Yang Tersisa dari Diam

Yang Tersisa dari Diam

Mira mengaduk sup di atas kompor perlahan, seperti biasa. Tangannya hafal gerakan ini: dua putaran searah jarum jam, lalu sesekali mengangkat sendok kayu untuk mencicipi rasa. Tapi hari ini lidahnya hambar. Seperti tidak ada garam, padahal ia yakin sudah menaburkan dua sendok.

Di meja makan, dua piring sudah tertata rapi. Satu besar untuk Emil. Satu kecil untuknya. Dua piring anak-anak menyusul nanti saat mereka selesai mandi.

Mira tidak pernah lalai. Ia tetap menyiapkan makan malam, tetap melipat baju Emil dengan rapi, tetap menunggu suara pintu dibuka walau ia tahu… kadang Emil tidak pulang.

Sudah enam bulan sejak malam itu. Malam di mana Emil tertidur di sofa dengan ponsel terbuka. Mira tidak pernah ingin menjadi istri yang mengintip, tapi malam itu hatinya minta bukti. Dan ia menemukannya.

Carol.

Nama itu muncul di notifikasi. Mira menekan layar tanpa suara. Chat itu seperti peluru yang menembus pelan tapi tepat di jantung.

“Aku gak sabar ketemu kamu besok. Kemeja biru yang kamu pakai tadi bikin aku makin kangen.”

“Nanti aku masakin ya, kamu suka ayam kan?”

Tangannya gemetar. Napasnya tercekat. Tapi ia tidak membangunkan Emil. Ia hanya memandangi wajah suaminya, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun pernikahan mereka, Mira merasa sendirian.


Pagi harinya, Mira tetap membuatkan sarapan.

Ia tetap menyuapi Lila yang tidak suka sayur, tetap mengepang rambut Reza yang mulai protes ingin gaya rambut “anak cowok”, tetap mencium tangan Emil sebelum berangkat, walau hatinya ingin berteriak.

Tapi ia diam.

Karena dalam diamnya, ada anak-anak yang masih percaya bahwa rumah ini utuh. Bahwa ayah mereka adalah pahlawan. Bahwa ibu mereka selalu tersenyum karena bahagia, bukan karena menyembunyikan luka.

Malam-malam berikutnya, Emil semakin jarang pulang. Kadang bilang lembur. Kadang bilang ada urusan kantor luar kota. Kadang tidak bilang apa-apa.

Mira tahu ke mana Emil pergi. Ia pernah mengikuti suaminya diam-diam. Ia lihat Emil turun dari mobil bersama Carol, tertawa, tangannya menggenggam tangan perempuan itu seperti tak punya beban.

Mira menahan napas di balik kemudi. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya… mati rasa.


Suatu malam, saat hujan deras, Lila demam tinggi. Mira menelpon Emil berkali-kali, tapi tak diangkat. Saat akhirnya tersambung, suara Emil terdengar kesal.

“Aku lagi sibuk, Mir. Besok pagi aja, ya.”

“Lila demam, Emil,” suara Mira serak. “Dia terus manggil kamu.”

Hening. Lalu suara tawa pelan dari perempuan di balik sambungan.

“Maaf, nanti aku pulang.”

Tapi ia tidak pulang malam itu.

Mira menggendong Lila ke rumah sakit sendiri. Ia menggigil, bukan karena hujan, tapi karena dinginnya kenyataan: ia tidak cukup penting untuk diprioritaskan. Bukan lagi.


Di dapur, Mira menyetrika kemeja biru Emil. Kemeja yang disukai Carol. Ia tahu, karena Carol menulisnya di chat. Kemeja itu ada noda kecil di kerah, dan Mira menggosoknya dengan keras, seperti ingin menghapus jejak Carol dari hidupnya.

Tapi noda itu membandel.

Seperti cinta yang tak lagi utuh. Seperti luka yang terus terbuka.


Carol bukan perempuan jahat. Mira tahu itu. Ia pernah melihatnya sekali, tanpa Carol tahu. Di parkiran mal, Carol sedang menunggu Emil. Wajahnya manis, sederhana, bahkan terlihat tulus. Tapi itu membuat semuanya lebih menyakitkan.

Andai Carol jahat, Mira bisa membenci.

Tapi Carol mencintai Emil seperti Mira dulu. Dengan segenap hati.

Dan Emil? Ia tertawa lebih bebas bersama Carol daripada sepuluh tahun terakhir bersama Mira.


Suatu malam, saat anak-anak sudah tidur, Emil pulang lebih cepat dari biasanya. Mira kaget, tapi tetap menyambut dengan segelas teh.

Emil duduk, menatap meja makan, lalu berkata pelan, “Mir… kita bisa bicara?”

Jantung Mira mencelos.

“Aku… nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi kamu tahu kan, aku dan Carol…”

Mira menunduk. “Aku tahu.”

Emil menarik napas panjang. “Aku nggak mau bohong lagi. Aku sayang kamu. Sayang anak-anak. Tapi aku juga…”

“Sayang dia?” Mira menyelesaikan kalimat itu.

Emil diam.

“Aku nggak mau kehilangan kalian. Tapi… aku juga nggak bisa terus hidup begini, Mira.”

Mira tersenyum kecil, pahit. “Aku sudah kehilangan kamu bahkan sebelum kamu jujur malam ini.”


Hari-hari setelah itu, Mira makin sering menyendiri. Tapi ia tetap menjalankan semua seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari luar. Anak-anak masih sekolah, Emil masih pulang—kadang. Tapi Mira tahu semuanya sudah retak.

Ia mulai menulis surat. Untuk anak-anak. Untuk Emil. Untuk dirinya sendiri.

Dalam surat itu, ia mencurahkan semuanya. Rasa sakit, kecewa, dan cinta yang masih tersisa meski perlahan mati.

Ia menyimpan surat-surat itu di dalam kotak kayu kecil di lemari, bersama foto pernikahan mereka yang kini terasa seperti mimpi yang gagal diwujudkan.


Malam itu, Mira duduk lama di depan meja rias. Cermin memantulkan wajah yang lelah, dengan mata yang sudah terlalu sering menahan tangis. Ia membuka laci kecil, mengeluarkan botol putih kecil berisi obat tidur yang dulu diresepkan dokter ketika ia sempat mengalami insomnia beberapa bulan terakhir.

Ia menatap pil-pil itu, lama. Lalu meletakkannya di samping segelas air.

Di meja makan, surat-surat yang ia tulis selama ini sudah dimasukkan ke dalam kotak kayu kecil, rapi. Foto pernikahan mereka diletakkan di atasnya, seperti penutup kisah.

Mira masuk ke kamar, menyelimuti Reza dan Lila, mencium kening mereka satu per satu dengan bibir gemetar.

Lalu ia berbaring.

Hening menyelimuti kamar malam itu. Bukan hening yang tenang, tapi hening yang panjang—seperti waktu sedang diam menunggu seseorang pergi.

Dan di pagi hari… Mira tidak bangun.

Tubuhnya tenang, wajahnya damai. Tak ada tanda sakit. Tak ada luka. Tapi dunia kehilangan cahayanya.

Di samping tempat tidurnya, hanya tersisa gelas kosong dan botol obat tidur yang sudah setengah kosong.

Anak-anak yang besok pagi berusaha membangunkannya. Tapi tubuh Mira sudah dingin, diam, tak bergerak. Di sampingnya ada secarik kertas kecil, satu surat terakhir yang tidak masuk ke dalam kotak:

“Maaf, aku terlalu lelah berpura-pura. Aku pergi bukan karena ingin menyerah, tapi karena aku tahu kamu semua akan baik-baik saja tanpaku. Lebih baik tanpaku. Maafkan aku, Reza, Lila. Kalian adalah cinta yang tidak pernah mengecewakanku. Emil… semoga kamu temukan bahagiamu, bahkan jika bukan denganku.”


Pemakaman Mira diguyur hujan. Langit seperti ikut menangis, menurunkan air dari luka yang tidak pernah dilihat siapa pun. Emil berdiri diam, menggenggam tangan anak-anak yang terlalu kecil untuk mengerti bahwa ibu mereka telah memilih diam yang terakhir.

Carol hadir. Dari jauh. Tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk dalam diam, menatap tanah basah yang kini menyimpan perempuan yang dikalahkan oleh cinta yang ia pertahankan sendirian.

Malamnya, Reza menemukan kotak kayu itu. Ia membuka surat demi surat, membacanya perlahan sambil duduk di lantai kamar ibunya. Emil mendengarnya dari balik pintu. Lalu masuk. Lalu menangis. Menangis untuk pertama kalinya.

Menangis karena akhirnya ia sadar: yang paling mencintainya adalah orang yang ia tinggalkan.

Ia sudah menghancurkan perempuan yang paling mencintainya… dengan perlahan, dengan diam, tanpa sadar, sampai perempuan itu mengambil keputusan paling buruk karena dirinya.


Mira telah pergi. Tapi diamnya tetap tinggal.

Diam yang mengajarkan betapa cinta sejati kadang memilih bertahan, bahkan saat seharusnya pergi.

Dan ketika ia akhirnya pergi, dunia jadi lebih sunyi tanpanya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *