Ada satu senja yang tak pernah benar-benar jadi malam.
Langit Pontianak meredup lambat. Matahari tak tenggelam di barat, tapi di antara kaca jendela hotel yang menguning. Edo duduk sendirian di mobilnya, parkir di basement. AC mobil dibiarkan menyala, tapi udara di dadanya panas. Kepalanya masih penuh sisa presentasi siang tadi, tentang optimalisasi distribusi, peningkatan efisiensi supply chain. Tapi sejujurnya, sejak tadi siang, bukan angka yang sibuk di benaknya. Bukan target atau tenggat waktu. Ada satu nama, satu sorot mata, yang terus bermain-main di otaknya.
Luna.
Pertemuan pertama mereka terjadi tiga pekan lalu. Di kantor distributor lokal, dalam ruang rapat dengan meja kayu tua dan kipas langit-langit yang berdengung pelan. Edo datang sebagai perwakilan pusat, membawa slide, target, dan tenggat waktu. Luna sudah duduk di ujung meja ketika Edo masuk. Tak ada senyum berlebihan, hanya sorot mata yang tenang dan sedikit malas, seperti seseorang yang terlalu sering dijanjikan banyak hal tapi jarang diberi bukti. Ada semacam gravitasi samar darinya, membuat Edo tanpa sadar menahan napas sesaat.
“Kita mulai aja ya, Pak Edo.”
Nada suaranya datar, tapi entah kenapa justru itu yang mengusik. Tak ada basa-basi. Tak ada kopi manis atau sapaan ramah khas tuan rumah. Mungkin karena dia dari Jakarta. Dan semua orang di ruangan itu tahu, orang pusat sering datang dengan gaya, tapi tak selalu bawa empati. Sering kali, yang tertinggal hanya revisi target dan sisa tekanan. Tapi saat Edo bicara tentang strategi distribusi, Luna mendengarkan. Bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam yang membuatnya sedikit gugup. Dan anehnya, gugup itu bukan karena Edo merasa inferior, tapi karena matanya terus menangkap sesuatu dari Luna yang tak bisa dijelaskan. Sejenis ancaman, mungkin. Atau daya tarik. Atau keduanya.
Sejak itu, semuanya bergulir cepat. Meeting kedua sudah berlangsung lebih santai. Meja makan siang menggantikan meja rapat. Luna mulai tertawa, mulai menyentuh lengan sesekali saat bercanda. Tak berlebihan, tapi cukup untuk menumbuhkan getar. Getar yang bukan hanya di kulit, tapi juga di dasar hati Edo, mengusik zona nyamannya.
Perempuan 34 tahun. Rambut sebahu, kacamata tipis, dan suara yang punya kemampuan misterius: membuat tiap kata terdengar seperti rayuan, bahkan saat yang diucapkan cuma soal invoice dan PO.
Bukan cantiknya yang membuatnya gelisah. Tapi caranya hadir tanpa pernah benar-benar meminta izin.
Di ruang rapat, lutut mereka pernah bersentuhan. Tak disengaja, tapi tak juga ditarik. Dan sore tadi, sebelum mereka bubar dari café hotel tempat pitching berlangsung, Luna sempat berkata lirih:
“Kalau kamu nggak buru-buru pulang malam ini, kabarin aku ya.”
Sapaan mereka pun sudah berubah. Begitu saja. Kalimat ringan, tapi dilempar dengan mata yang terlalu yakin. Dan keyakinan itu, entah kenapa, terasa seperti magnet kuat yang menarik seluruh keberanian Edo.
Di layar ponsel, ada pesan dari Luna. Masuk satu menit lalu:
“Aku masih di kamar 402. Kalau kamu masih di sekitar sini dan butuh sesuatu yang lebih dari sekadar kopi hotel. You know where to find me.”
Edo menatap pesan itu lama. Lama sekali. Lalu jemarinya bergerak.
“Sebentar. Bentar lagi aku naik,” tulisnya.
Terkirim.
Layar ponsel kembali redup. Tapi sesuatu dalam dada Edo justru menyala; panas, gaduh, dan asing. Bukan bahagia. Tapi juga bukan dosa. Bukan keyakinan. Tapi juga bukan kehampaan. Ini adalah panggilan yang ia tahu tak seharusnya dijawab, namun bibirnya terasa kering dan hatinya berdesir.”
Dan justru di sanalah, perang sesungguhnya dimulai.
Pikirannya berkecamuk. Antara rasa lapar yang tak terpuaskan. Bukan soal tubuh, tapi soal pengakuan. Dan bayang wajah anak-anaknya yang sering tertidur sebelum ia pulang. Ia ingin, tapi juga ragu. Ia tergoda, tapi juga takut pada apa yang akan tersisa esok pagi.
Apa benar hanya satu malam? Apa benar tak akan berubah apa-apa?
Dan di tengah perang batin itu, ketika detik terasa lebih panjang dari biasanya, Edo justru berharap ia tak pernah menekan tombol kirim itu. Entah kenapa, bulu kuduknya meremang. Sebuah sensasi aneh merayap, seperti ada yang mengawasi. Bukan Luna. Bukan orang lain. Tapi sesuatu yang tak tampak, dan justru karena itu terasa begitu dekat.
Edo menghela napas dan membuka pintu mobil. Udara luar masuk pelan, membawa aroma lembap khas basement tua. Ia keluar, berjalan tanpa arah. Langkahnya pelan, tapi gelisah.
Di dekat pilar parkiran, ia melihat seorang pria paruh baya; berdiri diam sambil membuka dashboard mobil tua. Lampu dalam menyala, dan dari dalamnya, Edo melihat selembar foto kecil terjatuh. Si pria buru-buru memungutnya.
Sekilas, Edo melihat gambar itu: seorang anak perempuan kecil berseragam TK, tersenyum sambil menggenggam tangan ayahnya. Tak ada yang istimewa. Tapi entah kenapa, jantung Edo serasa diremas.
Itu mengingatkannya pada putrinya. Yang tadi pagi memintanya untuk tidak pergi terlalu lama. Yang semalam, saat Edo pulang larut, hanya sempat membuka mata sebentar lalu bertanya lirih, “Ayah capek ya? Ibu tadi nungguin, lho.”
Langkah Edo goyah.
Dan saat itu, dari arah belakang, terdengar suara toa mushala kecil di pojok area parkir. Bukan adzan. Bukan bacaan tartil. Hanya potongan pengajian dari ustaz mushala komplek perumahan di belakang hotel. Lalu dia membacakan terjemahannya.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Edo membeku. Ayat itu datang tanpa aba-aba, seperti seseorang melempar air dingin ke wajah yang sedang panas terbakar. Bahkan sebelum otaknya mencerna makna, tubuhnya lebih dulu bereaksi; getar, ciut, lalu diam. Ini bukan sekadar suara, ini adalah teguran langsung, sebuah seruan yang memanggil jiwanya kembali.”
Bukan karena ayat itu indah. Tapi karena saat itu, ayat itu terasa seperti tamparan lembut di tengah wajah yang nyaris tenggelam dalam lumpur. Seolah semesta menegur: cukup. Sejauh ini saja. Jangan lanjutkan dosa yang nanti tak bisa lagi kau pulihkan.
Edo berdiri mematung. Dunia jadi sunyi. Tak ada Luna, tak ada godaan, tak ada layar ponsel.
Hanya ada dia, Tuhan, dan satu kalimat yang muncul di detik paling genting.
Edo sontak menoleh. Tapi tak ada siapa-siapa di parkiran. Hanya barisan mobil, tanpa suara. Hanya sisa gema ayat itu yang bergelayut di udara, seperti asap dupa yang pelan-pelan menempel di dinding batin. Lalu turun pelan, mengendap di dadanya.
Bukan gema biasa. Tapi semacam jeda yang membuat segalanya berhenti. Seolah waktu memberi Edo ruang untuk memilih: tenggelam atau kembali ke permukaan.
Ia tak ingat kapan terakhir kali mendengar ayat itu. Edo bukan tipe yang rajin mengaji, apalagi duduk khusyuk di majelis taklim. Ayat-ayat semacam itu biasanya hanya terdengar sekilas lewat tumpangan ceramah di YouTube saat scroll iseng, atau dari masjid komplek waktu lagi buka pagar. Tapi malam ini, ia tak bisa menyangkal: seolah Tuhan sedang menampakkan diri, tanpa wujud.
Edo terdiam. Napasnya dangkal.
Edo bayangkan: Tuhan sedang melihat, mendengar, dan menunggu Edo memilih.
Edo tersadar, setan tak datang dengan taring atau bisikan. Ia datang lewat notifikasi yang menggoda. Lewat percakapan yang dimulai profesional, lalu melebar jadi personal. Lewat senyum yang tak pernah ditanyakan, tapi terus diingat.
Dan yang paling berbahaya: saat godaan terasa begitu bisa dimaklumi.
Edo menatap ponselnya satu kali lagi. Lalu ia menekannya lama hingga layar benar-benar gelap, seolah memutuskan sambungan dengan seluruh godaan itu.
Dan di tengah suara gemuruh dari ventilasi parkiran, Edo memutuskan satu hal: malam ini, ia tidak akan naik ke kamar mana pun. Tidak untuk negosiasi. Tidak untuk urusan tender. Dan terutama: tidak untuk menukar kehormatan dengan alasan ‘manusiawi’.
Edo masuk mobil dan menyalakan Ecosportnya. Dia tak tahu harus ke mana. Tapi ia tahu ke mana ia tak ingin pergi: ke lantai empat, ke pintu yang sudah nyaris ia ketuk, ke jebakan yang dibungkus tawa, dan disebut sambutan hangat.
Dengan yakin dia meninggalkan tempat itu sama sekali.
Malam itu, Edo memilih mundur bukan karena ia suci, tapi karena ia tahu betapa tipis batasnya. Dan lebih baik menarik rem sekarang, daripada seluruh hidupnya tergelincir tanpa bisa kembali.
Edo tahu, lebih baik jadi lelaki remuk yang menyesal, daripada jadi laki-laki gagah yang menyesatkan.
Luna tak pernah tahu alasan kenapa Edo muncul-muncul di pintu kamarnya. Dan pesan Whatsapp hanya centang satu sampai beberapa jam kemudian. Dan kenapa Edo tak membalas pesan.
Edo juga tak tahu apa yang besok akan dia jadikan alasan.
Tapi Edo tahu pasti siapa yang membuatnya kembali waras.
Tuhan.
Yang lebih dekat dari urat leher.
Dan lebih setia dari semua yang pernah menawarkan “obrolan”.
Malam itu, senja memang tak pernah benar-benar jadi malam. Ia menjadi fajar bagi hati yang kembali menemukan kesadaran.

