22 Juni 2025
Teheran, Iran
Parlemen Republik Islam Iran menggelar sidang tertutup sepanjang sore. Di luar gedung, rakyat bersorak dan berdoa. Di dalamnya, ketegangan menggantung di udara seperti bau mesiu.
Akhirnya, pukul 16.00 waktu Teheran, juru bicara parlemen berdiri:
“Iran menyetujui rencana menutup Selat Hormuz. Ini adalah hak sah kami untuk membela diri dari agresi militer Amerika Serikat.”
Keputusan itu belum bisa dijalankan tanpa restu Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Tapi dunia tahu: ini bukan gertakan. Ini adalah pengumuman perang.
Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui 20% pasokan minyak dunia, resmi masuk hitungan mundur. Ekonomi global berada di ambang krisis, tapi sebagian besar pemimpin dunia masih berharap Iran hanya menggertak. Mereka lupa: bangsa yang terdesak tak pernah bicara dua kali.
4 Juli 2025 — Pukul 03.47 dini hari waktu Teheran (bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat)
Langit Iran berubah merah. Bukan karena fajar, tapi karena dentuman rudal Tomahawk. Dua instalasi militer dekat Bandar Abbas luluh lantak. Serangan presisi Amerika Serikat itu menghapus ambiguitas. Tak ada lagi “ketegangan diplomatik”.
Ini perang. Dan serangan itu terjadi pada hari yang sangat simbolis: 4 Juli, saat Amerika Serikat merayakan kemerdekaannya. Bagi banyak orang, ini bukan kebetulan tapi ironi pahit. Di hari di mana Amerika mengenang kebebasan dari tirani, justru ia melancarkan pukulan yang memicu perang global demi menjaga aliran minyak.
Empat jam kemudian, dunia berubah.
Sebuah pernyataan pendek muncul dari Pasdaran Revolusi Iran: Pasdaran Revolusi Iran mengulangi pernyataan yang telah disetujui parlemen dua pekan sebelumnya:
“Mulai saat ini, tidak satu kapal pun dari negara-negara agresor akan lewat di Selat Hormuz. Jalur minyak kalian, kami tutup.”
Di Ruang Perdagangan London, Seorang Pria Menangis
Pukul 09.00 waktu London
John Malik, analis komoditas di London Metal Exchange, hanya menatap layar Bloomberg-nya yang kini seperti neraka digital. Harga minyak Brent melesat dari $89 ke $142 dalam waktu 38 menit.
Ia tidak menangis karena kehilangan uang. Ia menangis karena menyadari: dunia sedang patah.
Ponselnya berdering. Kolega dari Tokyo mengabarkan: Jepang menyatakan state of emergency. Listrik dipadamkan bergiliran. Maskapai ANA dan JAL batalkan 80% jadwal penerbangan.
Di Jakarta, SPBU Sudah Dirusak Massa
Pukul 16.12 WIB
Di SPBU Lenteng Agung, suara megafon polisi kalah oleh amarah rakyat. Harga Pertalite naik dua kali lipat. BBM bersubsidi lenyap dari pompa.
Mobil antre hingga mengular ke jalanan. Seorang ojol berteriak:
“Saya cuma mau nganter makanan, Pak. Tapi bensin lebih mahal dari harga pesanan!”
Seorang ibu menyiram dispenser BBM dengan air galon. Bukan aksi vandalisme, tapi ungkapan frustrasi.
Pemerintah gelagapan.
Rupiah terjun ke Rp19.200 per dolar.
Menteri Keuangan mencoba menenangkan publik, tapi wajahnya lebih pucat dari layar bursa efek.
Di Riyadh, Raja Salman Menggigil
Pukul 13.00 waktu Riyadh
Raja Salman menatap monitor dalam ruang pribadinya. Armada tanker Saudi terjebak. Tiga terbakar.
Sebuah drone Iran dikabarkan menenggelamkan kapal tanker Bahrain.
OPEC menggelar rapat darurat. Tapi semua tahu: tanpa Selat Hormuz, OPEC hanyalah singa ompong.
Di Dalam Bunker Natanz, Sebait Doa Dibaca
Jenderal Qassem Rezai, kepala strategi militer Iran, membaca ayat:
“Wahai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu.”
Ia tidak butuh kemenangan. Ia hanya ingin dunia tahu:
Iran bukan mangsa mudah.
Di Manhattan, Seseorang Tertawa
Lantai 78, kantor kaca di Wall Street. Seorang eksekutif hedge fund menyesap espresso. Ia membeli kontrak berjangka minyak dua bulan lalu. Hari ini, portofolionya naik 400%.
Ia tidak peduli siapa yang mati.
Yang penting: dia menang.
Di luar jendela, para demonstran berteriak:
- “STOP THIS BLOODY WAR”
- “NO BLOOD FOR OIL”
Tapi di dalam, AC tetap dingin. Lampu tetap terang. Dan bursa saham tetap buka.
Penutup: Dunia yang Diatur oleh Minyak
Selat Hormuz hanyalah selang kecil antara dua galon minyak raksasa. Tapi ketika selang itu tersumbat, seluruh sistem kehidupan modern kehabisan nafas.
Negara-negara adidaya bicara soal kemerdekaan dan demokrasi. Tapi semua berlutut pada minyak.
Rakyat marah. Tapi tetap menyalakan mesin mobil.
Dunia sekarat. Tapi tak bisa berhenti.
Karena sejak awal, kita membangun peradaban ini di atas genangan minyak.
Dan kini, genangan itu terbakar.

