Bill Gates beli sawah. Mark Zuckerberg piara sapi. Jack Ma jadi nelayan. David Beckham cabut rumput. Sementara kita? Masih sibuk ngulik koin digital yang kalau salah prediksi, tinggal jadi digital doang.
Mari kita tengok sebentar…
Bill Gates, bapak Microsoft, bukan saja sibuk ngembangin teknologi baru, tapi malah Tapi malah beli lahan pertanian 275.000 hektar di 18 negara. Dan juga utak-atik vaksin, tentunya.
Gila. Itu luasnya bisa buat gelar konser Coldplay 2000 kali, dan masih cukup sisa untuk parkir helikopter Elon Musk.
Mark Zuckerberg, si jenius teknologi di balik Facebook, malah lagi sibuk ngurus sapi Wagyu di Hawaii.
Bukan buat konten reels, tapi buat menciptakan “daging sapi terbaik di dunia”.
Sapi itu dipiara dengan kasih sayang dan playlist jazz premium. Bukan digiring pake pentungan dan drama keluarga. Apa lagi pake tung tung sahur.
Jack Ma, dulu ngajarin kita e-commerce. Sekarang jadi tukang tanam organik dan nelayan part time.
Gak heran kalau suatu hari nanti kita buka Tokopedia, muncul promo:
“Bayam dari Jack Ma, Beli 3 Gratis 1 Nila.”
Dan jangan lupakan David Beckham.
Dulu ngoper bola, sekarang ngoper cangkul.
Dia berkebun, nanam sayur, terus bikin brand makanan sehat.
Lagi hits, katanya: “Makan Tomat, Biar Ganteng Kayak Saya.”
Sementara itu, pemuda kita?
Bukannya ikut nanam atau ternak.
Malah diternakkan oleh mimpi instan.
Dicekokin kripto, NFT, staking, airdrop, blockchain, shitcoin, rugpull, bull market, bear market, sampe market tutup total.
Ada yang rela jual motor buat beli koin, endingnya malah naik ojek tiap hari.
Ada yang buka channel YouTube ngajarin orang investasi, padahal saldo sendiri tinggal 12 ribu.
Ada juga yang bilang,
“Bro, masa depan itu digital!”
Iya, tapi perut lo tetep analog, Bro.
Makan harus nasi, bukan NFT nasi uduk.
Waktu pandemi datang, semuanya panik.
Mall tutup. Restoran tutup.
Yang buka cuma warung sayur dan pasar ayam.
Temanku, sebut saja namanya Haji Wagiman.
Punya peternakan sapi, kebun jagung, dan kolam ikan.
Di saat orang panik beli mie instan dan masker, dia santai.
Sarapan pakai telur sendiri, makan siang ikan gurame hasil panen sendiri, malam nyeduh jahe dari kebunnya sendiri.
Aku tanya,
“Mas, kok adem banget hidupmu?”
Dia jawab,
“Lha wong aku nggak tergantung aplikasi. Allah sudah kasih tanah subur, air berlimpah, sinar matahari. Masak disuruh trading coin yang nggak bisa dipanggang kalau lapar?”
Makjleb.
Sejak itu aku pensiun dari grup Telegram “Crypto to the Moon”.
Gini loh, kawan.
Kalau para milyarder yang menciptakan teknologi malah lari ke sawah dan kandang,
maka mungkin justru itu puncak teknologi sesungguhnya. Bukan bikin aplikasi pengingat minum air, tapi mengairi sawah.
Negara kita ini ditakdirkan jadi negara agraria.
Tapi sayangnya, kita lebih sibuk menanam FOMO daripada menanam kangkung.
Kalau Bill Gates bisa ngerti pentingnya jagung,
dan Mark Zuckerberg bela-belain jadi cowboy,
masa kamu masih mau jadi budak sinyal?
Ayolah.
Cangkul itu berat. Tapi kalau rame-rame, bisa jadi startup juga.
Namanya: “TanamIn.”
Tagline-nya: “Investasi yang bisa digoreng.”
#KembaliKeCangkul
#SahamSapiLebihAman
#MarkPiaraSapiKitaMalahNgimpi
#DigitalBolehTapiPerutButuhNasi
#JanganCumaNambangKoinTanamlahBayam

