Skip to content
Celoteh Pacakleret Celoteh Pacakleret

Kebaikan Untuk Semua

  • Tentang Kami
    • Tentang Arief
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Chat via WA
  • Shop
  • facebook.com
  • twitter.com
  • t.me
  • instagram.com
  • youtube.com
Subscribe

Psikologi

Home » Psikologi

Indonesia disebut negara paling makmur oleh Harvard-Gallup. Tapi mengapa wajah masyarakatnya justru muram? Inilah ironi kebahagiaan kita.
Posted inCeloteh Pacakleret Nasional Psikologi

INDONESIA DINOBATKAN NEGARA PALING MAKMUR, TAPI KENAPA KITA TAK TAMPAK BAHAGIA?

Tepuk tangan dulu, saudara-saudara! Kita mulai dengan kabar menggembirakan: Indonesia, negeri +62 tercinta, dinobatkan sebagai negara paling makmur sedunia! Ya, betul. Bukan Swedia, bukan Swiss, apalagi negara-negara yang kalau difoto…
Posted by Bang Arief 25/06/2025
Aku Ingin Membunuh Selingkuhanku
Posted inCeloteh Pacakleret Psikologi Relationship

Aku Ingin Membunuh Selingkuhanku

“Panduan Emosional Bagi Mereka yang Sudah Kehilangan Logika dan Koneksi Otak” Di era di mana notifikasi WhatsApp bisa memicu perang rumah tangga dan emoji hati bisa menyebabkan perceraian, kita hidup…
Posted by Bang Arief 03/06/2025
Brainrot di Indonesia: Ketika Otak Lelah Menelan Konten Absurd
Posted inCeloteh Pacakleret Pendidikan Psikologi

Brainrot di Indonesia: Ketika Otak Lelah Menelan Konten Absurd

Pengantar: Ketika Hiburan Menjadi Racun Pelan-Pelan Di suatu sore yang malas, jari kita menggeser layar ponsel tanpa sadar. Sekejap muncul video pendek seorang pria berjoget sambil berdandan seperti sosis, diiringi…
Posted by Bang Arief 30/05/2025
Janda Itu Bukan Aib: Perjalanan Luka, Bertahan, dan Bangkit Sendiri
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Psikologi

Janda Itu Bukan Aib: Perjalanan Luka, Bertahan, dan Bangkit Sendiri

Aku masih inget banget, sore itu hujan turun deras. Kami ketemu secara nggak sengaja di sebuah kafe yang juga jadi co-working space, cukup ramai tapi tetap nyaman buat ngobrol, tempat…
Posted by Bang Arief 22/05/2025
“Cermin di Toko Perhiasan”
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Pendidikan

“Cermin di Toko Perhiasan”

Di tengah hiruk-pikuk kota besar, tinggallah seorang wanita muda bernama Livia. Setiap pagi, ia berdiri lama di depan cermin, memastikan kalung emasnya tampak jelas, tas bermerek terlihat mencolok, dan riasannya…
Posted by Bang Arief 21/05/2025
Hidup Bersama Tapi Terasa Sendiri: Saat Pernikahan Tak Lagi Penuh Cinta
Posted inCeloteh Pacakleret Psikologi Relationship

Hidup Bersama Tapi Terasa Sendiri: Saat Pernikahan Tak Lagi Penuh Cinta

Siang itu, di tengah jam istirahat kerja, aku menerima pesan dari seorang teman lama. Dia minta izin untuk bicara sebentar. Kami bertemu di sebuah kafe kecil dekat kantorku, tempat yang…
Posted by Bang Arief 21/05/2025
“Saya Kira Dia Lagi Santai, Ternyata Lagi Berjuang”
Posted inCeloteh Pacakleret Psikologi Relationship

“Saya Kira Dia Lagi Santai, Ternyata Lagi Berjuang”

Hari Sabtu kemarin, aku ketemu dengan temanku. Usianya sekitar 35 tahun, seorang ayah dari dua anak. Kami duduk cukup lama di sebuah warung kopi kecil, membicarakan banyak hal. Dari pekerjaan,…
Posted by Bang Arief 20/05/2025
“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Nasihat Diri

“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius

Serius, ini bukan spiritualitas. Ini manipulasi. Ada satu kalimat yang terdengar religius banget, tapi sebenarnya ngaco: "Aku selingkuh karena kamu kurang berdoa buat aku." Kedengerannya kayak orang yang sadar spiritual,…
Posted by Bang Arief 20/05/2025
“Cinta yang Tersesat Diam-Diam”
Posted inCeloteh Pacakleret Psikologi Relationship

“Cinta yang Tersesat Diam-Diam”

Dari luar tampak mesra: foto berdua, dinner bareng, saling support di medsos. Tapi suatu hari, ada nama asing muncul di notifikasi. Obrolan berubah jadi rahasia. Dan pelan-pelan, kepercayaan runtuh. Kenapa…
Posted by Bang Arief 17/05/2025
Fenomena Obsesi iPhone di Indonesia: Antara Status Sosial dan Tekanan Konsumsi
Posted inCeloteh Pacakleret Ekonomi Nasihat Diri

Fenomena Obsesi iPhone di Indonesia: Antara Status Sosial dan Tekanan Konsumsi

Di era digital saat ini, smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Salah satu merek yang paling mendominasi pasar adalah iPhone. Di Indonesia, kepemilikan iPhone bukan hanya sekadar…
Posted by Bang Arief 07/01/2025

Posts pagination

1 2 Next page
Penulis Tamu
  • JURNALISTIK, PERS, DAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA: PILIHAN JALUR HIDUP SEORANG NUR ISKANDAR

    Oleh M. Hermayani Putera Berbicara mengenai perjalanan dan perkembangan dunia pers dan jurnalistik Kalbar dalam kurun waktu dua puluh lima tahun terakhir ini, ada satu nama yang selalu hadir menyertai kedua hal ini. Jika jurnalistik, mengutip dari Jurnalistik Terapan (Batic Press, 2004), bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas atau proses kerja seorang wartawan, maka pers lebih mendalami kepada insitusi atau lembaga ataupun perusahaan yang bergerak di bidang penyiaran hasil kerja wartawan atau penulis tersebut. Nama yang dimaksud ialah Nur Iskandar. Nama yang bermakna mulia sekali, yakni Berilmu dan Tabah. Orangtua beliau tentu punya doa dan harapan yang mulia ketika memberi nama pada anaknya ini. Dulu saya memanggilnya cukup dengan BANG NUR saja. Namun sejak enam tahun terakhir ini lebih sering menyapa beliau BANG NUR IS. Hal ini mengingat saya juga cukup dekat berinteraksi dengan abang beliau, BANG MUHAMMAD NUR HASAN, penggiat gerakan menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah berdimensi pemberdayaan di Kalbar dan bahkan sudah meluas hingga ke beberapa kota lain di luar Kalbar. Kalau abang beliau ini, kami akrab menyapanya dengan TOK Ya, karena ide-ide kebaikan dari jamaah beliau selalu ditampung, diterima, dan diiyakan. Lihatlah bentangan dedikasi dan pengabdian Bang Nur Is dalam lansekap dinamika dunia pers dan jurnalistik di bumi khatulistiwa. Dunia yang ia tekuni sejak mahasiswa, dilanjutkan sebagai profesi pasca meninggalkan kampus, dan terus didalami hingga saat ini. Pers mahasiswa, Harian SUAKA, Harian Equator, Harian Borneo Tribune, Radio Volare, dan sekarang mengelola media online TERAJU. Walaupun belakangan ini BANG NUR IS aktif di gerakan wakaf, literasi, dan kebudayaan, tapi ia tetap mahir berselancar sebagai seorang penggiat jurnalistik sejati, mewartakan geliat gerakan-gerakan ini. Justru di sini saya melihat Nur Is mampu menjadi seorang penyampai pesan mulia dari gerakan wakaf, pentingnya memperkuat literasi, dan mengapa kita perlu meneguhkan akar kebudayaan kita yang harus terus adaptis dinamis berdialektika dengan perkembangan budaya global. NUR IS tak jeri, apalagi takut, dengan kehadiran sesuatu yang baru datang atau dikenalkan dari luar. Malah ini menjadi sebuah tantangan baginya untuk terus belajar hal-hal baru, dan mengintegrasikannya dengan aspek lain. Selamat dan semangat terus berkarya, BANG NUR IS. Happy milad dan mensyukuri nikmat umur separuh abad ini. Semoga selalu sehat dan hidup penuh barakah di sisa jatah umur yang diberikan Allah. Masih muda kita Bang, jangan terlalu sering nengok cermin, apalagi mengecek warna rambut yang sudah ada rona putih di beberapa bagian. Anggap saja itu bunga pohon jambu air yang gugur dan pas jatuh di rambut kita…

    M. Hermayani Putera
  • Buku Setan

    Olive, seorang mahasiswi Untan, lagi jalan-jalan ke Banten. Bergaya seperti seorang petualang sejati, mulailah dia ngitar-ngitar pelosok-pelosok kota Banten. Hari mulai sore dan masuklah dia ke sebuah toko buku yang bangunan tua dan kuno. Buku-buku yang dijual di dalam toko buku kebanyakan adalah buku-buku tentang ilmu gaib, cerita hantu dan sejarah setempat. Olive mulai gugup. Tapi merasa sebagai seorang petualang, dia berusaha membesarkan hatinya. Matanya tertuju ke sebuah buku kuno yang sangat menarik. Judulnya “Tujuh cara melihat hantu”. Olive sangat tertarik untuk membacanya. “Bang… Bang…”, panggil Olive untuk mencari penjualnya. Tiba-tiba Olive dikagetkan suara dari belakang. “Ada apa, Non.”, jawab seorang lelaki tua yang menyeramkan. “Buku ini berapa?”, tanya Olive “Wah, buku ini tidak bisa dijual ke sembarang orang, Non. Ini buku kuno dan wasiat”, jawab penjaga toko, “Harganya Enam ratus ribu rupiah”. “Mahal amat”, jawab Olive, ” Dua ratus ribu deh”. “Gak bisa kurang, Non. Itu sudah harga bukunya. Karena sudah lama tidak ada pembeli di toko, saya kasih non diskon seratus ribu” Olive setuju dan bayar si penjual lima ratus ribu rupiah. Sebelum Olive pergi, si penjual memperingati dia. “Non, buku ini buku wasiat, tidak sembarangan orang bisa membacanya. Aku peringatkan anda untuk tidak membuka halaman terakhir atau anda akan ketiban sial seumur hidup”. Sebelum Olive keluar dari toko, si penjual menyahut lagi dengan suara seram, “Ingat non jangan coba-coba buka halaman terakhir!”. Malam itu Olive yang tinggal di sebuah villa membaca buku itu dan ketiduran. Tengah malam dia dibangunkan oleh suara petir dan angin yang masuk dari jendelanya yang terbuka. Olive bangun dan berusaha menutup jendela. Tiba-tiba dia teringat dengan bukunya. Karena tertiup angin kencang, halaman di buku itu mulai membuka sendiri dari halaman ke halaman. Teringat dengan peringatan si penjual buku, Olive berusaha meraih bukunya dan menyetop jalannya halaman di buku itu dari tiupan angin. Terlambat… Saat Olive berhasil meraih buku itu, dia lagi memegang halaman terakhir. “Mati aku”, gumam Olive dengan panik, aku bakal sial seumur hidup”. Olive mulai ketakutan dan was-was kalau ada makluk gaib yang muncul Setelah setengah jam menutup mata dengan ketakutan, Olive memberanikan diri untuk membuka mata kirinya dan melirik halaman terakhir buku itu: Harga asli : Rp. 20,000,- Harga Diskon : Rp. 10,000,- Cetakan tahun 2009.

Copyright 2025 — Celoteh Pacakleret. All rights reserved. Bang Arief Jak
Scroll to Top
error: Content is protected !!