“Negeri Uji Coba: Dari Laboratorium Dunia Menuju Eksperimen Abadi”

“Negeri Uji Coba: Dari Laboratorium Dunia Menuju Eksperimen Abadi”

Bab 1: Selamat Datang di Republik Uji Klinis

Selamat datang di Indonesia, negeri yang hangat bukan karena keramahan, tetapi karena suhu tubuh penduduknya yang naik turun karena infeksi menahun. TBC, misalnya. Di sini, penyakit menular bukan aib, tapi semacam warisan budaya. Sama seperti batik, hanya saja, batik tidak menular lewat udara.

Tapi jangan salah. Meski Indonesia bukan negara adikuasa, negeri ini punya satu keunggulan yang membuat dunia tak bisa menolak pesonanya: tingkat penderitaan yang konsisten. Dari malaria hingga demam berdarah, dari HIV hingga TBC, kami menyajikannya dalam jumlah statistik yang menggoda para peneliti dari negeri-negeri utara.

Tak heran, ketika Bill & Melinda Gates Foundation mengetuk pintu, Indonesia dengan senyum tulus—dan sedikit sesak napas—menyambut sebagian dari dana segar global sebesar USD 550 juta. Bukan untuk membuat vaksin sendiri, tentu saja. Hanya untuk menyediakan tubuh-tubuh bersahaja yang bisa dijadikan tempat uji coba vaksin TBC M72/AS01E. Tubuh-tubuh yang kuat menahan derita, lemah dalam negosiasi.

Bab 2: Epidemiologi, Investasi, dan Ironi

“Indonesia menjadi lokasi uji klinis karena beban TBC-nya tinggi,” kata para ahli. Tapi jangan terburu-buru menganggap itu hal buruk. Justru, beban penyakit yang besar adalah aset nasional. Di negeri lain, mereka berebut menjual komoditas unggulan seperti minyak, gas, atau teknologi. Indonesia? Kami menjual peluang penderitaan. Kami tawarkan nyawa per kepala dalam bentuk statistik.

Setiap hari, 343 orang meninggal karena TBC. Itu bukan kegagalan sistem, itu adalah data. Dan di tangan yang tepat, data bisa menjadi proposal proyek. Investasi global datang bukan karena kita kuat, tapi karena kita cukup lemah untuk bisa “dibantu.” Sungguh seni diplomasi yang elegan.

Bab 3: Mengenang Masa Lalu yang Tak Dikenal

Pernahkah Anda mendengar bahwa Indonesia dulu memproduksi vaksin BCG sendiri? Ya, pada tahun 1970-an, negeri ini sempat menunjukkan taring. Tapi taring itu kemudian dicabut secara sukarela, diganti dengan sertifikat “negara berkembang” yang menandakan kita lebih senang menerima daripada membuat.

Kini, India punya VPM1002. China punya rekombinan BCG. Sementara Indonesia? Kami punya kenangan akan masa lalu dan harapan akan proposal riset yang disetujui lembaga donor. Kami memilih menjadi tuan rumah, bukan pemilik rumah. Kami bangga ketika laboratorium asing datang, meski hanya untuk meminjam rakyat kami sebagai kelinci percobaan.

Bab 4: Menuntut Transfer Teknologi, Tapi Jangan Terlalu Serius

Dalam setiap pertemuan diplomatik, kata “transfer teknologi” sering disebutkan. Itu semacam mantra. Diucapkan untuk menunjukkan keseriusan, meski semua tahu, itu hanya bumbu penyedap. Transfer teknologi adalah seperti janji mantan: sering terdengar, jarang terwujud.

Kita bisa menuntut adjuvan AS01E, tapi siapa yang benar-benar paham cara membuatnya? Kita bisa kirim ilmuwan ke Gates MRI, tapi apa kabar dana riset dalam negeri yang menguap sebelum menyentuh pipet laboratorium? Kita ingin teknologi, tapi bahkan alat centrifuge saja kita beli bekas dari luar negeri.

Bab 5: Vaksin Merah Putih dan Ilusi Mandiri

Ah, vaksin Merah Putih! Simbol kedaulatan, lambang kemandirian! Sayangnya, seperti banyak simbol lain di negeri ini, lebih sering dipajang daripada digunakan. Ketika pandemi COVID-19 melanda, kita bicara soal “kemandirian vaksin,” tapi yang datang lebih cepat adalah vaksin hibah, bukan hasil riset sendiri.

Vaksin Merah Putih lebih sering tampil di spanduk dan konferensi pers ketimbang dalam botol vial. Namun, kita tetap bangga. Karena di negeri ini, pencitraan adalah separuh dari solusi. Separuh lainnya adalah doa.

Bab 6: Infrastruktur Riset: Mimpi dalam Formulir Pengadaan

Apa kabar BSL-3?   Indonesia sudah memiliki beberapa laboratorium BSL-3, termasuk di LIPI (sekarang BRIN), Universitas Airlangga, dan Bio Farma. Namun, distribusinya tidak merata dan kapasitasnya terbatas.

Intinya kita sudah punya rencana. Banyak rencana. Rencana pembangunan, rencana pengadaan, rencana seminar, rencana studi banding. Di negeri ini, infrastruktur riset lebih banyak dibahas dalam proposal daripada diwujudkan dalam beton.

Jika vaksin adalah senjata, maka kita sedang berperang dengan bambu runcing melawan misil biologis. Kita tidak kalah, hanya belum menang. Dan selama menunggu, kita bisa jadi lokasi uji klinis lagi. Setidaknya itu pekerjaan yang pasti datang tiap dekade.

Bab 7: Ekonomi Tuberkulosis

Kerugian ekonomis akibat TBC mencapai 136,7 triliun rupiah per tahun. Tapi siapa yang menghitung? Angka besar di negeri ini biasanya tidak membuat panik, kecuali jika menyangkut subsidi bahan bakar atau gaji pejabat. Nyawa rakyat? Bisa dihitung sebagai “externalities.”

Dengan vaksin efikasi 50%, kita bisa mencegah ratusan ribu kasus. Tapi kalau vaksin itu nantinya diproduksi oleh negara lain dan kita tetap harus beli dengan harga dolar, apa bedanya? Kita tetap jadi pelanggan setia dalam pasar penderitaan global.

Bab 8: Jangan Ulangi Vaksin HPV

Vaksin HPV, oh vaksin HPV. Efektif, tapi mahal. Mencegah kanker serviks, tapi hanya untuk yang mampu membayar. Vaksin menjadi semacam produk premium, seperti skincare impor: ampuh, tapi hanya untuk yang punya kartu kredit.
Untungnya  Pemerintah Indonesia sudah memulai program imunisasi HPV gratis untuk anak sekolah perempuan kelas 5 dan 6 SD sejak 2022. Namun memang cakupan nasional belum merata dan vaksin di luar skema itu masih tergolong mahal.

Sekarang vaksin TBC akan datang. Jika sejarah mengulang, maka vaksin ini akan masuk dalam katalog yang sama: tersedia, tapi tidak terjangkau. Tentu, akan ada program bantuan, tapi sebaik-baiknya bantuan adalah tidak butuh bantuan.

Bab 9: Sejarah Baru, Atau Ulangan Lama?

Indonesia punya kesempatan mencetak sejarah baru. Tapi negeri ini juga punya kebiasaan kuat mengulang babak yang sama. Kita bisa mendorong ASEAN untuk bersama mengembangkan vaksin. Tapi untuk itu, kita harus lebih dulu berhenti bersaing soal siapa yang paling banyak mendapat donor.

Kedaulatan kesehatan bukan hadiah. Ia tidak dijatuhkan dari langit seperti hujan proyek. Ia harus direbut. Tapi siapa yang akan merebutnya? Apakah birokrat yang lebih sibuk menyusun laporan ketimbang membaca jurnal ilmiah? Apakah ilmuwan yang gajinya kalah dari pengemudi ojek daring?

Bab 10: Epilog – Negeri Uji Coba Abadi

Jadi, mari kita rayakan. Indonesia kembali dipilih sebagai lokasi uji klinis vaksin internasional! Bendera kecil bisa dikibarkan, sambutan bisa disusun, dan media bisa menulis dengan tajuk berbunga: “Bukti Kepercayaan Dunia!”

Tentu, di balik itu, ada tubuh-tubuh yang akan disuntik, data-data yang akan diproses, dan keputusan-keputusan besar yang akan dibuat… di luar negeri. Kita akan menonton dari pinggir, sambil sesekali bertepuk tangan jika nama Indonesia disebut dalam publikasi ilmiah.

Dan seperti biasa, kita akan berkata: “Yang penting kita ikut berkontribusi.” Karena di negeri ini, ikut-ikutan dianggap pencapaian.

Bab 11: Magang Ke Luar Negeri, Pulang dengan Sertifikat

Program magang peneliti Indonesia ke Gates MRI terdengar sangat menjanjikan. Konon, mereka akan belajar langsung tentang pengembangan vaksin TBC dari hulu ke hilir. Tapi, seperti biasa, setelah selesai, mereka akan pulang dengan dua hal: sertifikat pelatihan dan segunung frustrasi.

Kenapa frustrasi? Karena ilmu yang mereka bawa pulang akan berhadapan dengan sistem yang mengutamakan birokrasi dibandingkan inovasi. Di negeri ini, formula yang paling efektif bukan AS01E, tapi ASDP (Administrasi Sebagai Dasar Pengambilan-keputusan). Peneliti yang pulang dari luar negeri akan diminta membuat laporan, lalu terjebak dalam pengadaan alat yang tak kunjung datang, sambil tetap berdoa bahwa dana hibah tidak dikembalikan ke kas negara karena tak terserap.

Sementara itu, publik menonton dengan kebingungan. “Kenapa kita nggak bikin vaksin sendiri, ya?” tanya seseorang sambil menyeruput kopi sambil menonton sinetron berjudul ‘Dokter Cinta dan Laboratorium Patah Hati’.

Bab 12: Dana Abadi Riset—Antara Ide Besar dan Rekening Kosong

Dana abadi riset adalah mimpi indah dari kalangan akademik. Bayangkan, satu pundi keuangan abadi untuk mendanai riset anak bangsa—tanpa perlu rebutan anggaran dengan kementerian yang lebih suka membangun tugu. Tapi mimpi tetaplah mimpi.

Setiap tahun, para ilmuwan mengusulkan, dan setiap tahun pula usul itu dikembalikan dengan catatan: “Perlu kajian lebih lanjut.” Sayangnya, yang dimaksud ‘kajian’ di sini bukan riset, melainkan lobi politik dan kesiapan menyisipkan jargon “ekonomi hijau, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat” ke dalam proposal.

Jadi, sementara laboratorium kehabisan reagen, para peneliti kita sibuk mencari sinonim dari “inovatif” yang bisa diterima oleh reviewer APBN.

Bab 13: ASEAN—Kerjasama yang Tak Pernah Disepakati

Ada usulan mulia: mengembangkan vaksin TBC bersama negara-negara ASEAN. Sebuah ide luar biasa jika saja ASEAN tidak memiliki bakat luar biasa untuk bersatu hanya dalam urusan kuliner dan sepak bola.

Setiap negara punya prioritas masing-masing, dan solidaritas regional sering kali kalah oleh nasionalisme recehan. Thailand ingin jadi pusat inovasi, Vietnam fokus pada manufaktur, Malaysia sibuk dengan diplomasi halal vaksin, dan Indonesia… masih menunggu anggaran disetujui.

Kalau ASEAN adalah satu tubuh, maka kepala sedang berdiskusi, tangan menulis laporan, kaki sibuk ke luar negeri studi banding, dan perut… lapar anggaran.

Bab 14: Laporan Proyek dan Seni Membuat Presentasi

Tak lengkap rasanya jika proyek kesehatan tak disertai presentasi. Indonesia ahli dalam menyulap data menjadi infografis menarik. Meski dampaknya minim, asal warnanya cerah dan layout-nya simetris, semua akan terlihat seperti keberhasilan.

“Cakupan uji klinis meningkat 20%,” kata satu slide. Tidak dijelaskan bahwa itu karena jumlah peserta bertambah, bukan karena efisiensi meningkat. Tapi siapa peduli? Selama grafiknya menanjak dan ada stempel lembaga asing, maka kesan profesional sudah terbentuk.

Kita tidak tertinggal, kita hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk beranjak. Kata siapa? Kata template PowerPoint Kementerian.

Bab 15: TBC dan Beban Ganda Kesehatan Nasional

TBC di Indonesia seperti tamu tak diundang yang menolak pergi. Ia menyatu dalam kehidupan sehari-hari: di angkot, di rumah sempit perkotaan, bahkan di kantor. Namun, anehnya, ia tak pernah muncul sebagai prioritas politik.

Beban ganda yang ditanggung generasi mendatang bukan hanya penyakit, tapi juga sistem kesehatan yang loyo dan budaya birokrasi yang gemuk. Di masa depan, anak-anak akan belajar bahwa TBC bukan hanya soal bakteri, tapi juga soal ketidakberanian mengambil keputusan hari ini.

Dan ketika vaksin TBC hadir, harganya akan cukup mahal untuk mendorong masyarakat kembali pada pengobatan herbal dan video YouTube dari ‘dokter alternatif’.

Bab 16: “Merdeka dari TBC”, Tapi Tidak dari Ketergantungan

Setiap tahun, kampanye “Bebas TBC” digelar. Ada seminar, ada lomba poster, ada pembagian masker. Tapi tidak ada perubahan struktural yang signifikan. Kita merdeka secara simbolik, tapi tetap terjajah dalam rantai pasok global.

Indonesia tidak belajar bahwa kemandirian bukan dibeli, tapi dibangun. Sementara negara lain memperkuat ekosistem inovasi, kita sibuk menyewa konsultan luar negeri agar terlihat modern. Padahal kemandirian vaksin tidak memerlukan perayaan, tapi konsistensi. Sesuatu yang sulit dicapai kalau anggaran riset berubah sesuai siapa yang menjabat.

Bab 17: Transfer Teknologi: Jargon Seribu Konferensi

Transfer teknologi sudah seperti mantra. Diucapkan di podium, dipajang di MoU, tapi jarang turun ke laboratorium. Bahkan ketika ada pelatihan, yang dipelajari hanyalah cara menggunakan mesin yang tidak pernah kita beli.

Kadang, kita mendapatkan teknologi. Tapi manualnya dalam bahasa Jerman, dan teknisinya sudah pulang. Jadi kita kembali pada cara lama: impor.

Jika teknologi adalah pohon, maka kita hanya diberi biji tanpa lahan. Dibiarkan menanam di aspal dan berharap keajaiban terjadi.

Bab 18: Dari “Pilot Project” ke “Failed Project”

Indonesia terkenal sebagai tempat pilot project. Semua lembaga internasional suka memulai proyek di sini. Tapi seperti banyak pilot di negeri ini, proyek itu sering mendarat darurat karena kehabisan bahan bakar politik.

Proyek uji vaksin pun sama. Dimulai dengan antusiasme, diakhiri dengan evaluasi yang tidak dibaca. Kita pandai memulai, tapi enggan menyelesaikan. Seperti membangun rumah setengah jadi dan berharap investor melanjutkan pembangunannya.

Ujung-ujungnya, kita hanya mendapat pelajaran: bahwa menjadi kelinci percobaan ternyata bukan jalan menuju kedaulatan, melainkan tiket langganan menjadi subjek eksperimen selanjutnya.

Bab 19: Rakyat yang Sabar, Negara yang Tidak Belajar

Mengapa semua ini terus terjadi? Karena rakyat Indonesia sangat sabar. Saking sabarnya, mereka bisa menunggu vaksin sambil tetap bekerja dengan batuk berdahak. Mereka bisa hidup di rumah sempit sambil membaca brosur “Hidup Sehat Tanpa TBC.”

Tapi kesabaran ini justru membuat negara tidak belajar. Karena tidak ada protes besar, maka tidak ada urgensi. Pemerintah senang, donor senang, statistik melayang.

Di negeri ini, penderitaan adalah hal biasa. Dan dalam kebiasaan itulah, kekacauan menjadi status quo.

Bab 20: Penutup—Dari Eksperimen ke Eksistensi

Indonesia hari ini berada di persimpangan sejarah. Kita bisa memilih tetap menjadi laboratorium hidup dunia—atau mulai menjadi pengembang, penentu arah, dan pemilik keputusan.

Tapi semua itu butuh keberanian. Bukan keberanian untuk tampil di forum internasional, tapi untuk berinvestasi pada rakyat sendiri. Bukan keberanian membuat narasi heroik, tapi untuk mengakui kegagalan dan memperbaikinya.

Jika vaksin M72/AS01E berhasil, jangan biarkan itu menjadi cerita sukses orang lain yang kebetulan terjadi di tanah kita. Jadikan itu batu loncatan untuk tidak lagi menjadi objek, tapi subjek.

Karena bangsa yang terus diuji tapi tak pernah membangun laboratoriumnya sendiri, adalah bangsa yang abadi dalam status coba-coba.

 

Beberapa bagian dari tulisan ini disampaikan dalam gaya satir, hiperbola, dan ironi untuk menyoroti kegagalan sistemik dalam riset dan kesehatan di Indonesia. Data dan kutipan diambil dari laporan resmi, berita, dan publikasi lembaga nasional maupun internasional, serta disesuaikan konteks naratifnya.

📌 DAFTAR CATATAN KAKI & KUTIPAN

  1. Indonesia sebagai lokasi uji klinis vaksin TBC M72/AS01E
    → Gates MRI & GSK, “Gates MRI Advances Phase 3 Trials of M72/AS01E in High-Burden Countries”, GatesMRI.org (2023).
    → Indonesia terlibat melalui kerja sama dengan Kemenkes dan sejumlah lembaga riset lokal.
    → Dana USD 550 juta adalah alokasi global, termasuk Indonesia.
  2. Data 343 kematian per hari akibat TBC di Indonesia
    → WHO Global Tuberculosis Report 2023.
    → Estimasi WHO untuk Indonesia: 134.000 kematian per tahun. Dibagi 365 hari ≈ 367 kematian/hari.
    https://www.who.int/publications/i/item/9789240078020
  3. Produksi vaksin BCG dalam negeri (era Orde Baru)
    → Bio Farma, “Sejarah Vaksinasi di Indonesia”, biofarma.co.id
    → Produksi vaksin BCG dimulai sejak 1954, aktif sepanjang 1970–1990-an.
  4. Transfer teknologi yang mandek atau hanya formalitas
    → AIPI, “Peta Jalan Sains Indonesia”, 2018.
    → Banyak MoU riset internasional tidak disertai penguatan produksi atau rekayasa teknologi lokal.
  5. Vaksin Merah Putih belum selesai, ketergantungan vaksin COVID-19 hibah
    → Kompas, “Proyek Vaksin Merah Putih Masih Jalan di Tempat”, 2023.
    → Kemenkes RI, “Sekitar 70% vaksin COVID-19 awal berasal dari hibah negara asing/donor”.
  6. BSL-3 di Indonesia masih terbatas
    → BRIN dan Kemenkes telah memiliki beberapa BSL-3, tetapi belum merata secara geografis.
    → LIPI, “Peta Laboratorium Keamanan Hayati di Indonesia”, 2021.
  7. Kerugian ekonomi TBC capai 136,7 triliun/tahun
    → Kemenkes RI, “Kerugian Ekonomi Akibat TBC”, Siaran Pers, 2022.
    → Estimasi ini termasuk biaya kesehatan, kehilangan pendapatan, dan kematian produktif usia muda.
  8. Vaksin HPV dan kesenjangan akses
    → Kemenkes RI, “Program Imunisasi HPV Gratis Nasional”, 2022–2023.
    → Meski gratis untuk sebagian anak SD, cakupannya belum merata secara geografis.
  9. Dana Abadi Riset dan ketimpangan pembiayaan inovasi
    → Laporan Bappenas 2023 dan LPDP. Dana abadi riset mulai dioperasikan, tapi mayoritas dana digunakan untuk beasiswa, bukan pembiayaan riset berbasis kebutuhan lokal.
  10. Kritik terhadap birokrasi dan proyek riset jangka pendek
    → Tempo, “Riset Jadi Korban Pergantian Menteri dan Program Politik”, 2022.
    → Laporan World Bank, “Research and Innovation in Indonesia”, 2021.

 

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *