Hujan turun rintik-rintik ketika jenazah Raka diturunkan ke liang lahat di pemakaman Sepakat, Pontianak. Tak banyak yang datang—beberapa teman kantor, tetangga kos di daerah Jalan Reformasi, dan ibunya yang duduk lemas di kursi plastik biru, memeluk foto anaknya seperti takut gambar itu juga akan hilang.
“Anak baik…” isaknya pelan. “Selalu bilang dia baik-baik aja…”
Orang-orang saling bertukar pandang, sebagian menggigit bibir, sebagian lagi menunduk. Di antara mereka, tak satu pun yang bisa menjawab pertanyaan yang menggantung sejak kabar itu datang:
Kenapa Raka?
Orang yang selalu tersenyum, yang selalu bilang, “Aku gapapa kok,” bahkan ketika matanya sembab dan suara seraknya memohon agar pekerjaan jangan ditambah dulu.
Tak ada yang pernah benar-benar mendengarkan.
Raka selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. Di kantor, sebuah perusahaan distribusi logistik di Jalan Ahmad Yani, ia bukan siapa-siapa, hanya karyawan biasa yang selalu menyelesaikan apa yang diperintahkan. Bukan tipe yang banyak bicara, tapi tak pernah absen membantu saat orang lain kewalahan. Ia seperti gravitasi—tidak terlihat, tapi menopang segalanya.
“Bro, bisa bantuin aku benerin data ini? Excel aku error nih,” kata Aldo, rekan satu tim.
“Boleh, kirim ke email aku aja,” jawab Raka, tanpa menoleh.
Tak ada keluhan. Tak ada embusan napas kesal. Tapi punggungnya menegang, dan matanya mulai perih menatap layar terlalu lama. Tidak ada yang tahu semalam ia hanya tidur dua jam, mencoba mengatur ulang laporan audit yang tiba-tiba direvisi manajer. Tapi Raka hanya menarik nafas panjang, meneguk kopi dingin dari warung bawah kantor, dan terus mengetik.
Saat seseorang bertanya, “Raka, lo kuat ya, kerjaan sebanyak itu?” Dia hanya nyengir. “Ya… namanya juga laki-laki.”
Dulu, saat umur Raka masih sebelas tahun, ia pernah menangis di depan ayahnya. Kucingnya mati, ditabrak mobil di depan rumah mereka di daerah Siantan. Ia menguburnya dengan tangan sendiri, sambil menangis keras di pekarangan belakang.
Ayahnya datang, berdiri diam sambil menyilangkan tangan. “Udah, jangan cengeng. Laki-laki gak boleh kayak gitu.”
Raka mengusap matanya dengan lengan bajunya, mengangguk, meski dadanya masih sesak. Sejak hari itu, ia belajar menelan tangis sebelum sampai ke mata.
Pelan-pelan ia paham: menjadi laki-laki berarti diam. Bukan karena tak punya perasaan, tapi karena perasaan dianggap penghalang. Menjadi lemah, sedih, takut—semua itu seperti dosa tak tertulis yang harus ditebus dengan keberanian dan keteguhan yang tak manusiawi.
Di malam terakhirnya, Raka duduk di depan laptop, menatap folder-folder kerja yang tak lagi ingin ia buka. Di sebelahnya, handphone menyala dengan pesan dari ibunya: “Jangan lupa makan, Nak.”
Ia tersenyum. Tipis. Hampir seperti refleks.
Di grup kantor, orang-orang sedang bercanda soal gaji telat. Di Twitter, trending topik hari itu adalah film baru yang katanya menyentuh. Raka membuka kolom komentar, membaca tanggapan orang-orang yang berkata “aku nangis nonton ini, relate banget.”
Ia menutup ponselnya. Tak satu pun film bisa menandingi kesedihan diam yang tak bisa ia bagi.
Bukan karena tidak ada yang peduli. Tapi karena sejak kecil, ia dilatih untuk tidak mengeluh. Untuk tidak minta tolong. Untuk tidak mempermalukan diri sendiri dengan berkata, “Aku lelah.”
Ia pernah mencoba, sekali. Bertahun lalu, pada seseorang yang pernah ia sayangi. Mereka duduk di bangku taman Alun-Alun Kapuas, dan Raka berkata, pelan:
“Aku kayaknya stres. Kayak… ada yang sesak terus tiap hari.”
Perempuan itu memandangnya, ragu. Lalu tertawa kecil, “Laki-laki mah harus tahan banting dong. Jangan kayak cewek. Gitu doang stres?”
Itu pertama dan terakhir kali ia mencoba membuka diri. Sejak itu, Raka percaya bahwa ceritanya tak pantas didengar.
Setelah pemakaman, seorang teman sekantor—Rizal—duduk lama di mushola kecil belakang kantor. Ia baru tahu dari kosan Raka, bahwa lelaki itu sudah tiga bulan menunggak sewa di kos, berhemat dengan makan seadanya—kadang nasi dan telur, kadang hanya mie instan atau gorengan dari warung dekat kos.
Padahal, Raka tak pernah meminta apa pun.
Tak pernah pinjam uang. Tak pernah curhat.
Hanya sesekali tertawa kecil saat lembur bareng, kadang nyengir ketika tim lain menyindir, “Kerja mulu, lo Raka. Gak pengen nikah?”
Dan Raka akan menjawab, “Nanti. Kalau udah cukup kuat.”
Rizal memejamkan mata. Sekuat apa lagi Raka harus jadi agar dianggap pantas untuk cerita? Untuk rehat?
Untuk menangis?
Seminggu setelah kepergian Raka, HRD kantor mengirim email umum: “Mari kita jaga kesehatan mental bersama-sama.”
Beberapa orang membalas dengan emoji tangan berdoa. Ada yang copy-paste quote motivasi di Instagram. Tapi setelah itu, ritme hidup berjalan lagi seperti biasa. Deadline tetap datang, jam lembur makin malam, dan percakapan tetap datar.
Tak ada yang benar-benar berubah.
Karena sistem tak pernah mengizinkan laki-laki untuk hancur. Dan ketika mereka hancur, semua orang kaget—seakan mereka robot yang tiba-tiba mogok.
Padahal, mereka manusia.
Di buku harian yang ditemukan di laci kamar Raka, tertulis:
“Aku capek banget, tapi gak tahu harus cerita ke siapa. Aku takut orang cuma anggap aku lemah. Takut dianggap gak laki-laki. Padahal aku cuma pengen ada yang bilang: ‘Gak apa-apa. Aku dengerin.’”
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Dan sekarang, suara Raka selamanya diam.
Sore itu langit Pontianak berwarna kelabu. Rizal masih duduk di sebuah warkop kecil di Jalan Ahmad Yani, menatap kendaraan lalu lalang dari balik jendela. Di tangannya ada rokok yang belum dinyalakan. Di pikirannya, wajah Raka tak mau hilang.
Ia menyesal. Tapi ia bingung, menyesal karena apa?
Karena tak tahu? Atau karena sebenarnya tahu, tapi memilih diam?
Raka bukan tipe yang minta tolong, itu benar. Tapi ia juga bukan tipe yang mencari perhatian. Ia tak pernah absen, tak pernah marah, tak pernah bilang, “Aku udah gak sanggup.” Dan di dunia yang menilai pria dari seberapa tahan mereka memendam, Raka adalah lulusan terbaiknya.
Dan itu membunuhnya perlahan.
Rizal baru sadar: mungkin bukan karena Raka tidak ingin bicara, tapi karena dunia terlalu keras untuk mendengarkan.
Sebelum kejadian itu, Raka pernah berdiri cukup lama di pantry kantor, menatap kopi instan yang tidak ia seduh. Matanya kosong.
“Lo kenapa, Ka?” tanya Andini, satu-satunya rekan perempuan di divisinya yang sering berbagi makanan saat lembur.
“Enggak, cuma lagi mikirin target.”
Andini menatapnya lekat-lekat. “Kayak lo kurang tidur.”
Raka tersenyum kecil. “Emang kurang.”
“Ngopi aja.”
“Takut makin gak bisa tidur.”
Andini tertawa kecil, tapi tawanya tenggelam dalam hening. Ia sempat ingin bertanya lebih jauh, tapi urung. Mungkin karena terbiasa bahwa laki-laki seperti Raka “pasti bisa jaga diri”.
Padahal waktu itu, Raka hanya butuh satu kalimat lagi.
“Lo gak apa-apa, Ka?”
Tapi kalimat itu tidak pernah keluar.
Di hari yang sama, saat ia pulang ke kos, Raka sempat berdiri lama di depan cermin. Ia menatap wajahnya yang tirus, kantong mata yang hitam, rambut yang makin rontok. Lalu ia tertawa pelan—pahit, nyaris menyerupai batuk.
“Keliatan kayak orang kalah ya,” gumamnya.
Ia duduk di kasur tipis, mengambil gitar lamanya. Jari-jarinya memainkan kord D minor, lalu A, lalu G. Lagu yang ia tulis sendiri, tapi tak pernah selesai. Ia selalu merasa tulisannya terlalu murung. Terlalu sedih untuk ukuran laki-laki.
Pernah ia unggah potongan lagunya ke Instagram, dan komentar yang datang:
“Sedih amat, Bang. Galau mulu, ayo dong semangat!”
Lalu ia berhenti unggah.
Sejak itu, ia hanya menulis untuk dirinya sendiri.
Dalam catatan ponselnya, ia menulis:
“Kenapa kalo cewek cerita soal sedihnya, dengerin rame-rame? Tapi kalo cowok cerita, disuruh kuat. Disuruh sabar. Disuruh jangan bikin malu.”
“Aku juga pengen takut. Pengen marah. Pengen nangis. Tapi takut gak dianggap laki-laki.”
Dan semua itu, tak pernah dibaca siapa-siapa.
Ibu Raka datang ke kosnya dua hari setelah pemakaman. Ia duduk lama di kamar kecil itu, memeluk bantal anaknya, menciumi baju-baju yang masih tergantung di gantungan.
Ia menemukan sebuah kotak sepatu di bawah tempat tidur, berisi kertas-kertas lipatan dengan coretan tangan Raka: puisi, lirik, dan surat-surat yang tidak pernah dikirim.
Satu di antaranya tertulis:
“Bu, maaf kalau nanti Raka capek. Maaf kalau Raka gagal jadi laki-laki kuat seperti yang Ayah mau. Raka cuma pengen hidup tenang, tanpa harus jadi sempurna.”
Ibu Raka menangis sampai suara habis. Ia tak tahu anaknya menyimpan luka sebanyak itu. Ia pikir, selama Raka tidak mengeluh, berarti semuanya baik-baik saja.
Ia salah.
Dan di kursi kos itu, seorang ibu baru sadar: anak laki-laki juga butuh dipeluk. Butuh didengar. Butuh ruang untuk jadi lemah, tanpa harus takut kehilangan harga diri.
Beberapa minggu kemudian, Rizal berdiri di hadapan timnya, menggenggam pointer sambil memandangi layar presentasi. Hari itu ia tak bisa fokus. Di slide keempat, ia berhenti, menarik napas panjang, lalu berkata:
“Aku minta waktu sebentar.”
Semua mata tertuju padanya.
“Aku mau ngomong… soal Raka.”
Hening. Tak ada suara.
“Aku temennya, dan aku gagal liat dia hancur. Karena aku pikir dia kuat. Karena dia laki-laki. Karena kita semua ngebangun aturan gak tertulis kalau laki-laki harus tahan banting.”
Matanya mulai memerah.
“Kita harus berhenti nganggap diam itu tanda kekuatan. Karena bisa jadi, itu tanda seseorang udah gak tahu lagi harus cerita ke siapa.”
Beberapa orang menunduk. Andini mengusap air mata.
“Mulai sekarang, kalau ada yang bilang ‘aku gak kuat’, tolong jangan bilang ‘ah lo pasti bisa’. Bilang aja, ‘aku dengerin’. Itu aja. Kadang itu cukup.”
Hari itu, tidak semua orang berubah. Tapi satu ruang rapat tahu bahwa Raka bukan mati karena lemah, tapi karena terlalu lama dianggap kuat.
Setahun berlalu. Di malam peringatan hari kepergian Raka, Rizal duduk di mushola yang sama. Di tangannya, surat kecil yang ia tulis sendiri.
“Aku masih inget senyum lo, Ka. Tapi sekarang aku juga inget luka lo.”
“Aku berjanji gak akan ngeremehin orang yang cerita. Dan aku akan jadi laki-laki yang bisa bilang, ‘Aku sedih. Aku takut.’”
“Karena aku tau, laki-laki juga manusia.”
Ia melipat surat itu, menyelipkannya di sela mushaf. Lalu ia berdoa. Untuk Raka, untuk semua laki-laki yang tak sempat bicara, dan untuk dirinya sendiri.
Di luar, hujan turun rintik-rintik. Seperti malam saat Raka pergi.
Tapi kali ini, ada yang mendengarkan.

