Hujan deras mengguyur Dago sejak tengah malam. Bukan hujan romantis yang cuma rintik-rintik, tapi hujan yang seperti sedang meluapkan dendam lama. Di kamar sempit kontrakan dua lantai yang cat temboknya mulai mengelupas, Elang duduk sendiri. Rokok ketiga sudah setengah habis. Matanya menolak kompromi. Ingatan malah bekerja lembur.
Jendela tua berderit. Di luar, pohon flamboyan tua bergoyang keras, rantingnya memukul-mukul kaca.
“Hujan segini, ya, pasti kamu suka,” gumamnya sambil menatap langit-langit.
Srida.
Nama itu datang bersama hujan. Sudah bertahun-tahun, tapi tetap saja: setiap rinai menggedor kenangan. Elang mengingat Teras Cikapundung, tempat mereka dulu menertawakan orang-orang yang lari dari hujan. Srida mencintai hujan. Bukan suka—jatuh cinta.
“Sekacau apa pun harimu, coba kehujanan dulu, nanti juga reda,” katanya, sambil menggigit pastel.
Dan Elang, saat itu, hanya bisa mencatat semuanya diam-diam: aroma rambutnya yang basah, suara tawanya, kalimat-kalimat kecil yang ia simpan seperti surat cinta tak dikirim.
Malam itu harusnya Elang menyelesaikan pitch iklan skincare dari Jakarta. Tapi kalimat “Kulit Sehat adalah Investasi” terasa seperti lelucon kejam.
Ia mematikan laptop, menyambar jaket kulit, dan meluncur dengan motor tuanya. Tak ada arah. Hanya ingin pergi. Kota ini basah, seperti dadanya.
Dago. Cihampelas. Cipaganti. Semua menyimpan sisa mereka. Setiap belokan punya bayangan Srida yang bersandar di punggungnya. Pelukan di lampu merah. Diam yang tak pernah kosong.
Sampai akhirnya, mereka pun diam—yang benar-benar kosong.
Srida dulunya mahasiswi Sastra Prancis Unpad. Sedang Elang penyair kampus yang malas lulus. Mereka bertemu di perpustakaan pusat, berebut buku Sartre. Srida menang. Tapi Elang yang pulang membawa senyum dan nomor WhatsApp.
Mereka membaca di Braga. Duduk diam di taman Lansia. Sesekali menginap di penginapan Lembang demi pagi berkabut dan teh panas. Hubungan mereka bukan kisah penuh drama. Tapi penuh jeda yang berarti.
Kemudian Srida lulus. Dan waktu mulai membuat jarak.
Srida diterima kerja di agensi literasi internasional di Jakarta. Elang? Baru mulai karier di rumah produksi kecil Bandung.
“Jakarta itu nggak tidur, Lang. Tapi aku ngerasa makin sepi,” katanya.
“Aku nggak pernah nyuruh kamu tinggal,” jawab Elang.
“Justru karena kamu nggak nyuruh, aku makin susah ninggalinnya.”
Kalimat terakhir itu masih menempel di telinga Elang sampai sekarang. Sama seperti bunyi roda kereta yang membawa Srida pergi pagi itu. Hujan turun. Tapi Elang hanya berdiri, membatu.
Sisa hubungan mereka bertahan lewat telepon yang makin singkat, pesan yang makin kaku, lalu… hening. Masing-masing jadi asing.
Entah kenapa, malam itu Elang membawa motornya ke arah Lembang. Udara makin dingin. Tapi pikirannya lebih dingin.
Ia berhenti di warung kopi tua di Punclut. Tempat itu masih ada. Masih hangat. Masih bau kayu.
Dan di sudut ruangan, seperti muncul dari ingatan yang lupa tertutup, ada Srida.
Ia menoleh. Wajahnya terkejut. Tapi lalu tersenyum kecil.
“Lang…”
“Kamu masih suka tempat ini,” ujar Elang, nyaris berbisik.
“Entah kenapa malam ini kepikiran ke sini. Dan kamu ada. Gila, ya?”
Mereka duduk. Tak banyak bicara. Tak butuh. Kadang yang berat justru yang tak diucapkan.
“Aku kira kamu udah lupa tempat ini,” kata Elang.
“Ada hal-hal yang nggak bisa dilupain. Nggak peduli sejauh apa kamu pergi.”
Mereka ngobrol. Tentang buku. Tentang kota. Tentang kelelahan Jakarta. Tentang Bandung yang seolah membekukan waktu.
Srida tak bilang akan tinggal.
Elang tak tanya.
Tapi sebelum pamit, Srida memeluknya lama. Peluk yang bukan sekadar salam.
“Lang,” katanya di telinga Elang, “kalau suatu hari aku datang ke tempat ini lagi dan kamu juga ada… kamu tahu artinya apa, kan?”
Elang menatap mata itu. Masih sama. Masih yang dulu.
“Aku tahu.”
Srida pergi. Meninggalkan aroma hujan dan satu kemungkinan yang belum mati.
Dan Elang? Ia tetap duduk. Kopi sudah dingin. Tapi dadanya hangat.
“Aku ingat kamu,” bisiknya. Kali ini tanpa gumam. Penuh.
Dan hujan, untuk sesaat, seperti mendengarkan.

