Skip to content
Celoteh Pacakleret Celoteh Pacakleret

Kebaikan Untuk Semua

  • Tentang Kami
    • Tentang Arief
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Chat via WA
  • Shop
  • facebook.com
  • twitter.com
  • t.me
  • instagram.com
  • youtube.com
Subscribe

Nasihat Diri

Home » Nasihat Diri

Saat Bos Teknologi Bertani, Kita Masih Sibuk Tebak Harga Koin
Posted inCeloteh Pacakleret Daerah Ekonomi

Saat Bos Teknologi Bertani, Kita Masih Sibuk Tebak Harga Koin

Bill Gates beli sawah. Mark Zuckerberg piara sapi. Jack Ma jadi nelayan. David Beckham cabut rumput. Sementara kita? Masih sibuk ngulik koin digital yang kalau salah prediksi, tinggal jadi digital…
Posted by Bang Arief 01/07/2025
Label “Syar’i” dalam Dunia Bisnis: Komitmen atau Gimmick?
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Ekonomi

Label “Syar’i” dalam Dunia Bisnis: Komitmen atau Gimmick?

Belakangan ini, kita melihat semakin banyak usaha yang menempelkan label “syar’i”, “syariah”, atau “islami” dalam berbagai lini bisnis. Mulai dari Developer Syariah, Kontraktor Syar’i, Logo Syar’i, Branding Syar’i, hingga Muslim…
Posted by Bang Arief 19/06/2025
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Nasihat Diri

Seperti Ibrahim dan Ismail: Sudahkan Kita Korbankan Ego Kita?

Setiap dari kita adalah Ibrahim. Bukan karena kenabian atau mukjizat, tapi karena kita pernah mencintai sesuatu dengan begitu dalam. Kita pernah punya sesuatu yang begitu kita genggam erat. Yang kita…
Posted by Bang Arief 06/06/2025
Idul Adha
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Nasihat Diri

Makna Idul Adha, Kurban, dan Pertanyaan-Pertanyaan Esensial di Baliknya

Setiap tahun, umat Islam merayakan dua hari besar: Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Fitri dirayakan sebagai momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan. Lalu, apa yang sebenarnya…
Posted by Bang Arief 05/06/2025
Andi dan Mira
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Short Stories

Andi dan Mira

Malam itu, langit kota Pontianak diguyur gerimis tipis. Di sebuah kafe kecil yang terletak di pojok jalan, aku duduk menunggu dua orang yang sebelumnya menghubungiku melalui pesan WhatsApp. Mereka keduanya…
Posted by Bang Arief 03/06/2025
Vespa Peninggalan Ibu
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Short Stories

Vespa Peninggalan Ibu

Sudah hampir dua tahun Vespa tua itu tidak bergerak. Diam saja di pojok garasi rumah masa kecilku, tertutup debu, diselimuti diam. Hanya sesekali Bapak lewat, menatapnya sebentar, lalu kembali masuk…
Posted by Bang Arief 28/05/2025
Poligami dalam Islam: Antara Syariat dan Keadilan
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Nasihat Diri

Poligami dalam Islam: Antara Syariat dan Keadilan

"Belajarlah ilmu Agama sampai kalian paham bahwa sejarah turunnya Ayat tentang Poligami itu untuk mengurangi istri, bukan menambah istri." Ungkapan ini bukan hanya sindiran sosial, tetapi sebuah ajakan untuk merenung…
Posted by Bang Arief 22/05/2025
Janda Itu Bukan Aib: Perjalanan Luka, Bertahan, dan Bangkit Sendiri
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Psikologi

Janda Itu Bukan Aib: Perjalanan Luka, Bertahan, dan Bangkit Sendiri

Aku masih inget banget, sore itu hujan turun deras. Kami ketemu secara nggak sengaja di sebuah kafe yang juga jadi co-working space, cukup ramai tapi tetap nyaman buat ngobrol, tempat…
Posted by Bang Arief 22/05/2025
“Cermin di Toko Perhiasan”
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Pendidikan

“Cermin di Toko Perhiasan”

Di tengah hiruk-pikuk kota besar, tinggallah seorang wanita muda bernama Livia. Setiap pagi, ia berdiri lama di depan cermin, memastikan kalung emasnya tampak jelas, tas bermerek terlihat mencolok, dan riasannya…
Posted by Bang Arief 21/05/2025
“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius
Posted inAgama Celoteh Pacakleret Nasihat Diri

“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius

Serius, ini bukan spiritualitas. Ini manipulasi. Ada satu kalimat yang terdengar religius banget, tapi sebenarnya ngaco: "Aku selingkuh karena kamu kurang berdoa buat aku." Kedengerannya kayak orang yang sadar spiritual,…
Posted by Bang Arief 20/05/2025

Posts pagination

1 2 3 Next page
Penulis Tamu
  • JURNALISTIK, PERS, DAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA: PILIHAN JALUR HIDUP SEORANG NUR ISKANDAR

    Oleh M. Hermayani Putera Berbicara mengenai perjalanan dan perkembangan dunia pers dan jurnalistik Kalbar dalam kurun waktu dua puluh lima tahun terakhir ini, ada satu nama yang selalu hadir menyertai kedua hal ini. Jika jurnalistik, mengutip dari Jurnalistik Terapan (Batic Press, 2004), bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas atau proses kerja seorang wartawan, maka pers lebih mendalami kepada insitusi atau lembaga ataupun perusahaan yang bergerak di bidang penyiaran hasil kerja wartawan atau penulis tersebut. Nama yang dimaksud ialah Nur Iskandar. Nama yang bermakna mulia sekali, yakni Berilmu dan Tabah. Orangtua beliau tentu punya doa dan harapan yang mulia ketika memberi nama pada anaknya ini. Dulu saya memanggilnya cukup dengan BANG NUR saja. Namun sejak enam tahun terakhir ini lebih sering menyapa beliau BANG NUR IS. Hal ini mengingat saya juga cukup dekat berinteraksi dengan abang beliau, BANG MUHAMMAD NUR HASAN, penggiat gerakan menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah berdimensi pemberdayaan di Kalbar dan bahkan sudah meluas hingga ke beberapa kota lain di luar Kalbar. Kalau abang beliau ini, kami akrab menyapanya dengan TOK Ya, karena ide-ide kebaikan dari jamaah beliau selalu ditampung, diterima, dan diiyakan. Lihatlah bentangan dedikasi dan pengabdian Bang Nur Is dalam lansekap dinamika dunia pers dan jurnalistik di bumi khatulistiwa. Dunia yang ia tekuni sejak mahasiswa, dilanjutkan sebagai profesi pasca meninggalkan kampus, dan terus didalami hingga saat ini. Pers mahasiswa, Harian SUAKA, Harian Equator, Harian Borneo Tribune, Radio Volare, dan sekarang mengelola media online TERAJU. Walaupun belakangan ini BANG NUR IS aktif di gerakan wakaf, literasi, dan kebudayaan, tapi ia tetap mahir berselancar sebagai seorang penggiat jurnalistik sejati, mewartakan geliat gerakan-gerakan ini. Justru di sini saya melihat Nur Is mampu menjadi seorang penyampai pesan mulia dari gerakan wakaf, pentingnya memperkuat literasi, dan mengapa kita perlu meneguhkan akar kebudayaan kita yang harus terus adaptis dinamis berdialektika dengan perkembangan budaya global. NUR IS tak jeri, apalagi takut, dengan kehadiran sesuatu yang baru datang atau dikenalkan dari luar. Malah ini menjadi sebuah tantangan baginya untuk terus belajar hal-hal baru, dan mengintegrasikannya dengan aspek lain. Selamat dan semangat terus berkarya, BANG NUR IS. Happy milad dan mensyukuri nikmat umur separuh abad ini. Semoga selalu sehat dan hidup penuh barakah di sisa jatah umur yang diberikan Allah. Masih muda kita Bang, jangan terlalu sering nengok cermin, apalagi mengecek warna rambut yang sudah ada rona putih di beberapa bagian. Anggap saja itu bunga pohon jambu air yang gugur dan pas jatuh di rambut kita…

    M. Hermayani Putera
  • Buku Setan

    Olive, seorang mahasiswi Untan, lagi jalan-jalan ke Banten. Bergaya seperti seorang petualang sejati, mulailah dia ngitar-ngitar pelosok-pelosok kota Banten. Hari mulai sore dan masuklah dia ke sebuah toko buku yang bangunan tua dan kuno. Buku-buku yang dijual di dalam toko buku kebanyakan adalah buku-buku tentang ilmu gaib, cerita hantu dan sejarah setempat. Olive mulai gugup. Tapi merasa sebagai seorang petualang, dia berusaha membesarkan hatinya. Matanya tertuju ke sebuah buku kuno yang sangat menarik. Judulnya “Tujuh cara melihat hantu”. Olive sangat tertarik untuk membacanya. “Bang… Bang…”, panggil Olive untuk mencari penjualnya. Tiba-tiba Olive dikagetkan suara dari belakang. “Ada apa, Non.”, jawab seorang lelaki tua yang menyeramkan. “Buku ini berapa?”, tanya Olive “Wah, buku ini tidak bisa dijual ke sembarang orang, Non. Ini buku kuno dan wasiat”, jawab penjaga toko, “Harganya Enam ratus ribu rupiah”. “Mahal amat”, jawab Olive, ” Dua ratus ribu deh”. “Gak bisa kurang, Non. Itu sudah harga bukunya. Karena sudah lama tidak ada pembeli di toko, saya kasih non diskon seratus ribu” Olive setuju dan bayar si penjual lima ratus ribu rupiah. Sebelum Olive pergi, si penjual memperingati dia. “Non, buku ini buku wasiat, tidak sembarangan orang bisa membacanya. Aku peringatkan anda untuk tidak membuka halaman terakhir atau anda akan ketiban sial seumur hidup”. Sebelum Olive keluar dari toko, si penjual menyahut lagi dengan suara seram, “Ingat non jangan coba-coba buka halaman terakhir!”. Malam itu Olive yang tinggal di sebuah villa membaca buku itu dan ketiduran. Tengah malam dia dibangunkan oleh suara petir dan angin yang masuk dari jendelanya yang terbuka. Olive bangun dan berusaha menutup jendela. Tiba-tiba dia teringat dengan bukunya. Karena tertiup angin kencang, halaman di buku itu mulai membuka sendiri dari halaman ke halaman. Teringat dengan peringatan si penjual buku, Olive berusaha meraih bukunya dan menyetop jalannya halaman di buku itu dari tiupan angin. Terlambat… Saat Olive berhasil meraih buku itu, dia lagi memegang halaman terakhir. “Mati aku”, gumam Olive dengan panik, aku bakal sial seumur hidup”. Olive mulai ketakutan dan was-was kalau ada makluk gaib yang muncul Setelah setengah jam menutup mata dengan ketakutan, Olive memberanikan diri untuk membuka mata kirinya dan melirik halaman terakhir buku itu: Harga asli : Rp. 20,000,- Harga Diskon : Rp. 10,000,- Cetakan tahun 2009.

Copyright 2025 — Celoteh Pacakleret. All rights reserved. Bang Arief Jak
Scroll to Top
error: Content is protected !!