Dari luar tampak mesra: foto berdua, dinner bareng, saling support di medsos. Tapi suatu hari, ada nama asing muncul di notifikasi. Obrolan berubah jadi rahasia. Dan pelan-pelan, kepercayaan runtuh.
Kenapa seseorang bisa selingkuh—bahkan di hubungan yang terlihat baik-baik saja?
Jawabannya tidak sesederhana “karena pasangannya kurang” atau “karena godaan”.
Seringkali, perselingkuhan adalah ekspresi dari luka psikologis yang belum disadari.
Mari kita bedah, dari sisi psikologis, mengapa perselingkuhan bisa terjadi.
- Rasa Tidak Terlihat dan Tidak Didengar
Setiap manusia punya kebutuhan dasar untuk didengarkan dan dipahami. Ketika seseorang merasa suaranya tidak penting dalam relasi, lama-lama ia bisa merasa seperti “hidup sendirian dalam hubungan”.
Saat ada orang lain yang hadir dan memberi perhatian—walau hanya lewat obrolan ringan—itu bisa terasa seperti oase emosional. Padahal, di sanalah jebakan mulai terbentuk.
- Mencari Validasi yang Hilang
Self-worth atau rasa berharga kadang terkikis dalam relasi jangka panjang.
Ketika pasangan tidak lagi memberi afirmasi positif—seperti pujian, ungkapan sayang, atau sekadar kontak mata—seseorang bisa mulai merasa tidak diinginkan.
Validasi dari orang luar, meski dangkal, bisa jadi “pelarian emosional”. Sayangnya, hal ini sering dianggap sebagai cinta, padahal hanya cermin dari luka harga diri.
- Terputusnya Koneksi Emosional
Hubungan yang sehat butuh koneksi—bukan hanya fisik, tapi juga emosional.
Saat pasangan sibuk, tidak punya waktu berbincang, tidak saling menyentuh secara emosional, maka kedekatan perlahan memudar.
Ini menciptakan “ruang kosong” dalam diri. Dan ruang kosong itu bisa diisi siapa pun yang datang membawa perhatian.
- Inner Child yang Terluka
Banyak perilaku dewasa kita dibentuk oleh pengalaman masa kecil.
Orang yang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan, pernah dikhianati, atau merasa tidak cukup baik, akan membawa luka itu ke relasi dewasa.
Kadang, mereka membentuk “cadangan” relasi bukan karena niat jahat, tapi karena mekanisme bertahan hidup: lebih baik saya duluan yang menyakiti daripada disakiti.
- Ketidakmampuan Mengomunikasikan Kebutuhan
Tidak semua orang terbiasa menyampaikan kebutuhan dengan cara sehat.
Alih-alih bilang, “Aku butuh ditemani,” mereka memilih diam. Alih-alih mengungkap kecewa, mereka memasangnya sebagai senyum.
Dan saat kebutuhan emosional itu tak terpenuhi, bukan tak mungkin ia mencari pelampiasan dalam bentuk koneksi baru—yang terasa “lebih aman” untuk jujur.
- Hilangnya Rasa Berarti dalam Hubungan
Ketika pasangan berhenti saling memperlakukan satu sama lain sebagai individu yang spesial—dan hanya melihat sebagai partner urusan rumah, anak, atau tagihan—maka rasa istimewa perlahan hilang.
Di titik itu, banyak orang merasa seperti “tak lagi punya tempat untuk pulang.”
Dan akhirnya… mencari rumah lain.
Apakah Ini Membenarkan Selingkuh? Tentu Tidak.
Perselingkuhan tetap pilihan yang menyakiti dan merusak. Tapi memahami alasan di baliknya bisa membuka ruang refleksi—dan mungkin, pencegahan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Bangun komunikasi empatik, bukan hanya fungsional
Validasi perasaan pasangan, bukan hanya tugas harian
Luangkan waktu, bukan hanya sisa energi
Kenali luka dalam diri—dan sembuhkan bersama
Penutup:
Selingkuh sering kali bukan karena “ada orang ketiga”, tapi karena ada yang kosong di dalam diri sendiri atau hubungan.
Bukan hanya soal cinta, tapi tentang kehilangan makna, kehilangan koneksi, kehilangan arah.
Dan satu-satunya jalan keluar bukan dengan bersembunyi, tapi dengan berani bicara.
Karena cinta yang sehat… Bukan yang sempurna, tapi yang mau bertumbuh bersama—meski susah.

