Seorang teman memforward foto kepadaku. Foto yang membuatku terenyuh. Tentang orang-orang yang berangkat haji tanpa antri. Sebuah jargon memikat.
Sepasang suami istri tersenyum kaku di depan hotel sederhana di Aziziyah, Mekkah. Senja telah berlalu, waktu menunjukkan pukul delapan malam, tanggal 10 Dzulhijjah. Tapi mereka belum juga menginjakkan kaki di Arafah.
Padahal… bukankah Arafah adalah jantung haji itu sendiri?
Tak ada haji tanpa wuquf di Arafah. Sabda Nabi ﷺ itu tidak bisa ditawar. Maka malam itu, senyum di wajah mereka menyimpan kepedihan yang tidak semua orang akan mengerti: mereka ada di Tanah Suci, tetapi tak mampu menggapai rukunnya. Mereka hadir dalam pesta ibadah terbesar umat Islam, tapi hanya sebagai penonton di pinggir panggung.
Uang 220 juta. Janji haji tanpa antri. Tapi haji itu tak pernah terjadi.
Janji Manis dan Realita Pahit
Mereka bukan penipu, bukan pula penyusup. Mereka berangkat dengan rapi melalui sebuah travel ternama. Iqamah—semacam KITAS untuk ekspatriat di Saudi—sudah mereka pegang. Segala dokumen resmi diurus. Mereka percaya: ini adalah jalan pintas yang sah menuju haji.
Tapi satu hal terlewat: tasreh (izin haji) tak pernah benar-benar mereka dapatkan.
Alasannya sederhana, dan menyakitkan: mereka telat. Iqamah mereka jadi terlalu mepet. Saat mereka hendak mendaftar paket masyair resmi lewat aplikasi Nusuk, yang disediakan otoritas Saudi bagi pemegang iqamah, semua slot sudah ludes. Habis. Tidak tersisa.
Dan di titik itulah segalanya berubah.
Haji Tanpa Antri, Termasuklah Tanpa Tasreh: Ilusi yang Mahal
Travel mereka, entah karena abai atau memang nekat, tetap melanjutkan keberangkatan. Tanpa tasreh, tanpa izin masuk Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Tanpa jaminan bisa berhaji.
Yang mereka dapat hanya izin masuk Mekkah. Ibaratnya, bisa masuk stadion tapi tak bisa masuk lapangan. Bahkan tribun pun tidak.
Akhirnya, rombongan mereka terkatung-katung. Menginap di hotel transit. Takut keluar, apalagi melintas checkpoint. Sementara itu, sebagian mencoba peruntungan dengan bergabung pada grup yang menggunakan visa amil, visa kerja untuk panitia, bukan untuk ibadah. Lagi-lagi, bukan jalur resmi.
Hari Arafah datang. Mereka menunggu bus di pinggir jalan. Panas. Lelah. Tegang. Hingga pukul 7 malam, barulah sebuah bus bersedia membawa mereka ke Arafah, atau lebih tepatnya, mencoba membawa.
Namun, setengah jam kemudian, bus berhenti. Supirnya tak berani lanjut. Mereka diturunkan. Harapan pun ikut turun bersama mereka.
Waktu terus berjalan. Hingga pukul 8 malam, rombongan kembali ke apartemen. Hampa.
Malam itu, sebagian masih berharap bisa lolos lewat celah. Ada pendapat yang membolehkan wuquf di malam hari, asal sebelum subuh. Tapi kenyataan lebih kuat dari harapan. Tak ada jalan tembus. Mereka pun menyerah.
“Haji Tanpa Antri” Berubah Menjadi “Haji Tanpa Haji”
Bayangkan: berada hanya beberapa kilometer dari Arafah, namun tak bisa masuk. Sudah memakai ihram, sudah berniat, sudah siap berkorban, namun tetap tertolak dari inti ibadah yang dicita-citakan.
Ini bukan soal uang yang melayang. Ini tentang harapan yang runtuh di ambang pintu rumah Allah.
Sepasang suami istri itu bukan satu-satunya korban. Banyak yang senasib. Mereka tak tahu-menahu soal regulasi. Tak mengerti beda antara visa amil, visa ziyarah, atau paket masyair. Mereka hanya tahu: travel menjanjikan “langsung berangkat tanpa antri.”
Padahal, di balik janji itu, ada ranjau-ranjau hukum dan aturan ketat yang tidak bisa dilompati begitu saja. Apalagi di tahun 2025 ini.
Maka Apa yang Bisa Kita Pelajari?
- Tak Ada Haji dengan Jalan Pintas yang Curang.
Visa haji adalah satu-satunya jalur legal untuk berhaji. Visa lain, apapun namanya, amil, ziyarah, bisnis, bagi Kerajaan Arab Saudi, tidak sah untuk berhaji. Menggunakannya untuk haji adalah perjudian. Mungkin berhasil, mungkin tidak. Tapi jika gagal, kegagalan itu terjadi setelah Anda sampai di Mekkah. Rasanya akan jauh lebih menyakitkan daripada gagal berangkat dari tanah air. Kalau tahu begitu, mending uangnya untuk kurban. - Kalau Mengandalkan Iqamah, Jangan Telat.
Sistem Nusuk dibuka sejak awal Syawwal. Dalam hitungan hari, ribuan ekspatriat berlomba mengamankan paket masyair resmi. Jika Anda mengurus iqamah telat, Anda akan tertinggal. Tidak ada kuota tambahan. Tidak ada toleransi. Haji bukan antrean supermarket yang bisa disusul seenaknya. - Jangan Percaya Janji Manis Tanpa Cek Realita.
Banyak travel berani menjual paket dengan embel-embel “tanpa antri, langsung berangkat.” Tapi adakah jaminan tasreh resmi? Adakah transparansi soal visa? Jangan biarkan semangat ibadah dibajak oleh bisnis yang bermain di zona abu-abu.
Ada Kalanya Menunggu Itu Lebih Baik
Memang, antrean haji reguler di Indonesia bisa mencapai 20 tahun. Waktu yang lama. Tapi waktu bisa dilewati dengan persiapan. Dengan niat yang terjaga. Dengan rezeki yang ditabungkan. Dan ketika akhirnya datang, haji Anda akan lengkap, secara syariat, legalitas, dan ruh. Haji yang pasti, bukan sekedar impian haji tanpa antri.
Bukan seperti mereka yang sudah di tanah haram, namun tak bisa masuk Arafah.
Arafah Tak Pernah Sejauh Itu, Tapi Bisa Jadi Tak Tergapai
Kisah sepasang suami istri ini adalah pengingat bahwa haji bukan soal fisik semata. Ini adalah ibadah yang penuh aturan, penuh kehati-hatian, dan penuh kesabaran. Jalan pintas sering kali adalah jebakan.
Mereka sudah berikhram, sudah berniat, sudah di Mekkah. Tapi tetap tak berhaji. Gara-gara terbuai haji tanpa antri yang tahun ini, atau juga tahun-tahun ke depan akan semakin tertutup bagi jamaah ilegal.
Karena haji, pada akhirnya, bukan sekadar hadir. Tapi hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.
Semoga Allah menerima niat tulus mereka sebagai amal. Dan semoga kita semua dijauhkan dari keinginan tergesa yang menyesatkan.
Karena haji bukan siapa cepat dia dapat. Tapi siapa sabar, dia sampai.

