Selendang Senja

Selendang Senja

Langit sore menggelap lebih cepat dari biasanya. Hujan turun seperti amarah yang ditumpahkan dari langit, menghantam atap rumah-rumah, jalanan kota, dan satu hati yang mulai lelah—milik Dara.

Dara duduk di depan cermin dengan selendang merah jambu tergantung di ujung ranjang. Selendang itu dulu diberikan ibunya saat Dara menikah dengan Arya. “Agar rumah tanggamu sehangat warna ini,” kata ibunya sambil tersenyum, belum tahu bahwa warna itu justru akan jadi simbol luka yang diam-diam mengering.

Sudah lima tahun pernikahan itu berlangsung, dan setiap tahunnya Dara makin lupa bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat. Arya bukan lelaki yang kasar di luar. Ia tampan, punya jabatan, sopan pada tetangga, dan murah senyum saat bertemu kerabat. Tapi di balik pintu yang tertutup, ia menjelma musim dingin tanpa ampun.

“Apa kamu lupa nyetrika bajuku lagi?” tanyanya suatu malam. Suaranya tenang, nyaris seperti orang bertanya arah jalan.

Dara mengangguk. “Maaf, aku—”

Tamparan itu datang begitu cepat, nyaris tak memberi waktu untuk bernapas. “Kamu ini istri atau pembantu?”

Setiap luka ditutupi concealer, setiap air mata dibersihkan sebelum anak mereka, Nara, bangun dari tidur siangnya. “Ayah capek kerja, jangan bikin masalah,” kata Arya, selalu begitu. Dara belajar bahwa diam adalah cara paling aman untuk bertahan hidup. Tapi diam terlalu lama membuatnya kehilangan suara. Bahkan pada dirinya sendiri.


Dulu, sebelum semuanya dimulai, Dara adalah perempuan yang penuh tawa. Ia mencintai kopi pahit, puisi, dan langit senja. Ia punya impian sederhana: membuka toko bunga kecil di dekat sekolah, menjual mawar dan melati sambil menyapa anak-anak pulang sekolah.

Tapi usia 28 dianggap terlalu tua oleh tetangga dan keluarga. “Kapan nyusul?” “Jangan milih-milih, perempuan itu ada masa kadaluarsanya.” Kalimat-kalimat itu jadi tamu tetap setiap hari raya. Sampai akhirnya Arya datang. Tampan, mapan, dan katanya “saleh”.

Dara tak cinta, tapi ia lelah dianggap aneh.

Mereka menikah dalam waktu tiga bulan. Semua terlihat manis di foto. Sampai hari-hari menjadi minggu, dan bulan menjadi tahun—dan Dara mulai menghapus satu per satu mimpinya seperti mencoret daftar belanja. Toko bunga? Tidak sempat. Puisi? Sudah bertahun tak menulis. Senja? Arya tak suka perempuan keluyuran tanpa alasan.

Yang tersisa kini hanyalah tubuh yang menyimpan semua, dan selendang merah jambu itu, yang makin lusuh dan kehilangan warna.


Suatu malam, setelah cekcok panjang soal nasi yang terlalu lembek, Arya keluar rumah. Dara duduk di pojok dapur, tubuhnya gemetar, napasnya sesak. Nara tidur di kamar, tak tahu bahwa ibunya hampir kehilangan akal sehat.

Ia membuka lemari, mengambil selendang itu, dan memeluknya seperti pelampung. Di ujung selendang, ada benang yang nyaris putus. Ia menatapnya lama, lalu berkata lirih pada bayangannya di lantai, “Apa aku harus terus begini sampai mati?”

Hening menjawab.

Pagi harinya, Dara membawa Nara ke rumah ibunya. Ia bilang ingin menginap dua hari karena Arya sedang dinas ke luar kota. Ibunya, yang mulai curiga dengan wajah Dara yang makin pucat dan sikapnya yang makin pendiam, hanya mengangguk. Tapi malam itu, ia mengintip saat Dara menangis diam-diam di balkon.

“Ra, kamu bahagia?” tanyanya perlahan.

Dara tak menjawab. Tapi air mata itu sudah cukup jadi jawaban.


Esoknya, saat Nara bermain dengan sepupunya, ibunya mengajak Dara bicara. Ia menunjukkan artikel dari ponsel: “Wanita Bunuh Diri Karena Kekerasan Rumah Tangga.” Kemudian berkata, “Jangan jadi berita, Ra. Kalau memang dia bukan tempatmu pulang, kamu punya rumah di sini.”

Dara menangis pecah. Lima tahun tangis itu terperangkap, dan pagi itu ia biarkan semuanya jatuh tanpa malu.

Ia tak langsung menggugat cerai. Tidak semudah itu. Dunia tak memihak perempuan yang meninggalkan pernikahan. “Kan kamu udah dinikahin baik-baik, kok tega ninggalin suami?” “Sabar, semua rumah tangga pasti ada masalah.” Kalimat-kalimat itu seperti pagar berduri yang menjebaknya kembali ke luka.

Tapi ia bertahan, pelan-pelan. Ia kumpulkan bukti. Ia bicara dengan Lembaga Bantuan Hukum. Ia mulai menulis lagi, satu dua puisi pendek tentang langit dan luka. Ia bahkan diam-diam mengikuti kelas daring tentang floristry.

Dan akhirnya, dengan satu napas panjang, ia menggugat.

Arya mengamuk, tentu saja. Ia menuduh Dara mempermalukannya. Tapi semua terbukti. Hakim berpihak pada Dara. Ia menang, meski tubuhnya masih menyimpan trauma yang tak bisa dihapus sidik jari.


Tiga tahun berlalu.

Hari ini, toko bunga milik Dara resmi dibuka. Di kaca depan tertulis: “Selendang Senja – Bunga untuk Mereka yang Bertahan.” Nama itu ia ambil dari selendang merah jambu yang kini dipigura di dinding toko, sebagai pengingat luka dan kebangkitan.

Nara sudah sekolah dasar sekarang. Ia membantu ibunya menyusun bunga, dan tiap sore mereka duduk di bangku kayu, menatap langit yang mulai jingga.

Banyak yang datang ke toko itu bukan hanya untuk beli bunga, tapi juga untuk bicara. Ada perempuan muda yang baru saja kabur dari pacar abusif. Ada ibu rumah tangga yang ingin cerai tapi takut dicap buruk. Ada janda yang baru kehilangan suami dan merasa hampa.

Dara mendengarkan mereka semua. Ia tidak selalu memberi saran, kadang hanya peluk. Tapi pelukannya bukan sembarang peluk. Ia tahu, kadang perempuan hanya butuh satu kalimat: “Kamu tidak salah.”


Malam itu, Dara menulis di jurnal kecilnya:

Tidak ada sejarahnya perempuan mati karena telat menikah. Tapi aku tahu rasanya hampir mati karena menikah dengan lelaki yang salah.
Hari ini aku hidup. Utuh. Luka itu masih ada, tapi ia tidak lagi memenjarakan.
Selendangku kini tergantung, bukan di leher atau pundak, tapi di dinding keberanian.

Untuk semua perempuan yang memilih bertahan hidup, meski harus kehilangan segalanya lebih dulu—aku melihat kalian.
Kalian berharga.
Kalian pantas bahagia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *