Kalau Anda merasa jalan kehidupan Anda makin sempit, jangan khawatir—pemerintah juga sedang berjuang keras memperlebar jalan nasional. Setidaknya di atas kertas.
Ya, dua ruas jalan nasional di Kabupaten Mempawah sedang dalam proses pelebaran dari 6 meter menjadi 7,5 meter. Tapi entah kenapa, proyek dengan anggaran rakyat yang mencapai Rp250 miliar ini lebih terasa seperti pelebaran wacana daripada pelebaran aspal.
Menurut rencana, proyek ini harusnya rampung akhir 2024. Tapi sekarang sudah hampir setengah 2025, dan yang rampung baru… harapan masyarakat.
Bang Febyan dari LI Bapan Kalbar—lembaga dengan nama sepanjang jalan yang mangkrak—sudah turun langsung ke lapangan. Hasilnya? Selain debu proyek dan jalan setengah hidup, mereka menemukan “kejanggalan”. Yang pasti, ini bukan kejanggalan dalam bentuk jalan zig-zag estetik untuk Instagram. Tapi yang modelnya biasa ditemukan dalam lembar dakwaan.
Febyan bahkan menantang KPK:
“Kalau memang tidak tebang pilih, maka proyek senilai ratusan miliar ini patut diperiksa.”
BOOM. Sebuah pernyataan keras, seperti klakson truk di tikungan tajam. Tapi akankah didengar? Atau hanya jadi gema di jalan yang belum rampung?
Mari kita bandingkan. Tahun 2015, proyek Jalan Sekabuk – Sei Sederam senilai Rp65 miliar saja bisa menghasilkan tiga tersangka. Lalu ini, empat kali lipat anggaran, dua kali lebih panjang jalan, dan nol kemajuan? Apakah ini prestasi dalam bidang ilusi infrastruktur?
Bahu Jalan Diperlebar, Tapi Bahu Rakyat Semakin Berat
Rakyat sudah terbiasa menahan beban—dari BBM naik, harga sembako naik, sampai jalan yang tak kunjung jadi. Tapi pelebaran jalan ini, alih-alih mempermudah mobilitas, justru memperlebar rasa frustrasi.
Sementara di pinggir jalan, warga cuma bisa menonton truk proyek yang datang hanya sesekali. Seperti mantan yang janji balik, tapi cuma muncul pas butuh doang.
Kata Febyan, ada dugaan aparat penegak hukum “tutup mata”. Mungkin karena silau melihat angka ratusan miliar. Atau mungkin karena mereka sedang asyik membuka jalan… ke rekening pribadi?
KPK: Datang Sebelum Jalan Jadi atau Sesudah Rakyat Kehilangan Arah?
Febyan bilang laporan resmi sudah disampaikan ke KPK 21 Mei 2025. Kita doakan semoga KPK tidak sibuk reuni kasus lama atau lomba tebang pilih. Karena kalau kasus ini hanya berhenti di meja, maka kita hanya bisa mengabadikan proyek ini lewat drone: “Jalan yang Tak Pernah Rampung: Sebuah Dokumenter.”
Kalau proyek ini dibiarkan, jangan heran kalau nanti muncul paket wisata:
“Nikmati sensasi berkendara di jalur Rp250 miliar, dengan bonus guncangan harapan rakyat.”
Epilog: Jalan Tak Harus Aspal, Bisa Juga Satir
Bang Arief cuma bisa bilang:
“Kalau jalan ke surga itu lurus, kenapa jalan nasional kita malah melingkar di lubang korupsi?”
Sampai berita ini diturunkan, jalan masih dalam proses… entah proses apa. Yang jelas, masyarakat masih menunggu. Bukan hanya aspal, tapi juga keadilan.
Dan kepada KPK, ini saatnya bukan cuma bongkar masa lalu, tapi juga berani hadapi proyek yang masih hidup. Karena hukum bukan mesin waktu. Ia harus menjemput masa kini sebelum masa depan ikut hancur—bersama jalan yang tak kunjung dilebarkan.

