Malam itu, langit kota Pontianak diguyur gerimis tipis. Di sebuah kafe kecil yang terletak di pojok jalan, aku duduk menunggu dua orang yang sebelumnya menghubungiku melalui pesan WhatsApp. Mereka keduanya selama ini aku kenal hanya di Facebook, dan entah kenapa beberapa hari lalu setelah aku promosi paket umrah travelku tiba-tiba bilang ingin bertemu secara pribadi. Awalnya aku pikir mau tanya-tanya soal umrah atau haji. Namun kata suaminya mereka butuh teman bicara yang tidak mengenal mereka secara personal.
Pukul 19.47, sepasang suami istri masuk. Wanita itu mengenakan kerudung biru tua, wajahnya terlihat lelah, namun tetap berusaha tersenyum. Pria di sampingnya tampak pendiam, membawa raut wajah kaku yang entah menyimpan amarah atau keputusasaan. Mereka Mira dan Andi.
Kami saling sapa, memesan minuman, lalu masuk ke topik yang rupanya jauh lebih berat dari perkiraanku.
“Mas, kami udah sepakat. Kami mau cerai,” kata Mira pelan, tapi tegas.
Aku menatap mereka bergantian.
“Boleh aku tanya, kenapa?”
Andi menjawab singkat,
“Sudah nggak ada rasa. Rumah itu isinya cuma diam dan konflik.”
Mira melanjutkan,
“Kami udah sepuluh tahun menikah. Anak satu, laki-laki, 8 tahun. Tapi dua tahun terakhir kami udah kayak orang asing. Bahkan saling menyapa pun terasa canggung.”
Aku menyimak. Kadang, hanya dengan mendengar, seseorang bisa merasa lebih ringan.
“Kami udah ke konseling, ustaz, psikolog. Tapi semuanya berakhir di titik yang sama. Aku ngerasa udah nggak bisa lanjut,” Mira memegang cangkir kopinya, tangannya gemetar.
Aku menunduk sejenak. Lalu bertanya dengan pelan,
“Pernah kalian shalat malam bareng?”
Mereka terdiam. Saling menatap sejenak, seperti baru saja mendengar saran yang aneh.
“Maksudnya tahajud, Mas?” tanya Andi.
Aku mengangguk.
“Iya. Tahajud bareng, doa bareng, curhat ke Allah bareng. Sudah pernah coba?”
Mira menggeleng. Andi pun begitu.
“Jujur, kami bahkan jarang ngobrol sekarang. Apalagi tahajud bareng…”
Aku tersenyum kecil.
“Mungkin justru itu yang kalian perlu coba. Bukan untuk mempertahankan, tapi untuk mencari kejelasan. Karena bisa jadi selama ini kalian bicara ke semua orang, kecuali ke Pemilik hati kalian masing-masing.”
Mereka terdiam lama. Aku melanjutkan.
“Coba seminggu saja. Bangun malam, wudhu, shalat tahajud dua rakaat. Lalu duduk bareng, doa bareng. Ngomong ke Allah, bukan saling menyalahkan.”
Mira menatapku, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau setelah itu tetap nggak bisa lanjut?”
“Maka setidaknya kalian pisah dalam keadaan sudah saling memaafkan dan lebih dekat dengan Allah. Tapi siapa tahu, Allah bukakan pintu baru.”
Hari Kedua
Dua hari setelah pertemuan itu, aku menerima pesan dari Mira.
“Kami coba semalam. Kaku. Canggung banget. Tapi kami coba. Masya Allah… aku nangis. Aku doa, Andi diem aja. Tapi dia dengerin. Itu aja udah cukup.”
Aku balas,
“Lanjutkan. Jangan buru-buru hasil. Fokus pada kejujuran saat berdiri di hadapan Allah.”
Hari Ketiga
Mira kembali mengirim pesan.
“Malam ini Andi yang ngajak bangun. Aku kaget. Dia nggak banyak bicara, tapi pas habis tahajud dia bilang: ‘Aku mau coba lagi jadi imam yang baik.’ Mas, aku nangis lagi…”
Hari Kelima
Kami kembali bertemu. Di tempat yang sama.
Mira tampak lebih tenang. Andi masih diam, tapi kali ini ada senyum kecil di ujung bibirnya.
“Kami belum sepenuhnya baik. Tapi kami sadar satu hal,” kata Andi.
“Apa itu?” tanyaku.
“Kami ternyata nggak pernah benar-benar curhat ke Allah bareng-bareng. Kami sibuk minta dipahami, tapi nggak pernah saling mengadu di sujud yang sama.”
Mira menambahkan,
“Dan saat aku lihat dia shalat, nangis, aku jadi sadar… kami bukan musuh. Kami sama-sama terluka, tapi nggak pernah saling peluk.”
Aku tersenyum.
“Itu awal yang baik.”
Beberapa hari kemudian, Mira mengirim voice note. Dia bilang, semalam dia dan Andi duduk di ruang tengah setelah tahajud. Mereka berbicara. Tanpa bentak. Tanpa air mata. Hanya dua orang yang mencoba menjadi lebih jujur.
Mira: “Kamu beneran masih mau coba lagi?”
Andi: “Aku masih sayang. Cuma capek. Tapi aku tahu kamu pun begitu.”
Mira: “Aku capek karena kamu dingin.”
Andi: “Aku dingin karena aku ngerasa kamu nggak butuh aku lagi.”
Mira: “Aku butuh kamu, tapi aku nggak tahu cara ngomongnya tanpa dimarahin.”
Andi: “Maaf…”
Mira: “Aku juga…”
Dan mereka saling peluk. Tanpa kata.
Malam ke-7, Mira kembali mengabariku.
“Mas… malam ini kami tahajud lalu berdoa berdampingan. Di akhir doa, aku bilang ke Allah: ‘Ya Rabb, kalau rumah tangga ini bisa diselamatkan, maka selamatkanlah bukan hanya lahirnya, tapi hatinya juga.’”
“Andi juga doa. Katanya: ‘Ya Allah, ajari aku mencintai istri ini seperti pertama kali Kau pertemukan kami.’”
Aku tersentuh banget.
Mira melanjutkan,
“Kami belum sempurna. Tapi seminggu ini kami jadi sadar… cinta itu bukan tentang tidak ada masalah, tapi tentang tidak pernah menyerah mencari Allah dalam masalah itu.”
Aku balas,
“Lanjutkan tahajudnya. Bukan karena sedang krisis, tapi karena Allah-lah tempat kembali, bahkan di saat bahagia.”
Tiga Bulan Kemudian
Aku menerima undangan sederhana: makan malam keluarga.
Di sana, aku melihat Andi dan Mira duduk berdampingan. Anak mereka duduk di pangkuan sang ayah, tertawa. Rumah kecil mereka hangat. Bukan karena masalah hilang, tapi karena Allah hadir di tengah mereka.
Sebelum aku pulang, Andi menepuk bahuku.
“Mas… makasih. Dulu aku pikir tahajud itu cuma buat yang rajin ibadah. Ternyata, tahajud itu ruang bicara paling jujur antara hati yang lelah dan Tuhan yang Maha Mendengar.”
Aku menjawab lirih,
“Dan cinta yang tumbuh dari sujud, lebih kuat dari sekadar janji di pelaminan.”
Rumah tangga bukan soal tak ada badai, tapi soal kemauan untuk sama-sama berteduh saat hujan datang. Jika bicara sudah buntu, kadang bukan karena tak ada solusi, tapi karena hati terlalu penuh dengan prasangka dan luka.
Tahajud bukan jaminan semua akan selesai indah. Tapi itu jembatan untuk menemukan Allah—dan sering kali, saat Allah ditemukan, kita juga menemukan kembali makna cinta.

