Siang itu, di tengah jam istirahat kerja, aku menerima pesan dari seorang teman lama. Dia minta izin untuk bicara sebentar. Kami bertemu di sebuah kafe kecil dekat kantorku, tempat yang cukup tenang untuk berbagi cerita yang berat.
Dia datang dengan senyum tipis dan mata yang menyimpan banyak hal. Usianya 33 tahun, sudah menikah hampir delapan tahun, dan memiliki seorang anak laki-laki yang katanya jadi satu-satunya alasan dia masih bertahan.
“Aku gak tahu harus cerita ke siapa,” katanya pelan. “Tapi aku lelah. Bukan karena suamiku selingkuh atau berlaku kasar… tapi karena aku merasa sudah mati rasa.”
Kalimat itu menghentak. Sebagai teman, aku tahu dia perempuan yang kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Tapi hari itu, dia mengaku sesuatu yang sering luput dibicarakan banyak orang: rasa kehilangan diri sendiri dalam pernikahan.
Dia bilang, suaminya masih ada secara fisik—mereka tidur sekamar, makan bersama, menjalani rutinitas keluarga seperti biasa. Tapi secara emosional? Seolah sudah tak saling menjangkau. Komunikasi berubah jadi daftar tugas: bayar tagihan, antar-jemput anak, jadwal belanja, dan rapat sekolah. Tidak ada percakapan yang menyentuh hati. Tidak ada sentuhan yang membuatnya merasa dicintai.
“Aku hidup serumah dengan seseorang yang rasanya seperti teman sekamar… bukan pasangan,” lanjutnya. “Dan yang lebih menyakitkan, aku merasa udah gak bisa ngerasain apa-apa lagi.”
Aku hanya mendengarkan. Karena kadang, seseorang tidak butuh solusi—mereka hanya butuh ruang untuk mengeluarkan semuanya.
Lalu aku berkata pelan, “Mencoba tumbuh di tanah yang tandus itu… sangat sulit, bahkan hampir mustahil.”
Dia menatapku lama. Mungkin sedang mencerna kalimat itu. Lalu aku lanjutkan, “Kamu tidak salah kalau kamu lelah. Kamu juga tidak egois kalau kamu ingin bahagia.”
Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa bertahan berarti hebat, bahwa meninggalkan itu lemah. Padahal, yang paling berani adalah jujur pada diri sendiri. Apakah kamu masih bisa tumbuh di tempatmu sekarang? Atau kamu mulai mengering sedikit demi sedikit, kehilangan warna, kehilangan rasa?
Untukmu yang mungkin mengalami hal serupa, izinkan aku bilang satu hal: kamu luar biasa. Tapi jangan lupa, kamu juga berhak bahagia. Kamu berhak mengenali dirimu lagi, menemukan apa yang membuatmu hidup, apa yang membuatmu tersenyum tanpa pura-pura.
Tidak semua pernikahan berakhir dengan perpisahan. Tapi semua orang pantas punya kesempatan untuk merasa hidup—bukan hanya bertahan. Entah kamu memilih untuk memperbaiki atau melangkah pergi, pastikan satu hal: kamu tidak terus-menerus mengabaikan dirimu sendiri.
Karena kamu juga penting. Kamu berharga. Dan kamu layak untuk dicintai, termasuk oleh dirimu sendiri.

