Warung Kopi Koeksistensi

Warung Kopi Koeksistensi

Sebuah warung sederhana, lengkap dengan poster buram “Peace Now!” di dinding dan bendera kecil PBB yang berdebu tergantung di pojok. Di satu meja, dua tokoh penting sedang duduk bersisian: Presiden Prabowo, mengenakan jaket bomber ala militer dengan bordiran burung Garuda, dan PM Benjamin Netanyahu, bersantai dengan kaus oblong bertuliskan IDF Gym Club.

Prabowo:
(Bersandar santai)
Jadi begini, Bro Bibi… Indonesia ini cinta damai. Netral. Kita dukung solusi dua negara, asal semua pihak saling menahan diri. Gitu loh. Jangan saling menyalahkan.

Netanyahu:
(Menyendok gula ke kopinya)
Saling menyalahkan? Mas Prabowo, kami cuma mempertahankan diri. Itu kan slogan favorit semua militer. Kalian pasti paham dong.

Prabowo:
Iya, iya. Kami di Indonesia juga punya pengalaman panjang menghadapi separatis. Jadi saya ngerti kok. Tapi kan, jangan keterlaluan juga bombardirnya, ya?

Netanyahu:
(Bahunya naik)
Lho, itu bagian dari proses damai. Tekan dulu, nanti baru ajak negosiasi. Kalau enggak ditekan, mereka enggak nurut. Dasar sekolah perdamaian ini dari Machiavelli, bukan Montessori.

Prabowo:
(Langsung mencatat di buku kecil)
“Tekan dulu, ajak damai kemudian.” Noted. Mungkin bisa saya pakai untuk Papua. Tapi… eh, jangan disebut di forum internasional ya, nanti repot.

Netanyahu:
Tenang, kita sama-sama punya hal yang ingin dilupakan sejarah. Saya juga hapus beberapa peta dari kurikulum sekolah.

Prabowo:
(Sambil tertawa)
Hahaha, mantap. Saya suka Anda, Bibi. Kita sama-sama realistis. Tapi saya mesti bilang di forum bahwa Indonesia akan pertimbangkan mengakui Israel… asal Palestina diakui dulu. Gitu, biar aman.

Netanyahu:
(Ngepuff rokok elektrik)
Hah, itu klasik. Kamu mirip negara Eropa yang pura-pura peduli tapi tetap beli drone dari kami. Jangan khawatir, itu retorika aman. Toh, selama kalian gak boikot senjata atau dagang, kita anggap berteman.

Prabowo:
Tenang, kami bukan Iran. Kami sukanya bisnis. Damai-damai sajalah—asal jangan ganggu ekspor sawit dan TikTok.

Netanyahu:
Sip. Oh, satu lagi. Tolong jangan kirim kapal perang ke Mediterania kayak Turki. Nanti dianggap cari panggung. Kirim dokter aja, yang bisa difoto bareng tentara IDF biar viral.

Prabowo:
Deal. Kami sudah punya tim konten. Boleh gak kalau nanti kita bikin foto bareng—kita berdua tos sambil pegang poster “Dua Negara, Satu Kopi”?

Netanyahu:
Brilian. Kita viral, mereka bingung, dunia lanjut dagang.

(Mereka bersulang dengan cangkir kopi, senyum lebar. Di latar belakang, suara ledakan samar terdengar dari televisi yang menayangkan berita terbaru dari Gaza.)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *