Pernah nggak kamu merasa hidup lagi ngeremuk—tapi entah gimana, justru itu yang bikin kamu bangkit lebih kuat dari sebelumnya?
Kira-kira itulah cerita Huawei, perusahaan teknologi asal Tiongkok yang pernah “dibantai” secara ekonomi oleh Amerika Serikat, tapi sekarang malah jadi simbol kebangkitan bangsa. Cerita ini bukan cuma soal ponsel, chip, atau angka revenue. Ini cerita tentang mental baja, kerja keras, dan bagaimana budaya bisa jadi senjata bisnis yang nggak kelihatan… tapi menghancurkan siapa saja yang meremehkannya.
Mari kita mulai dari kejatuhan Apple dulu, biar lebih dramatis.
Apple: Si Raja yang Tersandung di Istana Sendiri
Apple adalah brand yang (hampir) selalu menang. Di seluruh dunia, iPhone identik dengan status sosial, kualitas premium, dan inovasi yang memukau. Tapi, ada satu tempat di mana Apple justru terjungkal: Tiongkok, rumahnya Huawei.
Menurut laporan dari Counterpoint Research, penjualan iPhone di China pada kuartal pertama tahun 2024 anjlok drastis—turun 19,1% dibanding tahun sebelumnya. Di sisi lain, Huawei? Melejit naik 69,7%.
Gila nggak?
Bahkan, ini jadi pertama kalinya dalam 13 kuartal terakhir Huawei kembali duduk di puncak pasar smartphone Tiongkok dengan penguasaan 17% pangsa pasar. Apple terlempar ke posisi ketiga di belakang Huawei dan Honor (brand pecahan Huawei sendiri). Bayangkan, sebuah perusahaan yang pernah disanksi keras sama Amerika karena dianggap “terlalu berbahaya secara geopolitik”, sekarang malah jadi raja di kandangnya sendiri.
Huawei: Bangkit dari Sanksi, Melesat Tanpa Ampun
Sedikit flashback: Tahun 2019, Amerika Serikat menempatkan Huawei dalam “entity list”, larangan yang bikin mereka kehilangan akses ke chip buatan AS, software Google, dan berbagai teknologi penting lainnya. Saat itu, banyak yang yakin ini akhir dari Huawei. Gimana enggak? Tanpa chip canggih dan sistem operasi global, smartphone Huawei seperti mobil balap tanpa mesin.
Tapi Huawei nggak mati.
Malah sebaliknya. Mereka bertransformasi dari perusahaan yang “tergantung” jadi perusahaan yang “mandiri penuh”. Revenue mereka tahun 2024 mencapai $118,1 miliar—pendapatan tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan itu berdiri.
Gimana ceritanya bisa kayak gitu?
Mindset Militer di Dunia Bisnis
Jawabannya terletak pada satu hal: budaya. Lebih tepatnya, military mindset.
Huawei didirikan oleh Ren Zhengfei, seorang mantan teknisi militer di Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Nggak heran kalau semangat tentara meresap ke seluruh struktur perusahaan.
Slogannya keras dan penuh darah:
“Kalau kita menang, kita rayakan sampai puas. Kalau kita kalah, kita bertarung sampai titik darah penghabisan.”
Buat sebagian orang, ini terdengar ekstrem. Tapi di Huawei, ini jadi napas mereka sehari-hari. Kegagalan bukan akhir, tapi sinyal untuk kerja lebih keras.
Kalau kamu pernah kerja di perusahaan biasa, mungkin kamu familiar dengan budaya “jam 5 sore pulang”. Di Huawei? Pulang itu opsional. Yang wajib adalah hasil.
Apakah ini manusiawi? Nggak semua orang cocok. Tapi hasilnya? Terbukti. Huawei bukan cuma bertahan di tengah badai global, mereka malah berkembang dan bikin negara lain gemetar.
Wolf Culture: Budaya Serigala, Bukan Kucing Rumahan
Huawei juga terkenal dengan budaya internal yang disebut “Wolf Culture”. Ini bukan sekadar nama keren buat motivasi, tapi cara hidup di perusahaan.
Apa isinya?
-
Kerja keras tanpa drama
-
Disiplin seperti militer
-
Karyawan loyal, bahkan banyak yang jadi pemegang saham
-
Fokus ke hasil, bukan basa-basi
Serigala hidup dalam kawanan. Mereka berburu bareng, bertahan bareng, dan loyal pada pemimpinnya. Huawei mengadopsi ini sepenuhnya. Tim bukan cuma sekumpulan pegawai, tapi pasukan tempur yang siap bertarung demi tujuan bersama.
Kemandirian Teknologi: Daripada Minta, Mending Bikin Sendiri
Salah satu ucapan Ren Zhengfei yang paling sering dikutip:
“Daripada bergantung pada orang lain, lebih baik kita bikin sendiri.”
Dan itu bukan cuma slogan. Huawei benar-benar melakukannya.
Setelah dilarang pakai chip dari Qualcomm dan tak bisa akses Android dari Google, mereka langsung tancap gas bangun sistem operasi sendiri: HarmonyOS. Nggak cuma itu, mereka juga membangun ekosistem chip sendiri lewat HiSilicon dan bahkan memimpin riset teknologi komunikasi 5G.
Di saat banyak perusahaan tech lain meratap karena supply chain putus, Huawei malah buka lab baru, rekrut ratusan insinyur, dan dorong habis-habisan R&D. Tahun 2024, mereka habiskan lebih dari 179,7 miliar yuan (sekitar $25 miliar) hanya untuk riset.
Pelayanan Tanpa Drama: Sampai Tikus Pun Jadi Masalah Serius
Cerita legendaris lainnya datang dari lapangan. Di salah satu daerah terpencil di Tiongkok, kabel jaringan Huawei digigitin tikus. Daripada nyalahin alam atau pelanggan, tim mereka langsung turun tangan cari solusi.
Mereka bahkan mengembangkan kabel tahan gigitan tikus.
Serius.
Ini bukan soal kabel doang. Ini soal filosofi pelayanan. Huawei percaya bahwa pelanggan yang puas adalah aset jangka panjang. Mereka nggak hanya jual produk, tapi juga pengalaman. Dan pengalaman itu harus mulus, meski harus bikin kabel anti-tikus sekalipun.
Bukan Sekadar Smartphone
Huawei bukan cuma tentang ponsel. Mereka juga merajai:
-
Infrastruktur 5G: Huawei memegang 31% pangsa pasar global.
-
AI dan Komputasi: Mereka mulai menantang dominasi Nvidia dengan chip AI buatan mereka sendiri.
-
Otomotif Pintar: Huawei berpartner dengan beberapa produsen mobil untuk menyuplai solusi teknologi kendaraan otonom dan pintar.
Artinya? Mereka nggak menggantungkan hidup ke satu produk. Mereka diversifikasi besar-besaran, dan semuanya diarahkan untuk satu misi besar: membuat Tiongkok tidak bergantung pada teknologi Barat.
Huawei = Simbol Nasionalisme Teknologi
Di dalam negeri, Huawei bukan cuma perusahaan. Mereka adalah simbol perlawanan.
Saat Huawei dijatuhi sanksi, rakyat Tiongkok nggak melihat itu sebagai urusan bisnis doang. Mereka menganggap itu penghinaan terhadap kebangkitan bangsa. Hasilnya? Ada gerakan sosial besar-besaran untuk dukung produk lokal, terutama Huawei.
Ini mirip kayak kamu nonton tim nasional main, dan lawannya bikin curang. Secara alami, kamu jadi makin dukung tim kamu sendiri. Huawei berhasil mengubah perlawanan politik jadi loyalitas pelanggan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Buat kita, para pebisnis kecil-menengah, startup founder, atau bahkan freelancer, mungkin Huawei terasa jauh. Tapi prinsip-prinsip mereka bisa banget kita tiru.
✅ 1. Bangun Budaya Kerja yang Jelas
Tanpa budaya, perusahaan kayak kapal tanpa arah. Budaya Huawei keras, iya. Tapi jelas. Mereka tahu apa yang mereka perjuangkan, dan semua orang di dalamnya paham itu.
✅ 2. Mandiri Itu Wajib
Jangan cuma bisa jalan kalau ada “suntikan investor” atau “bantuan vendor”. Coba mulai bangun sistem sendiri. Tim yang bisa mikir sendiri = tim yang bisa bertahan di krisis.
✅ 3. Fokus ke Pelanggan, Sampai Tuntas
Jangan cuma jual barang. Layani. Dengarkan. Adaptasi. Bahkan kalau pelanggan nggak sadar ada masalah, kamu yang duluan nyelesaiin.
✅ 4. Eksekusi Konsisten, Bukan Wacana
Banyak bisnis gagal bukan karena ide jelek, tapi karena eksekusinya bolong. Huawei bisa bikin HarmonyOS, chip sendiri, dan ngelawan sanksi karena mereka eksekusi tanpa drama.
Kamu Nggak Harus Jadi Huawei, Tapi…
Kamu nggak harus jadi Huawei.
Nggak harus punya 200.000 karyawan. Nggak harus investasi triliunan.
Tapi kamu bisa tiru mindset-nya. Bisa tiru konsistensinya. Dan bisa mulai dari tim kecil yang punya tujuan besar.
Karena dalam bisnis, yang paling tahan bukan yang paling keren. Bukan yang paling viral. Tapi yang paling solid.
Huawei membuktikan: meski dunia melawanmu, kalau fondasi kamu kuat, kamu bukan cuma bertahan. Kamu bisa menang.
Tanya Diri Kamu Hari Ini:
-
Apa budaya yang sedang kamu bangun di timmu?
-
Apakah kamu mandiri secara teknologi dan strategi?
-
Apa kamu udah melayani pelanggan kamu sampai ke akar-akarnya?
-
Dan, terakhir… Kamu udah tahan banting belum?
Kalau kamu suka artikel ini, share ke teman-teman kamu yang lagi ngebangun bisnis. Siapa tahu, cerita Huawei bisa jadi inspirasi buat membangun fondasi yang lebih kokoh—bukan cuma untuk bisnis, tapi juga untuk hidup.

