“Panduan Emosional Bagi Mereka yang Sudah Kehilangan Logika dan Koneksi Otak”
Di era di mana notifikasi WhatsApp bisa memicu perang rumah tangga dan emoji hati bisa menyebabkan perceraian, kita hidup dalam zaman yang sungguh menantang bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan emosi dewasa. Tidak heran jika sebagian laki-laki, saat hubungan rahasianya mulai berantakan, terlintas oleh satu pikiran primal dan sangat dramatis: “Bagaimana kalau aku bunuh saja selingkuhanku?”
Mengerikan? Ya. Tapi juga… cukup umum di ruang imajinasi para pria impulsif yang mengira emosi itu seperti popok bayi—sekali kotor, langsung dibuang.
Dalam esai ini, kita akan menyelami secara satiris namun menyayat realita, mengapa ide membunuh selingkuhan mungkin tampak menggoda bagi sebagian pria, dan mengapa kenyataannya itu adalah tindakan yang tidak hanya ilegal dan kejam, tetapi juga amat sangat tolol.
Mengapa Membunuh Selingkuhan Terdengar seperti Ide yang “Menarik”?
1. “Aku Cinta Dia! Tapi Dia Mengkhianati Aku!”
Tentu. Anda berselingkuh dari pasangan resmi karena merasa tidak dimengerti. Lalu Anda jatuh cinta pada selingkuhan yang juga… berselingkuh dari pasangannya. Ketika akhirnya dia memutuskan hubungan dengan cara yang kurang dramatis dari yang Anda harapkan (misalnya, lewat pesan: “Maaf, aku kembali ke suamiku 😢”), Anda merasakan hancurnya dunia.
Namun mari kita berlogika: apakah orang yang bersedia menjadi selingkuhan benar-benar contoh dari kesetiaan? Anda mencari bunga mawar di tempat pembuangan sampah, lalu terkejut ketika kelopaknya layu.
Kenyataan pahitnya: dia tak mengkhianati cinta Anda. Dia hanya mengakhiri proyek imoral dua arah yang seharusnya tak pernah dimulai.
2. “Dia Tahu Terlalu Banyak Tentangku—Kalau Dia Bicara, Hidupku Hancur!”
Dan Anda berpikir… membunuhnya akan menyelesaikan semua itu?
Strategi ini mengandalkan logika film murahan tahun 90-an: “bunuh saksi, selesai masalah.” Tapi ini bukan film, dan Anda bukan penjahat cerdas. Anda kesulitan menghapus riwayat pencarian Google, apalagi menyusun alibi pembunuhan yang kedap bukti.
Satu sidik jari di gelas, satu rekaman CCTV di Alfamart, satu tangkapan layar chat dengan emoji cium, dan bam—pengacara lawan punya slideshow PowerPoint berjudul “Mengapa Terdakwa Ini Adalah Tukang Selingkuh Gagal yang Nekat Membunuh.”
3. “Aku Tidak Tahan Lagi, Dia Terus Mengganggu Hidupku!”
Benar, karena satu-satunya solusi untuk masalah wanita posesif adalah… penjara seumur hidup dan kemungkinan dibacok napi lain di kantin blok C.
Lelaki yang berkata ini biasanya lupa ada fitur bernama blokir kontak. Atau lebih ajaib lagi: kejujuran dan tanggung jawab. Tapi ya, memblokir dianggap kurang maskulin dibanding mengubur seseorang di kebun belakang, ya?
Kenapa Ini Sama Sekali Tidak Logis dan Menyedihkan
1. Hukum Tidak Memihak Emosi Anda
Tak peduli seberapa dalam cinta Anda, atau betapa Anda merasa “dikhianati,” hukum pidana tidak mengenal istilah “terlalu sakit hati hingga menusuk.” Pasal pembunuhan tidak memiliki sub-pasal “kecuali kalau dia nyebelin banget.”
Setiap detektif tahu bahwa kasus-kasus seperti ini hampir selalu melibatkan motif emosional yang lemah, bukti digital yang banyak, dan pelaku yang bodohnya bukan main. Bahkan jika Anda berhasil “menghilangkan” selingkuhan Anda, jejak Anda lebih panjang daripada benang merah dalam sinetron.
2. Psikologi Anda Akan Menghancurkan Diri Sendiri
Kecuali Anda seorang psikopat klinis yang tidak punya empati, Anda akan menyesal. Jika tidak karena kehilangan nyawa orang lain, maka karena kehilangan karier, reputasi, dan kemungkinan besar seluruh hidup sosial Anda.
Bayangkan Anda duduk dalam sel bersama napi lain, menjelaskan alasan Anda dipenjara:
“Saya membunuh selingkuhan saya karena dia mulai dekat dengan orang lain.”
“Oh. Jadi, Anda bunuh dia karena Anda tidak bisa mengatur perasaan Anda?”
“…”
“Sip. Boleh minta rokok sebatang, Bro?”
3. Efek Domino Sosial: Dari Tukang Selingkuh Menjadi Meme
Begitu kasus Anda viral, hidup Anda bukan hanya hancur—itu akan jadi konten. Netizen akan menggali akun Instagram Anda, mengedit foto Anda dengan tulisan “BUCIN MEMATIKAN,” dan mungkin Anda akan punya versi karikatur lucu di TikTok.
Teman-teman Anda akan canggung menyebut nama Anda. Mantan pasangan Anda akan mengatakan ke semua orang, “Aku sih udah tahu dari awal dia ada potensi psikopat.” Bahkan mantan guru SMA Anda mungkin akan berkomentar, “Waktu itu dia pernah bolos ujian. Sudah kelihatan bakatnya.”
Alternatif yang Lebih Dewasa dan Lebih Aman
1. Terapi
Kedengaran klise? Memang. Tapi setidaknya terapis tidak akan membawa Anda ke penjara. Mereka mendengarkan Anda tanpa menulis laporan kriminal.
2. Jujur dan Mengaku Kesalahan
Aneh memang bagi sebagian pria, tapi… kadang-kadang hidup bisa berubah drastis jika Anda berani berkata, “Saya salah.” Efeknya mirip seperti vaksin: menyakitkan sebentar, tapi menyelamatkan Anda dari penyakit kronis.
3. Bertobat dan Menata Hidup
Kalau Anda cukup religius untuk merasa bersalah, maka salurkan itu dengan cara yang tepat. Banyak pria besar lahir dari krisis moral. Dan Anda bisa mulai dari tidak jadi pembunuh.
Cinta Itu Buta, Tapi Kejahatan Itu Bisu… Sampai Anda Ditangkap
Membunuh selingkuhan bukanlah bentuk perjuangan cinta. Itu adalah bentuk kegagalan moral, kebodohan strategis, dan ketidakmampuan mengelola emosi level SMP.
Jika Anda merasa hubungan Anda berakhir tragis, ingatlah ini: lebih baik dicap mantan yang memalukan, daripada dicap tersangka kasus pembunuhan dengan motif karena cinta bertepuk sebelah dada.
Cinta bukan alasan untuk membunuh. Kalau pun Anda mau bunuh sesuatu, bunuh egomu, bukan orangnya.

