Setiap tahun, umat Islam merayakan dua hari besar: Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Fitri dirayakan sebagai momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan. Lalu, apa yang sebenarnya kita rayakan dalam Idul Adha? Apa makna di balik penyembelihan hewan kurban? Dan mengapa perintah tersebut diturunkan melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim? Artikel ini akan membahas secara mendalam makna Idul Adha, sejarah kurban, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis dan teologis yang kerap muncul dalam benak umat.
Idul Adha: Perayaan Kepatuhan Total
Idul Adha, yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji. Bagi umat Islam yang tidak berhaji, hari ini adalah momen untuk menghidupkan kembali semangat pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Perayaan ini bukan sekadar ritual menyembelih hewan, tetapi simbol dari ketaatan hamba kepada Tuhannya.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, melalui mimpi, beliau tidak ragu. Ia justru menyampaikan hal tersebut kepada anaknya, dan Ismail pun menjawab dengan penuh keikhlasan: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).
Ini adalah ujian yang sangat berat. Namun Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan ketundukan total. Dan ketika pisau hampir menyentuh leher Ismail, Allah menggantikannya dengan seekor domba. Maka sejak saat itu, penyembelihan hewan kurban menjadi syariat yang diajarkan kepada umat Islam.
Kenapa Perintah Kurban Melalui Mimpi?
Dalam Islam, mimpi para nabi bukanlah mimpi biasa. Mimpi mereka adalah bentuk wahyu. Hal ini ditegaskan dalam berbagai literatur tafsir dan hadits. Oleh karena itu, perintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi adalah wahyu yang wajib ditaati.
Allah tidak memberikan wahyu berupa suara atau tulisan, tetapi memilih mimpi sebagai medium. Ini menunjukkan bahwa bentuk komunikasi ilahi itu bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi dan kehendak-Nya. Justru melalui mimpi, ketaatan dan keyakinan Nabi Ibrahim diuji dengan cara yang sangat halus namun mendalam.
Apakah Ismail Disembelih?
Ismail tidak disembelih secara fisik. Ketika Nabi Ibrahim benar-benar hendak menyembelihnya, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan besar (QS. As-Saffat: 107). Namun secara spiritual, pengorbanan itu sudah terjadi. Ismail telah menyerahkan dirinya, dan Nabi Ibrahim telah membuktikan kesetiaan tanpa batas kepada Tuhannya.
Kisah ini bukan tentang kematian, melainkan tentang kehidupan. Ia mengajarkan bahwa iman dan pengorbanan sejati tidak selalu harus berakhir dengan tragedi, tetapi dengan ridha dan kasih sayang Ilahi.
Kemana Ismail Setelah “Disembelih”?
Karena Ismail tidak disembelih, ia tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Dalam Islam, Ismail disebut sebagai nabi dan menjadi salah satu leluhur Rasulullah Muhammad Ḥabibillāh. Ia hidup di Mekkah, membantu ayahnya membangun Ka’bah, dan menjadi bagian penting dari sejarah spiritual umat Islam.
Ismail adalah simbol ketaatan anak kepada orang tua dan ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Ia juga menjadi simbol penting dalam membangun peradaban tauhid di jazirah Arab.
Kenapa Ada Puasa Arafah?
Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim). Ini adalah puasa yang sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak sedang berhaji.
Bagi jamaah haji, hari Arafah adalah waktu berkumpul di padang Arafah, puncak ibadah haji. Bagi yang tidak berhaji, puasa Arafah menjadi bentuk partisipasi spiritual dalam momen penting itu. Ini adalah bentuk solidaritas iman dan penguatan ruhani umat Islam di seluruh dunia.
Kenapa Haji Hanya untuk Orang Mampu? Adilkah Allah?
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 97, “Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
Allah tidak memberatkan seseorang di luar kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286). Kewajiban haji hanya berlaku bagi yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan. Ini adalah bentuk keadilan Allah, bukan ketidakadilan. Justru ini menunjukkan bahwa agama Islam mengedepankan keringanan dan kasih sayang dalam ibadah.
Orang yang tidak mampu haji tidak berdosa, dan tetap bisa mendapatkan pahala besar melalui ibadah-ibadah lain seperti puasa, sedekah, shalat malam, dan dzikir.
Kenapa Kita Harus Berkurban?
Kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu. Ia bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga bentuk solidaritas sosial. Hewan kurban dibagi untuk keluarga, kerabat, dan fakir miskin.
Lebih dari itu, kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Allah tidak membutuhkan daging dan darah hewan (QS. Al-Hajj: 37), tetapi yang diterima adalah ketakwaan dari orang yang berkurban.
Dalam konteks modern, kurban juga menjadi cara memperkuat ikatan sosial, memperhatikan yang miskin, dan menghidupkan semangat memberi.
Apakah Kurban Adalah Sesajen untuk Allah?
Tidak. Kurban dalam Islam bukanlah sesajen. Islam menolak segala bentuk persembahan yang mengandung unsur syirik. Dalam QS. Al-An’am: 162-163, Allah menegaskan bahwa shalat, kurban, hidup, dan mati seorang Muslim adalah untuk Allah semata, Tuhan semesta alam.
Allah tidak butuh makan, tidak butuh darah, tidak butuh persembahan fisik. Yang Dia kehendaki dari ibadah kurban adalah ketaatan, pengorbanan, dan ketakwaan. Kurban bukanlah untuk memberi makan Tuhan, tetapi untuk membersihkan jiwa manusia dari egoisme dan cinta dunia.
Penutup: Sebuah Refleksi
Idul Adha bukan sekadar hari raya dengan daging melimpah. Ia adalah panggilan untuk kembali pada fitrah: taat, pasrah, dan siap berkorban. Seperti Nabi Ibrahim dan Ismail yang rela menyerahkan segalanya untuk Allah, kita pun diingatkan untuk menyerahkan hal-hal duniawi yang kita cintai demi meraih ridha-Nya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “adilkah Allah?”, “kenapa harus kurban?”, atau “apa makna mimpi Nabi?” adalah bagian dari pencarian iman. Islam tidak melarang bertanya. Bahkan, bertanya adalah kunci ilmu. Namun, jawaban yang sejati hanya bisa dirasakan oleh hati yang bersih dan akal yang jernih.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Bahwa hidup adalah tentang pengorbanan, ketaatan, dan perjalanan menuju Tuhan dengan membawa hati yang tunduk.
