Dulu aku kira seks sebelum menikah itu cuma soal dosa atau tidak. Cuma perkara larangan agama, norma, atau budaya.
Ternyata, itu cuma permukaannya.
Yang lebih dalam adalah bekasnya. Bukan cuma di tubuh, tapi juga di jiwa. Dan yang paling sulit, kadang kita gak sadar kalau luka itu ikut terbawa, bahkan setelah pernikahan yang sah.
Memberi Sesuatu ke Orang yang Tak Berjanji Menjaga
Seks bukan hanya soal fisik. Ia melibatkan emosi, kepercayaan, bahkan keterikatan jiwa. Ketika kita memberikan itu ke seseorang yang belum tentu siap atau mau berkomitmen, kita sedang membuka diri untuk kemungkinan terluka.
Yang kita beri bukan cuma tubuh… tapi rasa. Kedekatan yang terlalu dalam, untuk seseorang yang tidak berjanji menjaga sampai akhir.
Dan saat semuanya sudah berakhir, yang tertinggal bukan hanya kenangan. Tapi standar rasa yang anehnya, justru ikut terbawa ke hubungan selanjutnya—termasuk pernikahan.
Cerita Nyata yang Menghantui Dalam Diam
Aku kenal seseorang. Pernikahannya terlihat sempurna. Istrinya baik, rumah tangganya harmonis. Tapi diam-diam, ia berselingkuh.
Bukan karena kurang cinta. Bukan karena istrinya tidak cukup.
Tapi karena… dulu dia pernah merasakan sesuatu yang sekarang tidak lagi ia temukan.
Dan saat aku perhatikan, ternyata dia tidak sedang mencari yang lebih baik. Dia hanya sedang mencari sesuatu yang familiar—yang pernah ia rasakan di masa lalu, di waktu yang salah, dengan cara yang salah.
Rasa itu jadi racun. Jadi pembanding. Dan makin dilawan, makin menghantui.
Seks Itu Sakral. Salah Tempat, Bisa Jadi Luka
Seks sebelum nikah bukan hanya soal nafsu. Tapi soal rasa yang terlalu dalam diberikan kepada orang yang belum tentu bertanggung jawab. Dan ketika akhirnya menikah, yang muncul bukan hanya cinta… tapi juga sisa luka. Sisa kenangan. Sisa ekspektasi yang tidak realistis.
Seks itu sakral. Tapi kalau ditempatkan di waktu dan cara yang salah, bisa berubah jadi trauma. Jadi candu. Bahkan jadi alasan untuk meninggalkan rumah demi rasa yang sebenarnya tidak pernah memberi ketenangan.
Kalau Sudah Terlanjur, Bukan Akhir Segalanya
Aku tidak menulis ini untuk menghakimi siapa pun yang sudah terlanjur. Tidak juga untuk membuatmu merasa kotor atau gagal.
Aku menulis ini untuk pelan-pelan mengingatkan:
-
Kalau belum terjadi, jaga.
-
Kalau sudah terjadi, sadar.
-
Kalau sudah sadar, pulih.
-
Dan setelah pulih, jangan ulangi.
Tubuhmu bukan pelampiasan. Tapi warisan—untuk seseorang yang berani berjanji menjaga sampai tua.
Dan jiwamu? Itu suci. Kalau terlalu lama dibiarkan kotor, kamu sendiri yang paling susah membersihkannya.
Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat. Bukan karena aku lebih baik. Tapi karena aku juga sedang belajar menjaga, memulihkan, dan bertumbuh—bersama kamu.

