Ahad pagi itu, aku dan Rino duduk di tepi sungai kecil di ujung kampung, 30 menit naik motor dari rumah. Kami janjian selepas subuh ke tempat kami biasa mancing kalau ingin menjauh sebentar dari hiruk pikuk rumah dan kerjaan. Suasananya sejuk, tenang, hanya terdengar gemericik air sungai dan sesekali kicauan burung di dahan bambu. Aroma tanah basah setelah embun pagi menambah kedamaian.
Aku bawa kopi dari rumah. Racikan sendiri, campuran kopi robusta dan sedikit kratom. Pahitnya pas, bikin melek, tapi tetap adem di dada.
Sambil mantengin pelampung pancing yang belum juga gerak, Rino tiba-tiba berkata, “Aku bingung, Bang.”
Aku menoleh, “Bingung apa, No?”
Dia masih menatap air, suaranya mulai pelan. “Istriku, Bang. Sejak kami menikah, dia berubah. Dulu sebelum nikah, dia baik, penyabar, perhatian. Sekarang, rasanya lain. Sering ketus, jutek. Ngomong pun nadanya naik terus.”
Aku menyeruput kopiku, memberi jeda sejenak sebelum menjawab, “Boleh aku jawab jujur, bre?”
Dia mengangguk.
Aku bilang, “Mungkin. Dia berubah karena menikah dengan kamu.”
Rino langsung menatap aku, matanya mengerut. “Maksudnya gimana tuh, Bang?”
Aku tetap tenang, masih sambil mengamati pelampung yang bergoyang kecil oleh arus. “Kadang, perempuan gak tiba-tiba berubah begitu saja. Tapi mereka berubah karena keadaan. Karena mungkin selama ini dia bertahan, tapi dalam diam. Bertahan dari rasa kecewa yang gak pernah dia ucap, dari perhatian yang makin lama makin hilang, dari sikap kita yang berubah tanpa sadar.”
Rino terdiam. Tatapannya yang semula mengerut perlahan melunak, beralih ke air sungai seolah mencari jawaban di sana. Mungkin dia tersinggung, atau justru mulai terpukul oleh kebenaran yang baru saja ia dengar.
“Kamu pernah nanya gak, apa yang bikin dia sedih? Atau kamu cuma sibuk heran kenapa dia gak lagi kayak dulu? Padahal mungkin, yang dia tunggu cuma didengar. Didampingi, bukan hanya ditemani.”
Rino menghela napas. “Pernah sih, Bang. Beberapa kali, malah.” Dia menatapku dengan sorot mata lelah. “Tapi ya itu, dia kalau ngomong suka muter-muter. Ujung-ujungnya mengungkit hal kecil yang menurutku enggak penting. Saya jadi malas mendengarnya, Bang. Saya pikir dia cuma lagi lelah kerja atau PMS.”
Aku mengernyit. Jadi, masalahnya bukan Rino belum bertanya, tapi ia tidak mendengarkan dengan serius saat istrinya bicara.
“No,” kataku, mencoba menjaga nada suaraku tetap tenang, “kadang yang menurut kita kecil, itu besar bagi dia. Dan soal muter-muter itu, mungkin dia kesulitan menyusun kata-kata karena terlalu banyak yang dia pendam. Bukan berarti tidak penting, tapi dia butuh kamu membimbing dia bicara, bukan malah menutup telinga.”
Aku tahu, kadang kebenaran harus disampaikan walau gak enak didengar. “No, istri itu gak berubah karena menikah. Tapi dia bisa berubah kalau dalam pernikahan dia merasa sendirian. Kalau yang dulu hangat jadi dingin, bukan karena dia berhenti mencintai, tapi karena dia gak lagi merasa dicintai.”
Kami diam sejenak. Angin sungai meniup pelan. Ikan belum juga nyangkut, tapi suasana jadi lebih dalam.
“Coba kamu pulang nanti, ajak dia bicara lagi. Kali ini, bukan buat mengoreksi, tapi buat mendengarkan. Tanyakan, bukan kenapa dia marah, tapi kenapa dia sedih. Dan kali ini, dengar sampai tuntas, No. Jangan potong. Kadang, jawaban yang kita cari sebenarnya sudah lama ada, cuma kita yang terlalu sibuk untuk mau dengar.”
Rino mengangguk pelan.
“Aku tahu rasa itu, No,” kataku memulai. “Aku pun pernah ada di titik yang sama. Istriku juga pernah berubah. Lebih pendiam, lebih dingin, dan sedikit bicara. Awalnya aku kira dia cuma lelah. Tapi setelah kupikir-pikir, akulah yang berubah lebih dulu. Aku pulang kerja langsung rebahan, sibuk sendiri, dan mengira semua baik-baik saja. Padahal, istriku memendam kecewa.”
Rino membakar rokoknya lagi. Emang kuat dia ini merokok. Gak pernah bosan menjejal nikotin dan segala racun dalam tubuhnya.
“Suatu malam aku ajak dia keluar berdua saja. Makan malam di cafe dekat rumah. Bicara banyaklah kami. Aku bilang, ‘Maaf ya, kalau aku belakangan ini kayak orang yang cuma numpang tidur di rumah.’ Dia nggak langsung jawab, tapi matanya bicara. Pelan-pelan, dia mulai cerita semua yang dia pendam. Yang dulu kubilang ‘enggak penting’, ternyata menumpuk jadi gunung di hatinya.”
“Sejak malam itu, aku mulai belajar lagi jadi teman lagi buat dia. Aku dengarkan keluhannya, aku tanya pendapatnya, aku rangkul dia walau gak ada alasan khusus. Bukan soal romantis, tapi soal hadir dan peduli.” Sambungku.
“Jadi, No,” lanjutku, “kalau istrimu sekarang jutek, bisa jadi dia sebenarnya sedang berjuang mempertahankan hatinya di rumah yang mulai terasa asing. Jangan marahi sikapnya, pahami sebabnya. Kadang yang bikin mereka bertahan bukan cinta yang besar, tapi suami yang mau belajar jadi kecil dan dekat di saat dibutuhkan. Mengerti wanita itu memang agak susah. Tapi kalau kita mau komunikasi pasti bisa saling memahami.”
Rino mengangguk, tatapannya kini lebih mantap, bercampur sedikit rasa bersalah. “Benar sih, Bang. Aku mungkin kurang perhatian lagi sama Dewi. Lebih sibuk dengan kerjaan dan hobi. Dan terlalu cepat menghakimi apa yang dia rasakan.”
“Iya. Kurang-kurangi main Vespa. Kasih ke aku saja. Hahahaha.”
“Bah!!! Maunya.”
Sampai pulang tak ada yang ditangkap kail Rino hari itu, sementara aku ada dapat 2 ikan kecil yang aku lepaskan lagi.
Tapi mungkin ada yang akhirnya mengendap di hatinya Rino pagi itu. Kesadaran. Bahwa, lelaki merasa kehilangan perempuan yang dulu ia kenal, tanpa sadar ia sendiri yang membuat perempuan itu berubah.
Bukan karena ia tak pernah bertanya, tapi karena ia tak pernah sungguh-sungguh mendengarkan.

