Brainrot di Indonesia: Ketika Otak Lelah Menelan Konten Absurd

Brainrot di Indonesia: Ketika Otak Lelah Menelan Konten Absurd

Pengantar: Ketika Hiburan Menjadi Racun Pelan-Pelan

Di suatu sore yang malas, jari kita menggeser layar ponsel tanpa sadar. Sekejap muncul video pendek seorang pria berjoget sambil berdandan seperti sosis, diiringi suara nyaring: “Tung tung tung sahur!” Kita tertawa. Satu video lagi, lalu satu lagi. Tiba-tiba dua jam berlalu. Dan tanpa kita sadari, kita tak lagi bisa fokus membaca satu artikel penuh tanpa merasa bosan. Otak kita lelah. Inilah yang disebut brainrot.

Apa Itu Brainrot?

“Brainrot” adalah istilah gaul yang secara harfiah berarti pembusukan otak. Namun, di era digital ini, maknanya lebih dalam: sebuah kondisi menurunnya kapasitas berpikir kritis, konsentrasi, dan minat terhadap hal-hal kompleks akibat konsumsi konten yang repetitif, dangkal, dan absurd. Fenomena ini kini menjangkiti banyak anak muda di Indonesia—dari Gen Z, milenial, bahkan hingga orang dewasa yang dulu sempat menjadi ‘kaum buku’.

Brainrot bukan sekadar konsumsi hiburan ringan. Ia adalah efek akumulatif dari konten-konten yang memanjakan dopamine namun melemahkan neuron. Yang disukai bukan yang berbobot, tapi yang nyeleneh, random, dan tak jarang, tanpa makna. Konten absurd kini adalah candu.

Dari Boneka Ambalabu hingga Makhluk Sahur

Salah satu contoh paling nyata adalah video “Boneka Ambalabu”—sebuah karakter fiktif berupa katak berkaki manusia dengan roda mobil sebagai tubuhnya. Konten ini menjadi sangat viral di TikTok, Instagram Reels, dan Twitter/X, meski (atau justru karena) tak masuk akal sama sekali. Demikian pula dengan “Tung tung tung sahur,” konten mistik-halu yang muncul di bulan Ramadan namun sukses menciptakan kultus mini di internet.

Apakah ini salah? Tidak sepenuhnya. Namun, ketika jenis konten seperti ini menjadi dominasi algoritma, dan menggantikan semua bentuk hiburan atau edukasi lainnya, maka kita sedang menghadapi epidemi sunyi: otak-otak yang kelelahan dan tidak lagi mampu berpikir jernih.

Gejala-Gejala Brainrot

Fenomena ini bukan isapan jempol. Banyak pengguna media sosial yang secara sadar mengeluh:

  • Kesulitan berkonsentrasi saat membaca teks panjang.

  • Mudah terdistraksi, terutama oleh notifikasi.

  • Penurunan minat belajar atau membaca buku.

  • Kecanduan scrolling meskipun tak tahu apa yang dicari.

  • Tertawa terhadap hal-hal absurd, tapi tak bisa menjelaskan kenapa.

Gejala-gejala ini merata, bukan hanya di kalangan pelajar atau mahasiswa, tetapi juga mereka yang bekerja di sektor kreatif, akademik, hingga pemerintahan. Daya serap informasi berkurang. Otak menjadi tempat sampah konten, bukan pengolah makna.

Algoritma sebagai Biang Keladi

Tak bisa dipungkiri, sebagian besar fenomena brainrot dipicu oleh algoritma platform digital. Video pendek yang viral, aneh, dan nyeleneh mendapat impresi lebih tinggi. Maka, makin banyak pula konten kreator yang berlomba-lomba membuat video nonsensical untuk mendapatkan engagement.

Lama-lama, algoritma menciptakan echo chamber: apa yang kita sukai (atau bahkan hanya tonton sampai selesai) akan diulang-ulang terus. Maka otak pun, seperti mesin tua yang dipaksa mengunyah permen karet, mulai aus dan kehilangan giginya.

Literasi Digital: Senjata atau Ilusi?

Pemerintah Indonesia, lewat Menkominfo Meutya Hafid, sudah mengangkat pentingnya literasi digital sebagai benteng melawan brainrot. Namun, literasi yang dimaksud belum tentu mampu menahan tsunami konten absurd yang lebih menggoda ketimbang konten edukatif.

Ada upaya kampanye positif, seperti penggunaan meme untuk edukasi. Tapi kita tahu siapa yang menang dalam jangka pendek: boneka aneh dan joget sahur akan selalu lebih viral daripada infografis hak asasi manusia atau tutorial coding.

Budaya Brainrot dan Identitas Diri

Menariknya, brainrot juga mulai menjadi bagian dari identitas budaya digital anak muda. Di balik semua keanehan, ada semacam shared inside joke yang hanya bisa dimengerti oleh “kaum rotters.” Meme absurd, editan video yang rusak, hingga suara robotik yang mengucapkan kalimat-kalimat tak nyambung—semua menjadi cara berkomunikasi baru, yang justru terasa lebih relatable ketimbang bahasa formal.

Dalam batas tertentu, ini bisa menjadi bentuk kritik sosial: generasi yang lelah dengan politik, pendidikan, dan ekonomi, mencari pelarian ke dalam absurditas. Namun sayangnya, pelarian ini bukan bentuk perlawanan, melainkan bentuk apatisme yang didesain oleh sistem agar mereka tetap terhibur, tapi tak pernah bangkit.

Brainrot dan Indonesia Emas 2045: Mimpi atau Halusinasi?

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika fenomena brainrot menjadi hambatan serius dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar seperti Indonesia Emas 2045. Bagaimana mungkin kita mencapai visi negara maju jika sebagian besar generasi produktifnya kehilangan minat untuk belajar, berpikir kritis, atau sekadar membaca artikel panjang seperti ini?

Pendidikan tidak bisa bersaing dengan algoritma. Buku tidak bisa mengalahkan TikTok. Dosen tidak bisa lebih menarik dari video parodi kucing pakai filter robot. Maka kita perlu bertanya ulang: apa yang sebenarnya ingin kita wariskan sebagai budaya digital Indonesia?

Solusi: Detox Digital, Tapi Realistis

Menghindari brainrot tidak berarti membenci konten ringan. Semua orang butuh hiburan. Namun, kita butuh diet digital yang seimbang:

  1. Batasi waktu konsumsi video pendek. Gunakan fitur pengingat waktu di aplikasi.

  2. Selingi konten ringan dengan konten edukatif. Follow akun-akun yang menyajikan ilmu dalam format menarik.

  3. Coba “digital sabbath”. Luangkan satu hari dalam seminggu tanpa media sosial.

  4. Kembali membaca. Mulai dari cerpen, esai, atau bahkan buku bergambar. Melatih fokus kembali seperti otot yang lama tak digunakan.

  5. Buat konten tandingan. Jika Anda kreator, jangan malu bikin video lucu yang juga bermakna.

Penutup: Saatnya Kembali Menghargai Fokus

Fenomena brainrot di Indonesia bukan sekadar isu kesehatan mental atau budaya pop. Ini adalah gejala sosial yang lebih dalam—tentang bagaimana masyarakat kita mengelola atensi, kreativitas, dan nilai-nilai dalam era serba cepat.

Humor absurd memang menghibur. Tapi kalau otak kita terus dicekoki yang absurd tanpa filter, maka perlahan—tanpa terasa—kemampuan kita untuk mengenali makna, membedakan kebenaran, atau sekadar berpikir rasional akan terkikis. Dan ketika itu terjadi, kita tak lagi sekadar menonton video bodoh. Kita menjadi bagian darinya.


Kalau kamu merasa terkena brainrot, jangan panik. Sadari dulu. Lalu pelan-pelan tarik napas, tutup aplikasi, buka jendela, dan coba baca satu artikel penuh. Kalau kamu sampai akhir membaca tulisan ini, berarti harapan itu masih ada.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *