Wanita, Tanpa Prasangka

Wanita, Tanpa Prasangka

Menjelang sore, aku baru saja selesai membereskan proposal penawaran buat calon klien outsourcing kami di pojokan kafe kecil yang tenang dan aku suka sekali rasa kopinya. Lalu tampak seorang wanita masuk ke dalam, dengan balutan pakaian kerja casual. Wajahnya familiar, tapi aku lupa siapa dia. Dia menatapku, tersenyum.

“Mas Arief?” sapanya pelan.

Aku mengangguk, tetap mencoba mengingat siapa dia. Ah, akhirnya aku ingat. Kami dulu pernah kerja di perusahaan yang sama di penghujung tahun 2000an. Lantas dia keluar karena menikah dan ikut suaminya dinas di luar pulau.
“Wulan, khan?” Aku bertanya.

Ia mengangguk, lalu tersenyum.

“Lama ya nggak ketemu. Aku sudah setahun balik lagi ke Pontianak. Boleh aku duduk sama Mas?”

Aku mempersilahkan.
Kami bicara ringan sejenak. Tentang cuaca, tentang pekerjaan. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Mas, boleh aku minta pendapat? Sesuatu yang udah lama aku pendam? Rasanya udah penuh di dada, tapi bingung mau keluarin ke siapa.

Aku capek dianggap ‘berbeda’ setelah jadi janda.” Katanya dengan mata murung.

Aku diam. Mengangguk pelan. Dari tadi memang aku gak ada bertanya soal suaminya, dan dia gak cerita. Sementara aku bukan tipe yang kepo soal kehidupan orang lain. Jika orang tidak bercerita, aku juga gak akan bertanya.

“Aku kehilangan suamiku empat tahun lalu, Mas. Kecelakaan. Satu malam yang merubah segalanya. Sejak itu, aku nggak hanya kehilangan pasangan hidup, tapi juga kehilangan panggilan ‘Bu Wulan’ di mata orang-orang.”

Aku mengernyit.

“Iya. Tetangga mulai manggil aku Wulan aja, bukan Bu Wulan. Seolah kata ‘ibu’ hanya pantas kalau masih bersuami. Aku datang ke arisan, rasanya jadi tamu. Dandan sedikit, langsung disindir. Nggak dandan, dikira depresi. Aku kerja, dibilang janda mandiri yang cari mangsa. Aku diam di rumah, dibilang janda malas yang nunggu dijemput nasib.
Akhirnya aku putuskan kembali ke Pontianak, tinggal sama mama.
Eh di sini juga tetap sama.”

Matanya mulai berkaca. Tapi bukan tangis cengeng. Lebih seperti air mata yang sudah terlalu lama ditahan.

“Yang paling pedih, Mas. Yang paling sering membuatku jatuh, justru bukan omongan laki-laki. Tapi dari sesama perempuan. Ibu-ibu yang dulu bersamaku di pengajian, sekarang pelan-pelan menjaga jarak. Takut suaminya dekat. Takut aku jadi ancaman.”

Aku menunduk. Tak tahu harus berkata apa. Yang aku tahu, aku sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang mencoba kuat, di dunia yang seringkali tak memberi ruang untuknya bernapas dengan tenang.

Lalu aku menatapnya, dan berkata,
“Wulan tahu nggak? Istri pertama Nabi Muhammad itu janda. Bukan cuma janda satu kali, tapi dua kali. Namanya Khadijah. Beliau punya anak juga dari suami sebelumnya. Tapi Nabi tidak pernah memandangnya rendah. Bahkan Nabi tidak menikah lagi selama Khadijah masih hidup. Dari rahimnya lahir enam anak Nabi, termasuk Fatimah, ibu dari seluruh keturunan Nabi sampai hari ini.”

Wulan terdiam.

“Kalau janda adalah aib,” lanjutku, “kenapa Allah justru memilih Khadijah untuk mendampingi Nabi di masa terberat hidupnya? Kenapa cinta terbesar Nabi bukan kepada perawan muda, tapi kepada seorang janda dengan anak-anak?”

Air matanya menetes diam-diam.

“Terima kasih, Mas,” katanya lirih. “Selama ini aku cuma ingin dianggap manusia. Bukan status. Bukan ancaman. Bukan kasihan.”

Kami sama-sama diam lama. Di luar, gerimis jatuh pelan-pelan, seolah ikut meneteskan perasaannya yang tertahan. Tapi di mataku, ada perempuan yang perlahan sedang menjemput ulang dirinya, dari serpihan, dari hujan, dari luka yang nyaris tak terdengar.

Karena tak semua luka perlu diumbar, tapi setiap luka butuh ruang untuk pulih, dengan tenang, dengan dimengerti, tanpa prasangka.

Dan jika tak banyak orang yang mampu hadir tanpa menghakimi, tanpa merasa lebih baik, maka semoga aku bisa jadi salah satu yang bersedia diam, mendengar, dan menjadi tempat seseorang merasa cukup menjadi dirinya sendiri, tanpa takut ditatap dengan curiga, tanpa harus menjelaskan segalanya.

Sampai akhirnya kami saling berpamitan, Wulan dengan mata yang masih basah, tapi ekspresinya tenang. Mungkin bukan karena semua luka telah sembuh, tapi karena hari ini, ia merasa didengar. Dan itu cukup untuk membuatnya bertahan sedikit lebih kuat dari kemarin.

Ia hanya ingin pulang, dan jadi dirinya sendiri.
Dan tidak nampak berbeda karena statusnya.

“Karena setiap wanita berhak hadir di dunia ini, tanpa prasangka.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *