Awalnya aku agak kaget dengan keputusan pemerintah saat mengumumkan logo peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Apakah ini bagian dari efisiensi?
Bisa iya, bisa tidak.
Kontan aku bikin status melongo.
Tapi setelah diskusi online lewat WA, akhirnya aku tercerahkan.
Aku salah.
Mari kita bicara soal logo.
Bukan logo perusahaan startup yang semua warnanya pastel dan font-nya lowercase pakai banyak spasi.
Kita bicara soal logo HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang tiap tahun dirilis, dikritik, ditertawakan, dipuji, lalu dilupakan. Dan tahun ini, siklusnya berulang lagi.
Tapi ada satu pola menarik dalam beberapa tahun terakhir:
Logonya makin lama makin simpel.
Saking simpelnya, kadang orang ngira itu draft awal.
Padahal ya itu udah finalnya.
Lalu muncul pertanyaan retoris:
Kenapa sih logo-logo HUT RI sekarang desainnya minimalis banget? Kok gak ada semangat api berkobar, merah darah, putih tulang, bambu runcing dan kawan-kawan? Mana teriakan MERDEKA-nya?
Jawabannya ternyata bukan soal estetika.
Tapi soal kuas, cat tembok, dan anggaran kampung yang pas-pasan.
Coba jalan-jalan ke gang-gang perumahan seminggu sebelum 17-an.
Lihat tembok-tembok yang berubah jadi galeri rakyat. Gapura-gapura yang tiba-tiba jadi versi kampung dari Paris Fashion Week.
Ada mural Bung Karno, ada gambar lomba makan kerupuk, dan di tengah-tengahnya: logo resmi HUT RI yang dicoba digambar manual.
Nah, di sinilah masalah muncul kalau logonya terlalu ribet.
Kalau desainnya banyak efek bayangan, gradasi, dan font aneh-aneh, tukang cat kampung langsung geleng-geleng.
Karena bukan semua orang punya Photoshop.
Bukan semua pelukis tembok punya proyektor.
Dan tentu saja, bukan semua RT punya dana lebih buat cetak stiker UV laminasi.
Jadi, kalau pemerintah bikin logo yang bentuknya cukup bisa ditiru pakai penggaris, tutup gelas, dan pilox merah-putih, itu sudah menyelamatkan banyak kepala dari migrain.
Ada yang bilang, “Tapi Bang, kalau desainnya terlalu simpel, kok jadi kayak nggak semangat ya?”
Lho, siapa bilang semangat harus ribet?
Bambu runcing itu simpel, tapi dulu bisa bikin gentar.
Bendera merah putih itu dua warna doang, tapi bisa bikin penjajah gemetar.
Logo simpel bukan berarti kehilangan makna.
Kesederhanaan justru bikin desainnya lebih inklusif; bisa dirasakan, digambar, dan dibanggakan oleh semua lapisan rakyat.
Dari muralis jalanan sampai tukang sablon kaus dengan peralatan sederhana.
Ingat, logo HUT RI bukan cuma buat majalah glossy dan backdrop istana.
Logo itu harus hidup. Nempel di tiang bambu. Muncul di baliho depan warung. Nampang di lomba mewarnai anak TK.
Dan untuk bisa “hidup”, dia harus bisa disalin.
Logo yang terlalu kompleks akan mati di dunia nyata.
Orang akan males gambar. RT akan males tempel.
Akhirnya, logo resmi tenggelam, dan yang muncul malah karikatur Soekarno pegang mic pakai gaya stand up comedy.
Makanya logo simpel itu bukan soal gaya, tapi soal daya pakai.
Supaya bisa hadir dari istana sampai ke sudut gang tempat lomba tarik tambang.
Jadi, Tahun Ini Kita Dapat Logo Apa?
Mungkin kamu udah lihat.
Mungkin kamu udah komen, “Lah, ini doang?”
Tapi coba tahan dulu sinismu, dan bayangkan ini:
Seorang bapak-bapak tua, duduk di bangku plastik, di bawah tenda biru, pakai kuas, sedang mencoret-coret logo HUT RI di tembok depan musholla. Keringatnya netes, tangannya gemetar, tapi wajahnya sumringah.
Karena logonya gampang ditiru.
Karena dia merasa ikut berkontribusi meriahkan kemerdekaan.
Dan karena ia tahu: kemerdekaan bukan soal rumitnya desain, tapi soal sederhananya semangat yang merata.
Merdeka!!!
