Multi Syarikah, Multi Masalah : 4 Catatan Penting Haji 2025

Multi Syarikah, Multi Masalah : 4 Catatan Penting Haji 2025

Multi Syarikah, dari Muassasah ke Astaghfirullah

Ada kalanya hidup itu seperti naik unta: lambat, bergetar, dan kadang nyasar ke arah yang tidak kita maksudkan. Dan jika Anda termasuk jamaah haji Indonesia tahun 2025, Anda tahu betul: ini bukan perumpamaan, ini realita. Begitulah kira-kira gambaran musim haji tahun 2025, ketika Indonesia yang biasanya kompak, tiba-tiba dipisah-pisahkan oleh kekuatan misterius bernama “Multi Syarikah”.

Tahun ini, Indonesia melangkah dari sistem muassasah tunggal ke sistem multi syarikah. Bahasa kerennya: diversifikasi layanan. Bahasa jujurnya: percobaan sosial berskala internasional dengan objek utamanya adalah orang-orang sepuh yang baru saja lulus manasik.

Bayangkan, satu rombongan berangkat bareng dari Solo, eh nyampainya seperti anak-anak kuliahan habis ospek: satu nginep di hotel bintang tiga, satu lagi di hotel bintang jatuh, lengkap dengan AC yang hidup segan mati tak tahu waktu—katanya hanya menyala saat azan, seolah ia pun ikut shalat.

Jamaah bingung. Keluarga terpisah. Koordinasi? Koordinasi? Ibarat nyari sandal hilang di Masjidil Haram—ada harapan, tapi lebih besar kemungkinan kecewa.

Dan lucunya, semua ini dilakukan atas nama “peningkatan layanan.”

Mengapa bisa begini? Karena tahun ini Arab Saudi memutuskan menerapkan sistem Multi Syarikah. Kalau tahun 2024 semua jamaah Indonesia ditangani satu muassasah—ibarat satu dapur, satu koki, dan semua orang dapat nasi kebuli—maka tahun 2025 seperti pesta pernikahan gotong royong: satu masak rendang, satu masak kare, satu lupa masak, satu malah demo di dapur.

Akibatnya? Jamaah terlantar di Arafah sampai malam, sebagian tidak kebagian tenda dan menjadikan tas sebagai bantal dan sajadah sebagai selimut. Beberapa mulai berspekulasi, “Ini haji apa camping pramuka sih?”

 

“Muzdalifah Maraton” dan Kaki Mabrur

Lepas dari Arafah, tibalah saatnya ke Muzdalifah. Kalau Anda pikir drama sudah selesai, Anda belum kenal haji 2025.

Di Muzdalifah, jamaah menanti bus seperti fans menunggu boyband Korea. Bedanya, kalau boyband terlambat, fans masih bisa fangirling sambil makan ciki. Ini? Jamaah kelaparan, kelelahan, dan mulai mendiskusikan alternatif profesi: “Kayaknya kalau balik ke Indonesia, saya daftar lomba jalan cepat aja deh…”
Karena bus tak kunjung datang, ribuan jamaah berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Ada yang pasrah, ada yang pasang niat ulang: “Bismillah, semoga tiap langkah jadi pahala. Dan semoga sandal ini awet sampai tenda.”

Seorang jamaah bahkan sempat nyeletuk, “Kita ini haji atau gladi resik untuk jalan kaki Bandung-Jakarta?”

Petugas Haji dan Teka-Teki Bahasa Amiyah

Sebenarnya kita tidak boleh menyalahkan semata-mata Multi Syarikah. Ada satu aktor penting di balik layar: koordinasi yang katanya ada tapi sering ngilang saat dibutuhkan. Seperti sinyal HP di dalam gua Hira.

Mari bicara soal petugas haji. Kita semua ingin dibantu orang yang mengerti medan, paham bahasa, dan tahu mana toilet dan mana tempat lempar jumrah. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya: petugas yang dipilih dengan metode Jalur Aku Kenal Pamannya dan Jalur Aku Hutang Budi Pada Ormasnya.

PPIH Indonesia dan PPIH Arab Saudi sebenarnya sudah bersalaman, berfoto, bahkan mungkin sudah tukar oleh-oleh. Tapi saat di lapangan? Wah, seperti LDR tanpa sinyal. Apalagi petugas lapangan di Arab Saudi kebanyakan bukan orang Arab, tapi ekspatriat dari Bangladesh dan Pakistan yang kalau ditanya “Jamaah Indonesia mana?” malah nyodorin minuman dingin sambil bilang, “Mafi malum, habibi!”
Orang Bangladesh dan Pakistan ini yang kadang cuma ngerti “Indonesia” dan “waiting”.

Lucunya, bahasa yang digunakan di sana bukanlah bahasa Arab fushah yang diajarkan di pesantren kita—yang penuh dengan i’rab, fi’il madhi, dan mumtaz—tapi bahasa amiyah, yang kalau kita dengar bisa bikin kita bingung apakah itu bahasa atau sandi rahasia mafia.

Nah, di sinilah kita melihat dampak dari perekrutan petugas haji yang sering disebut sistem ABS (Asal Bapak Suka) dan AOD (Asal Orang Dalam). Jangan kaget kalau petugas haji yang Anda tanya arah ke toilet malah ngajak selfie, karena dia sebenarnya lebih jago ngonten di medsos dari pada manajemen kebutuhan jamaah.
Maka tidak heran jika di lapangan, ada petugas yang lebih sibuk update Instagram dibanding bantu jamaah. Bahkan ada kisah heroik seorang ibu yang tersesat, lalu ditolong petugas, tapi akhirnya justru menolong balik karena petugasnya malah nanya balik: “Bu, ini ke arah mana ya?”

 

BPH dan Lobi Kelas Dewa: Mimpi atau Misi?
Kini estafet haji akan pindah tangan. BPH (Badan Pengelola Haji) yang berada langsung di bawah Presiden akan mengambil alih dari Kemenag, dengan Gus Irfan Yusuf dan Danil Azhar di barisan terdepan. Ini ibarat mengganti sopir di tengah padang pasir: kita butuh bukan hanya tahu arah, tapi tahu cara negosiasi dengan pemilik unta.
Ini juga semacam mengganti kapten kapal saat badai. Harapannya, kapten baru punya peta, kompas, dan sedikit ilmu sihir supaya bisa menaklukkan Arab Saudi—negeri yang kalau soal birokrasi, bisa bikin orang waras jadi rajin istighfar.

Lobi ke Arab Saudi tidak bisa lagi pakai gaya lembek ala iklan deterjen. Harus lobi kelas dewa, yang kalau ngomong ke petugas Saudi, mereka langsung jawab, “Naam, sayyidi!” dan bukan “Mafi malum.”

Danil wajib punya lobi kelas dewa. Karena menghadapi sistem di Arab Saudi bukan sekadar kirim surat permohonan atau menggelar forum resmi, tapi benar-benar perlu diplomasi yang licin, luwes, dan kalau perlu pakai pelicin. Hehehehe.

Ingat. Jangan lembek! Arab Saudi bisa sangat tegas. Kalau kita cuma jadi tamu manis yang mudah disetir, ya sudah—tiap tahun kita akan nonton drama berjudul: “Dari Arafah ke Mina: Perjalanan Panjang Menuju Kesabaran Hakiki.” dengan episode spesial: “Tidur Berbintang di Arafah” dan “Marathon Muzdalifah-Mina Tanpa Medali”.
Camkan ini buat para pengelola:

Haji mabrur tak harus dimulai dengan penderitaan. Kadang, cukup dimulai dari niat baik, manajemen yang waras, dan sedikit rasa malu.

 

Tahun Depan, Kita Bisa Lebih Baik (Kalau Mau Serius)

Haji bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah manajemen spiritual dan logistik dalam skala kolosal. Kalau kita tidak bisa bersatu dari sisi teknis, maka jangan heran jika jamaah kita merasa diuji bukan hanya oleh syariat, tapi oleh sistem itu sendiri.

 

Mabrur Tak Harus Menderita
Haji 2024 adalah bukti bahwa kita bisa kalau mau serius. Satu muassasah, satu koordinasi, satu komando—dan semua aman, nyaman, tenteram, hanya keringat yang jadi korban. Tapi 2025? Seperti sinetron dadakan: naskahnya belum siap, pemainnya belum latihan, penontonnya kelelahan.

Jangan ulangi 2025. Jangan korbankan jamaah demi uji coba sistem yang katanya modern tapi prakteknya lebih mirip skripsi anak semester akhir: banyak revisi, minim realisasi.

Semoga tahun 2026 jadi tahun kebangkitan. Bukan hanya dari sisi spiritual jamaah, tapi dari logistik dan manajemen. Cukup sudah jadi korban eksperimen. Jangan sampai haji yang harusnya mabrur, malah berubah jadi mabur (kabur) nyari tenda.

Dan terakhir, kepada para pengambil kebijakan: tolong jangan jadikan jamaah haji sebagai kelinci percobaan, apalagi kalau kelincinya disuruh jalan kaki 12 km pakai sandal hotel. Kasihan.

Kalau Arab Saudi bisa menyatukan jutaan orang dalam satu padang pasir, masa kita nggak bisa menyatukan satu kloter dalam satu hotel?

Kita tidak minta fasilitas mewah. Kita hanya ingin jamaah dihargai. Mereka sudah menabung puluhan tahun, belajar manasik, berdoa di setiap tahiyat akhir, dan menahan tangis saat pamit pada keluarga. Jangan biarkan mereka diuji lagi oleh tenda yang tak ada, bus yang tak datang, dan petugas yang hanya datang pas foto bersama.

Untuk semua pihak yang bertanggung jawab:
Jamaah itu bukan statistik. Mereka adalah manusia. Jangan biarkan mereka jadi korban sistem yang katanya sakral tapi prakteknya kocar-kacir.

Tahun depan: satu manajemen, satu cinta, satu tujuan—RAHMATAN LIL JAMAAH.

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *