Indonesia disebut negara paling makmur oleh Harvard-Gallup. Tapi mengapa wajah masyarakatnya justru muram? Inilah ironi kebahagiaan kita.

INDONESIA DINOBATKAN NEGARA PALING MAKMUR, TAPI KENAPA KITA TAK TAMPAK BAHAGIA?

Tepuk tangan dulu, saudara-saudara! Kita mulai dengan kabar menggembirakan: Indonesia, negeri +62 tercinta, dinobatkan sebagai negara paling makmur sedunia! Ya, betul. Bukan Swedia, bukan Swiss, apalagi negara-negara yang kalau difoto drone-nya saja sudah kelihatan damai dan penuh asuransi kesehatan. Tapi Indonesia.

Bahkan, menurut hasil studi Harvard dan Gallup, Indonesia lebih makmur batinnya daripada warga Norwegia yang bangun tidur langsung dapat pemandangan fjord dari jendela kamar. Kalau di negara-negara Skandinavia orang stres karena matahari kebanyakan ngumpet, di Indonesia stresnya karena matahari kebanyakan numpang lewat tapi PLN tetap naikkan listrik.

Tapi tetap: kita dinobatkan makmur. Sekali lagi: makmur. Dengan modal itu, seharusnya kita bisa mengangkat kepala dan berkata ke dunia, “Kami damai, kami bersyukur, dan kami bahagia.” Sayangnya, saat kita membuka mulut untuk bilang itu, orang lain cuma bisa geleng-geleng, karena ekspresi kita lebih mirip orang yang baru baca tagihan BPJS sambil digugat anak sendiri.

Jadi, mari kita gali: mengapa negara yang paling makmur ini, setidaknya menurut survei Harvard, malah tidak tampak bahagia?


Makmur Versi Siapa, Nih?

Konsep makmur dalam studi ini bukan tentang isi dompet. Bukan pula soal saldo rekening, jumlah karyawan di LinkedIn, atau seberapa sering kita ke Jepang pas Lebaran. Tidak. Ini makmur versi “batin”, versi “syukur”, versi “tenang walau listrik padam”. Semacam makmur spiritual yang kalau dibaca cepat mirip “mati rasa.”

Studi tersebut, yang mengukur flourishing, mengacu pada kualitas hubungan sosial, rasa memiliki hidup yang bermakna, dan stabilitas mental. Mereka mungkin bertanya, “Apakah Anda memiliki teman yang bisa Anda andalkan?” atau “Seberapa sering Anda merasa hidup Anda memiliki tujuan?” Namun, stabilitas mental itu yang menarik. Sebab stabilitas macam apa yang kita bicarakan kalau dalam seminggu bisa viral 4 kasus pemukulan di jalan, 3 anggota dewan nonton film biru pas rapat, dan 8 artis cerai sambil live? Data dari platform media sosial atau berita harian seolah bercerita sebaliknya.

Tapi sudahlah. Mungkin ini soal sudut pandang. Kita terbiasa dengan derita, jadi ketika derita tidak terlalu menyiksa, kita anggap itu “bahagia.” Atau bisa juga karena standar hidup kita bukan naik, tapi elastis. Kalau dulu makan ayam dua kali seminggu disebut berkecukupan, kini makan mi instan dengan sambal setengah sachet pun dianggap “surga kecil”.

Itulah kenapa hasil studi ini semacam ironi nasional: Indonesia makmur batinnya, tapi mukanya tetap murung.


“Bahagia” Itu Mitos Ekspor?

Coba perhatikan: kalau Indonesia ini benar-benar makmur secara batin, kenapa wajah-wajah di jalan lebih mirip orang baru kehilangan paket COD? Kenapa orang bisa naik pitam hanya karena disenggol motor, dan seketika memukul pakai helm sambil mengucap “Allahu Akbar” dengan ritme UFC?

Kenapa di media sosial isinya sebagian besar caci-maki, sindir-menyindir, dan jualan skincare yang katanya bisa menghapus dosa masa lalu? Bukankah orang yang “makmur secara batin” seharusnya tidak perlu validasi terus-terusan dari jumlah likes?

Atau jangan-jangan, rasa “cukup” kita itu seperti spanduk calon legislatif: besar tapi kosong di dalam?

Harvard mungkin melihat data, tetapi kita hidup dengan realita. Di mana ibu-ibu antre minyak curah sambil menggendong anak yang belum tentu dapat susu minggu depan. Di mana buruh tetap senyum saat mogok kerja, bukan karena bahagia, tapi karena kamera media lewat. Survei lain, seperti laporan World Happiness Report yang sering mengaitkan kebahagiaan dengan GDP per kapita dan social support, justru menempatkan Indonesia di peringkat yang jauh di bawah. Jadi mungkin kita bahagia, tapi cuma pas disurvei. Sisanya, ya kita tutupi dengan unggahan quotes Islami, sambil menahan lapar dan cicilan.


Rasa Cukup yang Lahir dari Ketidakberdayaan

Ada kemungkinan lain: kita merasa hidup ini cukup bukan karena benar-benar merasa cukup, tapi karena tidak punya pilihan lain. Bukankah banyak dari kita berhenti berharap bukan karena sudah sampai, tapi karena capek jalan?

Rasa “cukup” ini bisa jadi semacam mekanisme bertahan hidup. Sejenis spiritual coping mechanism. Seperti berkata “Alhamdulillah” di tengah macet, padahal sebenarnya pengen ngelempar stir ke pengendara depan yang ngerem mendadak.

Maka kita bilang “hidup sudah bermakna”, bukan karena sudah menemukan makna, tapi karena terlalu lelah mencari jawabannya. Di negeri ini, pasrah bisa jadi bentuk puncak spiritualitas.


Hubungan Sosial yang “Hangat” tapi Penuh Bakar-Bakaran

Dalam laporan disebutkan bahwa masyarakat Indonesia punya kualitas hubungan sosial yang tinggi. Ikatan kekeluargaan, katanya, masih kuat. Ini mungkin benar, jika yang dimaksud adalah kemampuan keluarga besar untuk saling membicarakan satu sama lain di grup WhatsApp.

Kita memang hangat, saking hangatnya sampai kalau anak tetangga telat nikah saja bisa jadi agenda utama pos ronda. Kalau istri baru keguguran, yang datang bukan cuma doa, tapi juga nasihat gratis dari tante sebelah rumah soal “kamu kurang sabar.”

Rasa dekat di negeri ini seringkali datang bersama kontrol sosial yang agresif. Kita sulit membedakan antara peduli dan kepo, antara perhatian dan penghakiman. Jadi, hubungan kita memang hangat, tapi kadang seperti hangatnya api unggun di acara perpeloncoan.


Spiritualitas Tinggi, Tapi Moral Terserah Mood

Salah satu alasan kita disebut makmur batin adalah nilai-nilai spiritual kita. Ya, spiritualitas kita tinggi. Salat lima waktu, ikut kajian, zikir rutin, dan teriak di jalanan pas rebutan bansos. Di negara ini, orang bisa hafal juz ‘amma tapi juga hapal jam kerja tetangganya yang janda.

Spiritualitas kadang jadi bungkus dari moral yang lumer. Kita sibuk berdoa, tapi tega memotong antrean. Kita rajin ke masjid, tapi ngemplang hak pekerja. Kita bicara keadilan dari mimbar, tapi begitu dapat proyek, lupa cara membagi dengan adil.

Spiritualitas kita seperti WiFi publik: sering nyambung, tapi sinyalnya lemah di tempat-tempat yang justru paling dibutuhkan.


Makmur Tapi Takut Jadi Diri Sendiri

Jadi, jika semua indikator menyebut kita makmur, kenapa kita tetap merasa cemas? Kenapa saat membuka media sosial, isinya banyak orang pamer pencapaian, dengan captionno flex, just blessed” padahal jelas-jelas flexing?

Kenapa kita harus bekerja keras untuk terlihat bahagia? Kenapa harus membuat konten morning routine ala-ala padahal realitanya baru bangun jam 10 karena semalam begadang mikir utang?

Mungkin karena makmurnya batin kita adalah makmur yang performatif. Kita diajarkan untuk selalu terlihat bahagia, bukan benar-benar merasakannya. Karena ketika seseorang benar-benar bahagia, ia tidak butuh menunjukkannya setiap saat.


Indonesia Bahagia Karena Tidak Tahu Alternatif?

Sekarang mari kita uji kemungkinan ekstrem lainnya: bagaimana jika masyarakat kita merasa makmur karena tidak tahu bahwa bisa hidup lebih baik?

Bagaimana jika seseorang merasa damai karena tidak tahu bahwa haknya sedang dikebiri? Bahagia karena tidak tahu bahwa bisa hidup tanpa dimarahi mandor, dilecehkan atasan, atau dipotong insentif tanpa alasan?

Seperti orang yang lahir dan besar di ruangan gelap, lalu diberi lilin dan merasa itu adalah matahari.

Studi Harvard bisa jadi benar, bahwa kita merasa hidup ini bermakna. Tapi makna apa yang sedang kita rayakan? Apakah itu bentuk kebijaksanaan, atau justru adaptasi terhadap penindasan yang dianggap wajar?


Makmur yang Tidak Terdeteksi Kamera CCTV

Cobalah keluar rumah jam 6 pagi. Lihat wajah-wajah yang berjejal di bus, kereta, atau motor yang berbonceng tiga. Wajah mereka tidak tampak makmur. Mereka tampak lelah, tapi tidak punya pilihan. Mungkin justru di situ makmurnya: kemampuan untuk terus hidup, meski setiap detik seperti guling ke jurang.

Mereka tidak tertawa bukan karena tidak bahagia, tapi karena sedang menjaga sisa energi untuk bertahan. Kita salah kalau menilai bahagia dari senyum. Di negeri ini, senyum bisa jadi alat bertahan, bukan cerminan perasaan.


Perusahaan Juga Ikut-Ikutan: “Flourishing” Tapi Outsourcing

Tulisan ini juga mengaitkan bagaimana konsep makmur batin bisa diterapkan ke perusahaan. Bahwa perusahaan harus memperlakukan karyawan sebagai manusia. Wah, mulia sekali! Tapi di lapangan? Coba tanya satpam kantor atau cleaning service yang digaji outsourcing. Apakah mereka merasa “diperlakukan sebagai manusia seutuhnya”?

Kebanyakan perusahaan di sini masih berpikir “kalau bisa murah, ngapain mahal?” Lalu ditutup dengan jargon: “Kami perusahaan keluarga.” Padahal keluarga macam apa yang kalau kamu sakit malah disuruh resign? Ironisnya, konsep employee well-being atau kesejahteraan karyawan yang mulai digalakkan di perusahaan-perusahaan besar seringkali tidak menyentuh lapisan bawah yang paling rentan.


Kebahagiaan Kolektif Tanpa Infrastruktur Emosional

Di sini kita suka hal kolektif: gotong royong, mudik, buka puasa bareng. Tapi dalam hal mengelola emosi, kita sendirian. Kita diajarkan untuk “sabar”, “ikhlas”, dan “jangan ngeluh.” Akhirnya kita menyimpan semua beban, lalu meledak di tempat yang salah: ke pasangan, anak, atau kadang ke kasir Indomaret.

Kita belum punya infrastruktur emosional. Konseling dianggap kelemahan. Curhat disebut drama. Jadi ya, mungkin kita makmur secara spiritual, tapi kita juga haus secara emosional. Pentingnya menyediakan ruang aman untuk ekspresi emosi dan dukungan kesehatan mental seringkali masih terabaikan.


Penutup: Bahagia yang Tidak Harus Diumumkan

Mungkin memang kita makmur. Tapi dalam diam. Kita bahagia, tapi dalam bentuk yang tidak Instagramable. Bahagia kita bukan pada gelak tawa, tapi pada kemampuan bertahan.

Namun di sisi lain, kita juga perlu jujur. Bahwa banyak dari kita sudah terlalu lelah berpura-pura bahagia. Bahwa makmur itu bukan hanya tentang skor survei, tapi soal bisa tidur nyenyak tanpa mimpi dikejar debt collector.

Indonesia bisa jadi negara paling makmur secara batin, tapi mari kita tanyakan sekali lagi:

Jika memang makmur, mengapa kita masih takut berkata “aku tidak baik-baik saja”? Jika kita benar-benar bahagia, kenapa yang viral adalah kesedihan? Dan jika kita betul-betul cukup, kenapa hati kita masih sering merasa kosong?


Melangkah Maju: Bukan Sekadar Kritik, Tapi Ajakan

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya berhenti pada kritik dan ironi. Jika memang data Harvard itu ada benarnya tentang potensi spiritual kita, lalu bagaimana kita bisa mentransformasikannya menjadi kemakmuran batin yang nyata, dirasakan, dan berkelanjutan bagi setiap individu, bukan hanya di atas kertas? Ini adalah tantangan kita bersama.


Catatan penutup:

Selamat kepada Indonesia. Kita adalah negara paling makmur di dunia; setidaknya di atas kertas. Selebihnya? Ya, kita teruskan saja hidup ini dengan satu slogan nasional yang tidak tertulis tapi diam-diam diamini: “Yang penting kuat.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *