71 petugas Pemilu 2024 meninggal dunia,
42 orang di antaranya adalah petugas KPPS.
Sekitar 4,500 orang lainnya jatuh sakit. Padahal berbagai upaya untuk mencegah tragedi di pemilu 2019 telah dilakukan, tapi nyatanya tragedi ini di kembali terjadi.
Saya mau bicara tentang nyawa hilang
demi suara yang dikawal.
Apakah format pemilu perlu diubah?
Apakah masih masuk akal untuk para petugas mengitung 5 kotak suara dalam satu hari?
Nyatanya di setiap TPS, KPU sudah menetapkan jumlah pemilih maksimal adalah 300 orang. Dan memang para petugas telah melakukan screening kesehatan.
Tapi gegernya, menurut data dari Kemenkes
dari 6,8 juta petugas yang ikut screening
ada 400 ribu orang yang berisiko tinggi
dan mereka masih lolos.
Resiko tinggi di sini paling banyak hipertensi
dan memang penyebab kematian terbanyak di petugas pemilu adalah penyakit jantung hipertensi dan kelelahan.
Gimana nggak banyak petugas yang dihantam?
Jam kerja panjang yang dihadapi. Dari pagi ke pagi.
Apakah beban kerja sudah dipertimbangkan?
Dengan kendala seperti harus hitung ulang,
suara tidak sesuai
sampai aplikasi Sirekap yang error.
Sudah saatnyakah kita evaluasi sistem pemilu serentak ini?
Di 2021, empat petugas pemilu sempat mengajukan permohonan ke MKu ntuk memisahkab pileg di daerahd engan pemilihan presiden, DPR dan DPD, tapi MK menolak.
Kalau kata KPU, Pemilu serentak bisa menghasilkan pemerintahan yang lebih stabil.
Tapi apakah sebanding dengan resikonya? Sebanding dengan mereka yang harus berkorban demi mengawal suara?
Apakah kita sudah jadi Thanos yang rela mengobarkan sebagian demi kebaikan keseluruhan?

