Babak awal seperti seleksi alam. Baru saja dengar sudah ada 300-an calon “haji ninja” yang dideportasi dengan penuh cinta oleh petugas imigrasi. Mereka pulang bukan bawa zamzam, tapi bawa cerita dan surat pemulangan kilat.
Lanjut babak penyisihan: Survivor Makkah Edition. Tak terhitung jumlah yang dilempar keluar Tanah Suci, bukan karena lempar jumrah, tapi karena ketahuan nyelundup tanpa visa. Dendanya? 20 ribu riyal! Itu setara dengan 3 motor bebek dan satu sepeda lipat mahal.
Pedagang atribut haji ilegal, driver yang diam-diam nyusupin penumpang lebih dari muatan legal, dan pengiklan jasa “haji express tanpa antre”: banyak yang berakhir dengan kendaraan disita, dompet tiris, dan denda 100 ribu riyal. Bahkan ada yang bilang, mobilnya diganti jadi unta—eh, maksudnya diganti jalan kaki pulang.
Sedihnya, ada juga yang tewas karena dehidrasi. Innalillahi… semoga Allah ampuni dosanya. Dua orang lagi sedang kritis di rumah sakit, katanya karena terlalu semangat menyelinap sampai lupa minum air lima jam.
Lalu, apakah semua ini membuat mereka gentar?
Tentu tidak!
Justru semangat mereka semakin membara. Bukan karena logika, tapi karena dogma. Dogma dari para ustadz kilat, pedagang untung-untungan, dan penyeru jalan pintas menuju Ka’bah.
Kalau sudah “iman” dengan dalil:
“Kalau Allah sudah panggil, tak ada yang bisa menghalangi,”
maka denda, deportasi, bahkan kematian… bukan hambatan. Mereka merasa seperti pasukan jihad—bedanya, ini jihad menembus pagar Mekkah sambil bawa koper dan galon kosong.
Duit denda?
Bisa cari pinjaman.
Masalah masuk penjara?
Hitung-hitung i’tikaf versi panjang.
Dan bagi yang meninggal, itu syahid level “tanpa tiket”.
Kesimpulannya:
Kalau kamu belum pernah coba jalan ini, begitulah kira-kira rasanya. Deg-degan, penuh petualangan, dan sangat berisiko.
Tapi hey, kamu bisa bangga menyebut diri sebagai:
“Militan Haji Ilegal”
— berani, nekad, dan kebal razia.

