranjang. Setelah hening sejenak, ia menarik kursi belajar dan duduk menghadap Fiera.
“Kamu belum salat maghrib?” tanyanya pelan.
Fiera tak menjawab.
“Fiera?” ulang Elang, kali ini lebih lembut.
Fiera mengangkat wajahnya, menatap kakaknya. Matanya tampak lelah, ada lingkaran gelap di bawah kelopaknya.
“Mas…” suaranya lirih, “apa kamu pernah ngerasa sendirian?”
Elang menatap adiknya lama. Lalu ia mengangguk.
“Pernah. Dulu. Waktu Mama meninggal. Waktu kamu belum bisa ngerti apa-apa. Aku ngerasa dunia kosong. Semua orang jalan terus, tapi aku diam.”
Fiera menarik napas. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku ngerasa gitu sekarang. Tapi lebih dari itu… aku ngerasa nggak punya siapa-siapa. Bahkan sama diri sendiri, aku ngerasa asing.”
Elang memiringkan kepala sedikit. Sorot matanya menajam, tapi bukan marah — lebih seperti ingin menelusuri luka yang sedang adiknya sembunyikan.
“Ada sesuatu yang terjadi?”
Fiera menggeleng, lalu mengangguk. Ragu. Lalu ia bicara, suara tercekat.
“Teman-temanku… sibuk dengan hidup mereka. Sahabatku yang dulu dekat, sekarang berubah. Yang satu sibuk kerja, yang satu nikah, yang satu pindah. Aku chat pun jarang dibalas. Aku coba cerita ke beberapa orang… tapi kayaknya nggak ada yang benar-benar peduli.”
Ia mengusap air mata yang mulai jatuh.
“Aku capek… Mas. Aku ngerasa kosong. Sepi. Kayak semua orang punya tujuan. Aku doang yang tertinggal.”
Elang menghela napas dalam. Ia menunduk sebentar, mengatur kalimat. Lalu menatap adiknya dengan tatapan penuh kasih.
“Fiera…” suaranya lembut. “Gimana bisa kamu menyebut dirimu kesepian, sedangkan Allah memanggilmu… lima kali sehari?”
Fiera menoleh cepat. Ia terdiam. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih semata. Lebih seperti benturan kesadaran yang baru menamparnya.
“Elang lanjut, suaranya tenang tapi dalam.
“Kita semua pernah ngerasa sendiri. Tapi rasa itu sering muncul bukan karena benar-benar sendiri, tapi karena kita memutuskan untuk menutup diri dari yang paling dekat sama kita — Allah.”
Ia berdiri dari kursi, lalu duduk di ujung ranjang, dekat Fiera. Perlahan, ia membuka laci kecil di samping ranjang dan mengeluarkan sajadah kecil yang dilipat rapi.
“Shalat itu… bukan cuma kewajiban. Itu panggilan cinta. Allah memanggil kita, ‘Hayya ‘ala sh-shalah… Hayya ‘ala-l-falah…’ — Ayo salat. Ayo raih kemenangan. Tapi kita sering terlalu sibuk merasa sepi, sampai lupa ada yang selalu nunggu kita datang.”
Fiera menunduk. Bahunya bergetar. “Aku… aku tahu, Mas. Tapi aku ngerasa kering. Waktu aku salat… rasanya kayak formalitas. Aku berdiri, rukuk, sujud… tapi hatiku kosong. Gimana bisa aku merasa ditemani kalau bahkan salat aja nggak nyambung?”
Elang tersenyum. Ia mengusap kepala adiknya perlahan.
“Itu karena kamu masuk ke salat… tapi nggak bawa hati. Kamu berdiri… tapi nggak hadir. Kamu sujud… tapi nggak menyerah.”
Fiera menatap kakaknya. “Gimana caranya bawa hati?”
Elang menatap mata adiknya dalam-dalam.
“Pertama, kamu harus jujur dulu sama Allah. Waktu kamu berdiri takbiratul ihram, bilang: ‘Ya Allah, aku datang dalam keadaan kosong. Aku hilang arah. Tapi aku mau Engkau temani.’ Jangan hafalan, jangan topeng. Jujur. Allah nggak butuh kata-kata indah. Dia butuh hatimu yang datang.”
“Terus?” suara Fiera lirih.
“Terus, dengarkan tiap ayat. Jangan cuma baca. ‘Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin’ — semua puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ulangi dalam hati. Renungkan. Sampai kamu sadar… kamu bukan sendirian di semesta ini. Ada Tuhan yang menciptakanmu. Yang tahu air matamu. Yang tahu kosongmu.”
Hening.
Fiera menunduk. Ia membuka ponsel, melihat jam. Sudah menjelang isya.
Elang berdiri. “Yuk, salat bareng di musholla kecil bawah. Aku tunggu. Pakai mukenamu. Nanti kita ngobrol lagi habis isya, ya?”
Fiera mengangguk perlahan. Wajahnya masih sembab, tapi ada cahaya kecil di sorot matanya. Cahaya yang baru saja dinyalakan oleh kata-kata sang kakak — atau mungkin, oleh panggilan yang sudah sekian lama ia abaikan.
Setelah salat isya berjamaah, Elang dan Fiera duduk berdua di musholla kecil rumah mereka. Dinding putihnya sederhana, hanya dihiasi kaligrafi bertuliskan “Inna ma’al ‘usri yusra” — sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Fiera membuka pembicaraan. “Mas… waktu Mas ngerasa sendiri dulu… apa yang bikin Mas bisa sembuh?”
Elang tersenyum, menatap sajadah di depannya.
“Aku pernah salah jalan. Aku pikir, kesepian itu hilang kalau aku cari kesenangan. Nongkrong, main game, ngobrol tanpa arah. Tapi makin aku lari, makin dalam aku jatuh.”
Ia menoleh, menatap Fiera.
“Sampai suatu hari, aku baca ayat ini: ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’ (QS. Qaf:16). Waktu itu aku langsung berhenti. Diam. Nangis. Karena aku sadar… yang aku cari di luar, ternyata sudah ada di dalam hatiku. Allah nggak pernah ninggalin aku. Aku aja yang nutup mata.”
Fiera menunduk. Air matanya jatuh lagi — kali ini tenang, lembut, seperti hujan yang menyejukkan.
“Aku mau mulai lagi, Mas. Tapi… gimana kalau aku gagal? Gimana kalau aku jatuh lagi?”
Elang tersenyum dan memegang tangan adiknya.
“Fiera… Allah nggak minta kamu sempurna. Dia cuma minta kamu kembali. Berkali-kali pun, nggak masalah. Karena yang jatuh seribu kali tapi bangkit seribu satu kali, itu lebih mulia daripada yang diam merasa aman tapi sombong.”
Fiera mengangguk.
“Berarti… setiap kali aku salat, itu bukti bahwa aku nggak sendiri?”
“Bukan cuma bukti,” Elang menjawab pelan. “Tapi juga perisai. Tempat berlindung. Lima kali sehari, Allah panggil kamu, ‘Fiera, ayo datang. Aku mau bicara. Aku mau dengar hatimu.’ Dan kamu tahu? Satu-satunya panggilan yang tidak pernah sepi… adalah azan.”
Seminggu kemudian, kamar Fiera tak lagi sunyi. Ada suara tilawah pelan dari speaker kecil di mejanya. Di dinding, ia menempelkan kertas kecil bertuliskan:
“Kesepian hanyalah jarak antara hati dan sujud.”
Ia belum sempurna. Masih ada hari ketika ia merasa berat, malas, ingin kembali ke gelap. Tapi kini ia tahu ke mana harus pulang. Ia tahu, setiap kali ia merasa kosong… ada Pencipta yang menunggunya kembali.
Dan suara Elang terus terngiang di benaknya:
“Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu kesepian, sedangkan Allah memanggilmu… lima kali sehari?”

