Uwais Al-Qarni: Ketika Surga Lebih Dekat daripada Rindu

Langit Yaman hari itu tampak berbeda. Seolah menyimpan rahasia yang tak diungkapkan. Angin berhembus perlahan, tidak hanya membawa debu dari gurun, tapi juga membawa aroma rindu yang menyesakkan dada. Di sebuah rumah kecil di sudut negeri itu, seorang pemuda duduk dalam keheningan. Namanya Uwais. Ia tak terkenal, tak memiliki harta, tak juga dikenal oleh banyak orang. Tapi di balik kesederhanaannya, tersembunyi cinta yang agung dan pengorbanan yang tak biasa.

Di sampingnya, terbaring seorang wanita tua—ibunya—yang tubuhnya lemah tak berdaya. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan geraknya hanya sebatas keluhan pelan. Sejak lama, ia tidak mampu berdiri apalagi berjalan. Bahkan untuk makan pun, ia harus disuapi. Dan di sanalah Uwais berada, setiap hari, setiap malam, membersamai ibunya dalam sakit dan kesendirian.

Di tengah pengabdian itu, Uwais sering menengadah ke langit, merintih dalam diam.

“Ya Rasulullah… andai aku bisa melihat wajahmu walau sedetik saja.”

“Ya Allah… izinkan aku mencium tangan utusan-Mu walau hanya sekejap.”

Tapi rindu itu harus ia telan sendiri. Ia tak pernah berangkat ke Madinah. Padahal jaraknya hanya sepekan perjalanan dari tempat tinggalnya. Di saat banyak orang berbondong-bondong menempuh ribuan kilometer untuk bertemu Rasulullah ﷺ, Uwais tetap tinggal. Tidak karena ia tidak ingin, tetapi karena ia tahu: ibunya lebih membutuhkan dirinya daripada kerinduannya sendiri.

Uwais mencintai Nabi Muhammad ﷺ dengan cinta yang mendalam. Namun cinta itu tidak ia kejar dengan ego. Ia tidak ingin cinta kepada Rasul menjadi alasan untuk meninggalkan ibunya yang tak mampu hidup tanpanya. Baginya, baktinya kepada ibu bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan yang ia yakini menuju ridha Allah dan Rasul-Nya.

Setiap hari, ia menyuapi ibunya dengan sabar, menyeka keringat di dahinya, membalut luka di tubuhnya, bahkan memandikannya saat ibu tak lagi mampu mengurus diri sendiri. Uwais bukan siapa-siapa, tapi hatinya penuh dengan kelembutan dan cinta yang tulus. Ia tidak mengejar nama. Ia tidak mencari pujian. Ia hanya ingin ibunya hidup tenang, meski itu berarti mengubur keinginan hatinya yang terdalam.

Di kota suci Madinah, jauh dari tempat tinggal Uwais, Rasulullah ﷺ sedang berkumpul bersama para sahabat. Tiba-tiba, beliau berkata sesuatu yang membuat semua terdiam:

“Akan datang kepada kalian seorang dari Yaman yang bernama Uwais. Ia sangat berbakti kepada ibunya. Ia tidak dikenal di bumi, tetapi terkenal di langit. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa darinya. Doanya mustajab di sisi Allah.”

Para sahabat tertegun. Siapa orang ini? Mengapa Rasulullah ﷺ menyebutnya padahal tak pernah bertemu? Umar bin Khattab meneteskan air mata. Ia, sahabat dekat Nabi, tak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tapi Nabi menyebut namanya dengan penuh penghormatan. Siapa dia… Uwais?

Tahun demi tahun berlalu. Rasulullah ﷺ wafat. Ibunda Uwais pun wafat. Kini Uwais sendiri. Tak ada lagi yang harus ia rawat. Tak ada lagi suara ibu yang ia dengar saat malam. Tapi juga, tak ada lagi alasan untuk tetap tinggal.

Kini ia bebas untuk pergi ke Madinah, tempat Rasulullah pernah hidup dan mengajarkan cahaya Islam ke seluruh dunia. Dengan hati yang bergetar, Uwais melangkahkan kaki. Perjalanan panjang itu ia tempuh dengan penuh harap. Bukan hanya karena ingin melihat jejak Nabi, tapi karena ingin menunaikan rindunya yang selama ini dipendam.

Langit cerah menyambut langkahnya, tapi hatinya diliputi kegundahan. Ada rasa sesak yang belum ia mengerti. Dan benar saja. Sesampainya di Madinah, yang ia temui bukan Rasulullah… tapi makam beliau. Sang Nabi telah lama wafat.

Air mata jatuh dari pelupuk mata Uwais. Bukan karena kecewa. Tapi karena rindu yang akhirnya tidak sempat terwujud di dunia ini. Namun ia tidak menyesal. Ia tahu, Allah tidak pernah menyia-nyiakan cinta yang tulus. Dan ia yakin, Rasulullah pun tahu, ia mencintainya. Bukan dengan kata, tapi dengan ketaatan.

Beberapa waktu setelah itu, Umar bin Khattab—yang kini menjadi khalifah—dan sahabat Ali bin Abi Thalib mencari sosok yang pernah disebut Rasulullah. Mereka mencari ke penjuru negeri, menelusuri setiap rombongan dari Yaman. Hingga suatu hari, mereka bertemu dengan seorang lelaki sederhana. Pakaiannya biasa saja. Ia tidak menonjol, tidak bercerita tentang dirinya. Tapi hatinya bersih, dan lisannya penuh doa.

“Apakah engkau Uwais dari Yaman?” tanya Umar.

“Benar,” jawabnya dengan tenang.

“Aku mendengar Rasulullah menyebut namamu. Ia berkata, doamu mustajab. Mohon doakan aku.”

Uwais terdiam. Ia bukan ulama, bukan sahabat Nabi, bukan pemimpin. Ia hanyalah anak yatim dari Yaman yang selama hidupnya mengurus ibunya. Tapi itulah Uwais. Yang tidak dikenal manusia, tapi dikenal di langit. Yang tidak mengejar popularitas, tapi dirindukan para sahabat Nabi.

Kisah Uwais adalah pelajaran tentang keikhlasan dan cinta yang sejati. Tentang bagaimana seseorang bisa mencapai derajat tinggi di sisi Allah bukan karena ilmu, bukan karena kekuasaan, bukan karena popularitas, tetapi karena baktinya kepada ibunya. Karena ia menempatkan surga lebih dekat daripada kerinduannya sendiri.

Uwais tidak pernah memeluk Rasulullah ﷺ di dunia. Tapi hatinya penuh cinta untuk beliau. Ia tidak pernah duduk di majelis Nabi, tapi Rasulullah menyebut namanya. Ia tidak memiliki kitab tebal atau gelar keilmuan. Tapi Allah menjadikan doanya mustajab. Semua itu karena satu hal: berbakti kepada ibu.

Hari ini, nama Uwais dikenang bukan karena ia terkenal semasa hidup, tapi karena keikhlasannya. Ia menjadi bukti bahwa orang biasa bisa memiliki tempat mulia di sisi Allah, asalkan hatinya bersih, niatnya tulus, dan baktinya kepada orang tua tidak pernah putus.

Kisah ini adalah pengingat bagi kita semua. Tentang pentingnya berbakti kepada orang tua. Tentang cinta yang diam, tapi menggetarkan langit. Dan tentang bagaimana Allah meninggikan derajat orang-orang yang mungkin tak dikenal di bumi, tapi sangat mulia di sisi-Nya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *