Satu Cangkir Teh Dua Ego Manusia

Meja makan itu pernah jadi tempat tawa. Kini hanya terdengar sendok yang bergesekan dengan piring dan suara jam dinding. Maya duduk di ujung meja, Budiman di seberangnya. Satu meter jarak, tapi rasanya seperti satu benua.

“Tehnya kurang manis,” kata Budiman tanpa menatap Maya.

Maya berhenti mengunyah. “Gula ada di meja. Kamu bisa tambah sendiri.” Datar. Dingin. Bahkan tak peduli.
Budiman menekan napasnya. Ingin membalas, tapi ia tahu ujungnya akan jadi perdebatan lagi. Jadi ia diam.

Maya menggigit roti bakarnya keras-keras, seperti ingin melampiaskan amarah pada roti tawar yang tak tahu apa-apa. Mereka sudah tiga bulan seperti ini. Tidak ada pertengkaran besar. Tapi juga tidak ada kehangatan. Rumah ini seperti panggung sandiwara – mereka berperan sebagai suami istri, tapi kehilangan naskah cinta.

——-

Maya sering mengulang-ulang dalam hatinya: “Kita hampir cerai… bukan karena nggak cinta. Tapi karena nggak bisa ngobrol tanpa saling nyakitin.”

Dulu, semuanya mengalir. Mereka bisa menghabiskan malam hanya untuk berbicara tentang mimpi-mimpi, tentang masa kecil, atau tentang buku yang sedang dibaca. Sekarang, satu kalimat bisa berubah jadi peluru.

Contohnya? Tisu toilet. Suatu malam, Maya minta tolong Budiman beli tisu sepulang kantor. Budiman lupa. Maya kesal.

“Selalu aja begitu! Aku tuh gak dianggap!” katanya sambil membanting belanjaan.

Budiman tersinggung. “Cuma tisu, Maya. Masa kamu nyamain itu dengan rasa dihargai atau nggak?”

Lalu berlanjut ke topik-topik lain, yang sebenarnya sudah lama mengendap: perhatian yang kurang, waktu yang sedikit, luka yang tak pernah sempat dibalut.

Semua berawal dari hal remeh. Tapi karena tidak pernah benar-benar dibicarakan, masalah kecil menjadi jurang besar.

——-

Ego mereka seperti dua ekor harimau lapar dalam satu kandang. Tak satu pun mau mengalah lebih dulu.

Budiman selalu merasa ia cukup memberi: bekerja keras, membayar semua tagihan, pulang tepat waktu.

Maya merasa semua itu tak cukup tanpa komunikasi. Apa gunanya semua fasilitas kalau ia merasa sendirian dalam pernikahan?

Mereka pernah coba ke konselor. Tapi hanya bertahan dua kali pertemuan. Keduanya keluar dengan dada sesak karena merasa diserang.

“Aku capek terus disalahin,” kata Budiman.

“Aku juga capek selalu jadi yang mengalah,” balas Maya.

Mereka bahkan pernah duduk berdua di meja pengacara. Tapi saat diminta mengisi alasan perceraian, keduanya hanya terdiam.

“Kenapa kalian ingin berpisah?” tanya pengacara.

Tak ada jawaban pasti. Yang mereka tahu: mereka saling cinta, tapi terus menyakiti.

——-

Titik balik datang bukan dari kata-kata bijak. Bukan dari sesi terapi. Tapi dari satu malam yang sederhana.

Hujan turun deras. Listrik mati. Maya berjalan ke dapur dengan senter. Budiman duduk di sofa, hanya diterangi cahaya lilin.
“Aku buat teh, kamu mau?” tanya Maya lirih. Budiman mengangguk.
Maya menyeduh dua cangkir teh panas, lalu duduk di samping Budiman. Tidak ada televisi, tidak ada ponsel. Hanya hujan dan dua cangkir teh.

Butuh beberapa menit sebelum salah satu dari mereka bicara. “Maya aku kangen kamu,” ucap Budiman pelan.
Maya terdiam. Matanya memanas. Ia menatap cangkir teh, lalu menoleh pada Budiman. “Aku juga. Tapi aku takut bicara. Takut salah lagi. Takut nyakitin kamu lagi.”
Budiman menggenggam tangan Maya. “Kita bisa belajar bicara lagi, ya? Pelan-pelan aja. Tapi jangan diem seperti ini terus. Rasanya… sepi.”

Maya mengangguk. Malam itu, mereka bicara. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk saling mendengarkan.

Hujan malam itu mengantar Maya ke masa lalu.

Dulu, mereka suka duduk di beranda, berbagi cerita sambil menyeruput kopi. Bukan kopi mahal, hanya kopi sachet yang mereka seduh di gelas kaca. Tapi rasanya istimewa karena mereka tertawa bersama.

Maya masih ingat ketika Budiman melamarnya. Sederhana. Di dapur kos Maya, dengan cincin murah dan nasi goreng buatan sendiri.

“Kalau kamu jadi istriku, aku janji akan selalu dengerin kamu – bahkan kalau kamu marah sekalipun,” kata Budiman saat itu.

Maya tertawa geli. “Kamu janji bakal nyapu juga nggak?”

Budiman tersenyum. “Nyapu, nyuci, asal bareng kamu, aku mau.”

Mereka pernah begitu ringan, begitu lucu. Tidak ribet, tidak penuh prasangka.
Tapi waktu menggerus itu semua. Rutinitas membunuh spontanitas. Beban hidup membuat tawa mereka makin jarang.

Maya pernah membaca bahwa cinta itu bukan hanya perasaan, tapi juga keterampilan. Harus dilatih. Harus dirawat. Tapi siapa yang punya waktu untuk itu, ketika pekerjaan menumpuk, tagihan datang, dan emosi mudah naik karena lelah?

“Dulu kamu suka peluk aku tiap pagi,” kata Maya suatu malam ketika mereka mencoba ngobrol lagi. “Kamu juga dulu suka bisikin doa buat aku tiap mau berangkat kerja,” balas Budiman.
Mereka saling menyadari: mereka bukan kehilangan cinta – mereka hanya kehilangan bahasa cinta masing-masing.

Maya butuh didengar. Budiman butuh dihargai. Tapi mereka bicara dalam bahasa yang berbeda.
——-

Tanpa konselor, tanpa buku panduan, Maya dan Budiman membuat kesepakatan kecil: bicara lima menit setiap malam, tanpa menyela. Hanya mendengarkan.

Di awal, terasa canggung. Tapi perlahan, kepercayaan tumbuh.

Maya mulai bercerita tentang kegelisahannya, tentang rasa kesepian meski serumah.

Budiman mulai mengungkap ketakutannya – bahwa ia merasa gagal jadi suami yang membuat istri merasa aman dan dicintai.

Pelan-pelan, mereka belajar menyentuh luka masing-masing, tanpa menyakiti.

——-

Tiga bulan setelah malam teh dan hujan itu, Budiman menemukan sebuah surat di dalam laci meja makan. Tulisannya tangan Maya.

“Kalau kamu baca ini, artinya aku masih cinta.

Tapi mungkin aku butuh jarak untuk mencintaimu tanpa sakit.
Kadang aku merasa kita sembuh, tapi ternyata hanya menunda luka berikutnya. Aku mau pulang tapi bukan ke rumah. Ke hati kita yang dulu. Dan kalau kamu juga mau pulang ke sana, temui aku di tempat pertama kita ketemu, hari Sabtu jam 5 sore.”

Budiman tertegun. Laci itu biasanya dia abaikan. Tapi entah kenapa hari itu ia buka.

Hari Sabtu itu, Budiman pergi ke tempat itu – sebuah taman kecil dekat halte bus, tempat mereka pertama kali bertemu saat sama-sama kuliah.

Ia menunggu. Setengah jam. Satu jam. Maya tak muncul.
Budiman mulai panik. Ia menelepon Maya – tak aktif. Ia kembali ke rumah, mencoba tetap tenang.
Di meja makan, ada surat kedua. Kali ini, amplopnya biru. Budiman membuka dengan tangan gemetar.

“Maaf aku nggak datang.

Karena ternyata… aku sudah di sana lebih dulu.

Dalam doa.
Dalam diam.

Aku sadar, selama ini kita sibuk menyelamatkan pernikahan… tapi lupa menyelamatkan diri sendiri. Aku akan pergi sebentar. Ke rumah ibuku di Yogya. Aku mau belajar mencintaimu lagi – dari jauh. Tapi jangan khawatir, aku nggak pergi untuk menghilang. Aku pergi supaya nanti, kalau aku kembali, aku pulang dalam bentuk yang lebih baik.
Kalau kamu masih di sini waktu aku kembali, kita mulai dari awal.

Kalau kamu sudah pergi… aku akan tetap bersyukur pernah punya cinta seperti kamu.” Budiman duduk diam. Surat itu seperti hantaman pelan tapi dalam.

——-

Rumah terasa seperti museum. Semua benda ada, tapi jiwanya hilang.
Budiman baru sadar: selama ini Maya tidak butuh rumah yang rapi atau gaji besar. Ia hanya butuh kehadiran yang sungguh-sungguh. Bukan hanya tubuh yang pulang, tapi juga hati.

Budiman mulai mencari artikel tentang komunikasi dalam pernikahan. Berkonsultasi diam-diam ke psikolog.

Ia belajar mencintai tanpa ingin menang. Menerima tanpa ingin mengubah.

——-

Tiga bulan kemudian, Budiman menerima pesan singkat: “Aku di depan pintu. Boleh masuk?”
Ia membuka pintu.

Maya berdiri di sana. Tidak bawa koper. Hanya tas selempang dan senyum yang lama hilang. “Kalau kamu masih mau ngobrol aku mau dengar,” kata Maya.
Budiman menarik napas. “Kali ini, aku nggak akan menyela. Masuklah.” Maya masuk. Duduk. Mereka saling menatap.
Hening sebentar.

Lalu Maya tertawa kecil. “Lucu ya. Masalah kita tuh kecil banget sebenernya.”

Budiman ikut tersenyum.

“Tapi egonya besar banget.” Lanjut Maya.

“Banget.” jawab Budiman.

——-
Beberapa bulan kemudian, Maya dan Budiman membuka lembar baru. Lebih hangat. Lebih jujur. Lebih tenang.

Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang hanya Maya simpan sendiri.

Bahwa dia sebenarnya gak pernah ke rumah ibu. Dia ke psikiater, karena merasa mulai kehilangan diri sendiri.
Hampir depresi. Bahkan sempat berpikir untuk pergi selamanya. Tapi dia ingat: Budiman bukan musuh. Dia cuma sama capeknya.
Jadi dia sembuhkan dirinya dulu. Karena dia sadar gak bisa nyelametin pernikahan kalau dirinya sendiri tenggelam.”

Ia tak punya niat memberi tahu Budiman.

Karena kadang, cinta bukan soal berapa kali kita bertahan untuk orang lain.

Tapi seberapa jauh kita mau menyelamatkan diri sendiri, agar bisa kembali – dengan utuh.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *