Alex Consani, seorang model yang mulai berkarir di dunia fashion sejak usia muda, berbagi pengalamannya dalam sebuah wawancara dengan Models.com. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan modelingnya dimulai saat ia berusia 11 atau 12 tahun di sebuah kamp musim panas yang khusus untuk transgender. Pengalaman tersebut sangat membuka mata bagi Alex, karena ia bertemu dengan banyak orang yang telah sukses di industri fashion dan mendapatkan wawasan berharga dari mereka.
Salah satu momen penting dalam karirnya adalah ketika ia berpartisipasi dalam pertunjukan Tom Ford dan bekerja sama dengan Carine Roitfeld. Alex mengungkapkan bahwa ia memilih untuk mengejar karir modelingnya meskipun harus mengorbankan waktu sekolah. “Sekolah akan selalu ada, tetapi kesempatan yang saya miliki adalah sesuatu yang ingin saya kejar,” ujarnya.
Selain modeling, Alex juga terlibat dalam pembuatan video musik, termasuk proyek dengan King Princess. Ia merasa bahwa dunia video musik memberinya kebebasan untuk mengekspresikan diri, mirip dengan bagaimana seorang aktris menampilkan kepribadiannya. Alex menekankan pentingnya menunjukkan kedalaman dan kepribadian di balik citra model yang sering kali dianggap satu dimensi.
Dalam pandangannya, runway fashion adalah tempat di mana kreativitas sejati dapat diekspresikan. Ia merasa terhormat dapat bekerja dengan desainer dan tim kreatif yang berbagi visi yang sama. Alex percaya bahwa setiap model memiliki keunikan dan bakat yang berbeda, dan penting untuk mengakui keberagaman ini dalam industri fashion.
Alex juga menyoroti perlunya inklusivitas yang lebih besar dalam casting model. Ia mencatat bahwa banyak model berbakat yang tidak mendapatkan kesempatan karena identitas mereka dianggap tidak “dapat diterima.” Menurutnya, penting untuk membuka ruang bagi semua orang, termasuk model dengan disabilitas, agar dapat menunjukkan bakat mereka.
Seiring dengan perkembangan media sosial, Alex merasa bahwa platform ini telah membuat fashion lebih mudah diakses. Ia memulai TikTok selama pandemi COVID-19 sebagai cara untuk terhubung dengan orang lain dan berbagi pandangannya tentang fashion dan kehidupan. “Tujuan saya dalam industri ini adalah untuk memiliki suara yang didengar dan berbicara tentang hal-hal yang saya percayai,” katanya.
Alex menekankan bahwa untuk mencapai aliansi sejati dan inklusivitas, kita perlu melihat lebih jauh dari sekadar kategori identitas. Fashion seharusnya merayakan keberagaman dan keunikan setiap individu, bukan membatasi diri pada ukuran sampel atau identitas yang mudah dicerna. “Keindahan fashion adalah menemukan apa yang disukai dan diwakili oleh setiap orang,” tutupnya.
Dengan semangat dan dedikasi, Alex Consani terus berjuang untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif dan merayakan kreativitas dalam dunia fashion.
Dalam sebuah momen bersejarah 2 hari yang lalu, Consani mengungkapkan rasa syukurnya setelah menjadi wanita transgender pertama yang memenangkan penghargaan bergengsi di industri fashion. Dengan penuh emosi, ia mengungkapkan, “Saya adalah wanita transgender pertama yang memenangkan penghargaan ini,” disambut dengan tepuk tangan meriah dari hadirin.
Dalam pidatonya, ia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya yang telah mendukungnya sejak awal. “Saya ingat saat berusia 12 tahun dan memberi tahu mereka bahwa saya ingin bergabung dengan industri ini,” katanya, mengenang momen penting dalam hidupnya. Dukungan dari orang tua menjadi fondasi yang kuat bagi perjalanan karirnya, memberikan keberanian untuk mengejar impian di dunia yang sering kali penuh tantangan.
Melalui perjalanan yang penuh liku-liku, model ini menunjukkan bahwa dengan ketekunan, keberanian, dan dukungan dari orang-orang terkasih, tidak ada yang tidak mungkin. Kemenangannya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang berada di komunitas LGBTQ+, untuk terus berjuang dan percaya pada diri sendiri.
Dengan semangat yang membara, ia berharap dapat terus mempromosikan inklusivitas dan keberagaman dalam industri fashion, serta mendorong lebih banyak orang untuk menerima diri mereka apa adanya. “Ini adalah langkah kecil bagi saya, tetapi langkah besar bagi komunitas kita,” tutupnya dengan penuh harapan.
Kisahnya adalah pengingat bahwa setiap individu, terlepas dari identitasnya, memiliki hak untuk bermimpi dan meraih kesuksesan.
Bagaimana menurut kalian?

