Namanya Pak Rahim. Setiap Subuh, sebelum azan berkumandang, dia sudah ada di masjid—menyapu lantai, mengisi ulang air wudhu, memastikan sajadah terhampar rapi. Tak ada gaji, tak ada jabatan. Hanya niat dan cinta yang membawanya ke sana.
Warga kampung mengenalnya, tapi jarang yang benar-benar peduli. Anak-anak muda lebih sibuk dengan gadget, orang tua sibuk mengurus ladang atau warung. Pak Rahim tetap datang, setiap hari, tak mengeluh, tak berharap dilihat manusia.
Suatu hari, seorang pemuda datang ke masjid dengan wajah kusut. Ia baru saja kehilangan pekerjaan dan dihina oleh keluarganya karena dianggap gagal. Duduk di serambi, ia melihat Pak Rahim menyapu, pelan tapi pasti. Pemuda itu bertanya dengan heran, “Pak, apa nggak lelah terus begini tiap hari? Siapa juga yang peduli?”
Pak Rahim tersenyum. “Kalau yang kulihat manusia, mungkin aku sudah berhenti sejak dulu. Tapi aku percaya, Allah tak pernah tidur.”
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Pak Rahim mulai jarang terlihat. Kesehatannya menurun, tubuhnya rapuh. Suatu malam, ketika gerimis turun, ia datang terakhir kalinya ke masjid. Ia menyapu seperti biasa, duduk di mihrab, lalu bersujud. Dan di situlah Allah menjemputnya—dalam keadaan sujud, dalam rumah-Nya, tanpa ada seorang pun yang melihat.
Keesokan paginya, imam masjid menemukan jenazahnya. Berita itu cepat menyebar. Orang-orang terdiam. Beberapa menangis. Mereka teringat betapa masjid itu selalu bersih, nyaman, dan terurus—dan semua itu tanpa mereka sadari adalah hasil tangan Pak Rahim.
Di hari pemakaman, ratusan orang mengiringinya. Doa-doa mengalir dari lisan yang dulunya abai. Salah satu jamaah tua berkata lirih, “Baru sekarang kita sadar siapa wali kecil di tengah kita.”
Malamnya, imam masjid bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Pak Rahim duduk di taman indah, dengan cahaya mengelilinginya. Ia berkata:
“Dulu aku hanya tukang sapu yang dilupakan. Tapi Allah tahu. Dan itu cukup. Di sini, semua dihitung, bahkan debu yang kuangkat dari sajadah.”

