Bara di Jazirah yang Menganga
Sebuah bara lama kembali memanas. Ketegangan antara Iran ( Syiah ) dan Israel kini menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan, mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran global. Di balik pertarungan rudal dan propaganda, konflik ini mencerminkan rivalitas geopolitik dan teologis yang telah lama membara: antara Republik Islam Iran sebagai pusat kekuatan Syiah, dan Israel sebagai negara sekuler yang bersekutu erat dengan Barat serta banyak rezim Sunni di kawasan.
Namun, dampak dari ketegangan ini tidak terbatas pada dua negara itu saja. Ia menimbulkan gelombang ketidakpercayaan, memperkuat narasi sektarian, dan menyulut kembali luka-luka dalam tubuh umat Islam. Banyak Muslim Sunni melihat Iran bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai simbol dari mazhab yang mereka curigai. Di sisi lain, sebagian Syiah merasa terus-menerus disudutkan dan didiskriminasi oleh mayoritas dunia Muslim, seringkali mendorong mereka mencari dukungan regional yang dapat memperkuat posisi mereka.
Perang di Yaman merupakan bagian penting dari konflik ini dan sering disebut sebagai perang proksi antara Iran dan Arab Saudi. Namun lebih dari itu, ia adalah konflik multidimensi yang melibatkan perpecahan internal Yaman, perebutan kekuasaan, serta dimensi keagamaan yang memperkuat garis perbedaan antara Sunni dan Syiah. Kelompok Houthi yang berasal dari mazhab Zaidiyah, salah satu cabang Syiah, memanfaatkan kekacauan pasca Arab Spring dan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat untuk merebut kekuasaan. Hal ini memancing intervensi Arab Saudi yang melihat Yaman sebagai bagian dari zona pengaruhnya dan khawatir terhadap perluasan pengaruh Iran di selatan Jazirah.
Namun konflik ini jauh lebih kompleks dari label sektarian yang sering disematkan. Ia merupakan gabungan dari sengketa kekuasaan, pengaruh luar negeri, dendam historis, dan kesalahpahaman teologis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Untuk memahaminya, kita harus bersedia menyelam ke dalam kedalaman sejarah Islam, menggali doktrin yang sering disalahartikan, serta melihat manusia, bukan hanya identitas mazhabnya.
Sejarah Retak yang Menjadi Jurang
Perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak muncul dari langit begitu saja. Ia bermula dari pertanyaan mendasar setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ: siapa yang berhak memimpin umat?
Kelompok yang hari ini dikenal sebagai Sunni meyakini bahwa kepemimpinan adalah hasil musyawarah umat (syura), dan karena itu, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama. Sebaliknya, kelompok yang kemudian disebut Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, telah ditunjuk secara langsung oleh Rasulullah sebagai penerusnya, berdasarkan wahyu ilahi.
Perbedaan ini bukan sekadar perdebatan administratif, tapi menembus ke wilayah teologis yang dalam. Dalam pandangan Syiah, konsep Imamah-yakni kepemimpinan spiritual dan politik yang ditetapkan oleh Tuhan melalui Nabi kepada Ali dan keturunannya-adalah bagian integral dari iman. Sedangkan bagi Sunni, tidak ada nash qath’i (teks pasti) yang menetapkan penerus Nabi secara personal, melainkan umat diberi kebebasan untuk memilih.
Perpecahan ini diperparah oleh tragedi politik berdarah, mulai dari Perang Jamal, Perang Shiffin, hingga puncaknya di Karbala-di mana cucu Nabi, Husain bin Ali, terbunuh oleh pasukan yang mengklaim kekuasaan atas nama Islam. Darah Husain menjadi simbol kesedihan abadi dalam narasi Syiah, dan menjadi saksi bisu bahwa politik seringkali membunuh nama Tuhan yang diserukan atas nama-Nya.
Membedah Teologi yang Dipelintir
Kesalahpahaman terhadap mazhab Syiah sering bermula dari simplifikasi berlebihan dan tuduhan ekstrem: bahwa mereka menyembah Ali, bahwa mereka menganggap Al-Qur’an telah diubah, atau bahwa mereka mengutuk semua sahabat Nabi.
Fakta historis dan literatur orisinal membantah klaim-klaim tersebut secara menyeluruh. Mayoritas ulama Syiah Itsna Asyariah (dua belas imam) secara eksplisit meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang sama seperti yang diyakini kaum Sunni. Tuduhan bahwa mereka memiliki mushaf berbeda adalah hoaks klasik yang sudah berkali-kali dibantah oleh ulama mereka sendiri.
Begitu pula soal “pengultusan Ali.” Meski ada kelompok ekstrem yang disebut ghulat (berlebih-lebihan) yang mungkin mengklaim hal-hal aneh tentang Ali, kelompok ini telah dikafirkan oleh Syiah arus utama sendiri. Syiah yang berpegang pada ajaran Ja’far Ash-Shadiq, misalnya, sangat menjunjung tinggi tawhid dan tidak pernah menempatkan Ali setara dengan Nabi, apalagi dengan Allah.
Kesalahpahaman lainnya berkaitan dengan sikap terhadap sahabat Nabi. Sebagian Syiah memang mengkritik tokoh-tokoh tertentu, terutama yang mereka anggap merebut hak Ali. Tapi ini harus dipahami dalam konteks historis, bukan sebagai bentuk kebencian terhadap seluruh generasi sahabat.
Kekerasan dan Kekuasaan: Ketika Mazhab Jadi Alat
Di sinilah masuk dimensi politik yang membingkai konflik Yaman. Pemerintahan Houthi di Yaman Utara adalah kelompok Zaidiyah, salah satu cabang Syiah yang secara historis lebih dekat ke Sunni dalam praktik fikihnya. Namun, dalam pertarungan politik modern, identitas keagamaan menjadi alat justifikasi kekuasaan.
Setelah kelompok Houthi menguasai Sanaa dan menjatuhkan pemerintahan Presiden Hadi (yang didukung Arab Saudi), muncul narasi bahwa ini adalah “kebangkitan Syiah” yang menindas Sunni. Sebaliknya, Saudi dan sekutunya menggambarkan intervensinya sebagai bentuk “penyelamatan kaum Sunni.”
Sayangnya, dalam kenyataan di lapangan, rakyat sipil menjadi korban utama. Di wilayah yang dikuasai Houthi, kekerasan terhadap komunitas Sunni memang terjadi-mulai dari pengusiran, pelarangan ibadah tertentu, hingga pengawasan ketat terhadap masjid. Ini bukan hanya soal mazhab, tetapi soal penggunaan kekuasaan otoriter yang menginstrumentalisasi agama.
Namun, perlu diingat pula bahwa tidak semua komunitas Sunni bersikap damai terhadap Syiah. Dalam banyak kasus, masjid-masjid Syiah juga pernah diledakkan oleh kelompok ekstremis yang mengatasnamakan Sunni. Kekerasan ada di dua sisi ekstrem, dan keduanya menodai nama Islam.
Siapa yang Menentukan Kita Sunni atau Syiah?
Salah satu ironi besar dalam dunia Islam hari ini adalah mudahnya memberi label. Seorang Muslim bisa dengan cepat dicap “Syiah” hanya karena mengutip ucapan Imam Ali, atau menunjukkan kecintaan kepada Ahlul Bait. Bahkan sebagian ulama Sunni klasik pun dituduh menyimpang hanya karena mereka menghormati keturunan Nabi.
Padahal dalam sejarah, tokoh-tokoh seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, bahkan Imam Al-Ghazali, menunjukkan cinta mendalam kepada Ahlul Bait tanpa kehilangan identitas Sunni mereka. Imam Syafi’i pernah berkata, “Jika mencintai Ahlul Bait membuatku Syiah, maka saksikanlah wahai manusia bahwa aku adalah Syiah.”
Tentu, ucapan itu bukan dalam konteks doktrinal, melainkan sebagai ekspresi perasaan. Tapi hari ini, ekspresi seperti itu bisa menjadi alasan untuk menuduh orang sesat. Kita telah kehilangan ruang untuk nuansa dan membiarkan semangat takfirisme meracuni ukhuwah.
Imamah dan Khilafah: Dua Jalan Menuju Tuhan
Perbedaan antara Imamah dan Khilafah sebenarnya mencerminkan dua pendekatan dalam memahami otoritas Islam.
Bagi Sunni, otoritas adalah hasil musyawarah umat dan legitimasi sosial. Tidak ada penunjukan ilahi setelah Nabi wafat. Sebaliknya, Syiah meyakini bahwa Tuhan menetapkan Ali dan para imam sesudahnya sebagai pemimpin tidak hanya politik, tetapi juga spiritual dan moral.
Dari sinilah muncul dua sistem teologi yang berbeda. Sunni mengembangkan ilmu kalam dengan pendekatan rasionalis (kalam Asy’ari dan Maturidi), sementara Syiah mengembangkan teologi berbasis pemaknaan atas maksum (kemaksuman para Imam) dan ilmu batin.
Namun, keduanya tetap berada dalam orbit tauhid, tetap membaca syahadat yang sama, dan tetap shalat lima waktu yang sama. Perbedaan teologis ini tidak seharusnya menjadi dasar untuk saling mengafirkan, apalagi membunuh.
Ketika Warisan Intelektual Menjadi Jembatan
Di tengah keterbelahan ini, ada secercah harapan dalam bentuk warisan intelektual Islam. Ulama seperti Mulla Sadra, Muhammad Baqir Ash-Shadr, dan Ali Syariati dari kalangan Syiah telah memberi kontribusi besar dalam filsafat Islam, pemikiran sosial, dan gerakan pembebasan. Di sisi lain, ulama Sunni seperti Ibn Khaldun, Al-Ghazali, dan Iqbal juga menjadi obor peradaban.
Mengapa kita tidak bisa mengapresiasi semuanya?
Keterbukaan intelektual seharusnya bukan dianggap sebagai penyimpangan, tetapi sebagai tanda kedewasaan iman. Mengutip pendapat ulama Syiah bukan berarti kita menjadi Syiah, sebagaimana mempelajari pemikiran Protestan bukan berarti menjadi Kristen.
Islam yang matang adalah Islam yang tidak takut berdialog dengan yang berbeda, justru karena keyakinannya kuat.
Jalan Keluar: Moderasi, Dialog, dan Ukhuwah
Perpecahan yang terus diperpanjang hari ini bukan karena doktrin semata, tetapi karena kepentingan politik dan emosi massa yang dibakar oleh retorika kebencian.
Muslim hari ini lebih butuh tafaqquh (pemahaman mendalam) daripada tasattur (penyembunyian kebodohan). Kita tidak butuh lebih banyak pengkhotbah kemarahan, tapi pembangun jembatan. Ulama yang menyerukan persatuan tanpa mengorbankan prinsip, dan intelektual yang membangun ruang dialog tanpa meniadakan batas aqidah.
Ada banyak titik temu yang bisa dirayakan: kecintaan pada Rasul, pada Al-Qur’an, pada akhlak, pada perjuangan keadilan. Ada banyak nilai universal yang bisa menjadi jembatan: menolong fakir miskin, memperjuangkan hak perempuan, menolak penjajahan, membela Palestina.
Daripada sibuk mengungkit siapa kafir, siapa sahabat yang benar, siapa imam yang maksum-lebih baik kita sibuk mencari solusi untuk penderitaan umat, untuk air bersih di Gaza, pendidikan di Sanaa, atau ketertindasan minoritas Muslim di seluruh dunia.
Peran Barat dalam Memelihara Jurang
Konflik Sunni-Syiah bukan hanya soal internal umat Islam. Di balik retorika agama yang berkobar, seringkali ada campur tangan kekuatan eksternal yang memiliki kepentingan dalam menjaga fragmentasi dunia Islam.
Sejak masa kolonial, kekuatan Barat menyadari bahwa perpecahan di tubuh umat Islam adalah cara paling efektif untuk mempertahankan dominasi mereka. Inggris, misalnya, memainkan peran penting dalam pembentukan negara-negara sektarian, termasuk rekayasa batas wilayah yang menciptakan konflik internal seperti di Irak dan Lebanon.
Di masa modern, intervensi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah kerap kali memperburuk ketegangan antarmazhab. Invasi Irak pada 2003 membuka kotak Pandora sektarianisme yang menghancurkan. Pemerintahan Syiah pasca-Saddam Hussein memicu kemarahan banyak kelompok Sunni, yang merasa kehilangan hak-hak politiknya. Kekacauan ini dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis seperti ISIS, yang justru memperkuat narasi kekerasan terhadap Syiah.
Lebih jauh lagi, dukungan Barat terhadap negara-negara tertentu di kawasan membuat konflik ini semakin rumit. Arab Saudi, misalnya, sebagai sekutu utama AS, menerima dukungan senjata dan logistik dalam kampanyenya di Yaman. Sementara Iran, yang dijadikan musuh utama, dikucilkan secara ekonomi dan politik, mendorongnya untuk semakin keras mempertahankan eksistensinya lewat poros perlawanan (axis of resistance).
Media internasional pun turut berperan, seringkali menyederhanakan konflik sebagai “pertikaian Sunni-Syiah”, tanpa menyentuh akar sosial-politik yang lebih dalam. Narasi seperti ini melanggengkan stereotip, menjauhkan simpati global terhadap korban sipil, dan menciptakan polarisasi di tengah umat Islam sendiri.
Pertanyaannya: apakah kita akan terus menjadi pion dalam permainan geopolitik global, atau mulai menyadari bahwa penyembuhan luka internal harus dimulai dari kesadaran kita sendiri?
Mewarisi Luka atau Merawat Harapan
Luka-luka sejarah, bila tidak diobati, akan membusuk dan menjadi warisan pahit bagi generasi selanjutnya. Tapi luka juga bisa menjadi tempat tumbuhnya empati, bila kita mau belajar darinya.
Hari ini, anak-anak muda Muslim di berbagai belahan dunia terjebak dalam narasi lama: bahwa sesama Muslim adalah ancaman, hanya karena beda mazhab. Padahal tantangan kita jauh lebih besar-kemiskinan, kebodohan, penjajahan, dan eksploitasi sumber daya oleh asing.
Tanda kematangan umat bukan ketika semua sepakat dalam satu pandangan, tetapi ketika perbedaan bisa dihadapi dengan kasih sayang dan intelektualitas. Kita tidak perlu menghapus identitas Sunni atau Syiah, tetapi cukup saling memahami bahwa setiap jalan menuju Allah punya sejarah, trauma, dan perjuangannya sendiri.
Generasi baru Muslim memiliki kesempatan emas untuk tidak lagi mewarisi bara dendam, tetapi mewarisi semangat rekonsiliasi. Media sosial, pendidikan lintas negara, dan kerja sama ulama dari berbagai mazhab bisa menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali semangat ukhuwah yang universal.
Seperti yang dikatakan Ali Syariati, “Tugas kita bukan mengutuk kegelapan, tetapi menyalakan lilin-lilin kecil.” Dan mungkin itulah yang dibutuhkan umat Islam hari ini-lilin-lilin yang menerangi ruang dialog, bukan obor yang membakar sesama saudara.
Kita Saudara dalam Luka dan Harapan
Islam lahir bukan untuk menciptakan kasta dalam iman, bukan pula untuk membangun tembok antara para pencinta Rasul. Ia hadir sebagai rahmat-sebagaimana tertulis dalam firman Allah: “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)
Syiah dan Sunni bukan dua agama. Keduanya adalah saudara yang lama bertengkar, tetapi tetap menghadap kiblat yang sama. Konflik Yaman, Irak, Suriah, dan lainnya harus kita lihat bukan hanya sebagai bentrokan politik, tetapi sebagai cermin kebingungan umat yang kehilangan arah.
Kita bisa berbeda tanpa membenci. Kita bisa menyanggah tanpa mengafirkan. Kita bisa berdiskusi tanpa mengangkat senjata. Dan kita bisa mencintai Ahlul Bait tanpa harus mengkhianati keimanan Sunni kita.
Karena pada akhirnya, pertanyaan yang akan ditanyakan di hadapan Allah bukan: “Kau Sunni atau Syiah?” Tapi: “Apa yang telah kamu lakukan untuk sesamamu?”
Referensi:
Buku & Terjemahan
- Ali Syariati – Tugas Cendekiawan Muslim
- Ali Syariati – Islam dan Doktrin Cinta (Fatimah adalah Fatimah)
- Murtadha Muthahhari – Imamah dan Kepemimpinan
- Abd al-Husayn Sharaf al-Din – Dialog Sunni–Syiah (al-Murāja‘āt)
- Sultan al-Wa’izin Shirazi – Peshawar Nights
Jurnal & Artikel Online
- Nirwansyah Putra – “Ali Shariati dan Tugas Cendekiawan Muslim”
- Masroer – “Revolusi Pemikiran Keislaman Ali Syariati dan Yudian Wahyudi”
- Noval Maliki – “Pendidikan Humanistik ala Ali Syari’ati”
- Khairul Azhar Saragih – “Pandangan Ali Syari’ati tentang Tanggung Jawab Sosial Intelektual Muslim”

