Seperti Ibrahim dan Ismail: Sudahkan Kita Korbankan Ego Kita?

Setiap dari kita adalah Ibrahim. Bukan karena kenabian atau mukjizat, tapi karena kita pernah mencintai sesuatu dengan begitu dalam. Kita pernah punya sesuatu yang begitu kita genggam erat. Yang kita perjuangkan, kita lindungi, kita jaga seolah hidup kita bergantung padanya.

 

Tak harus anak kandung. Ismail zaman ini bisa bermacam rupa:

Harta yang kita tabung bertahun-tahun.

Jabatan yang kita capai setelah begadang dan berkorban waktu tidur.

Pasangan yang kita genggam erat karena takut kesepian.

Citra diri yang kita rawat seperti museum: penuh pujian, tanpa ruang kejujuran.

 

Ismail adalah apa pun yang membuat kita merasa: “Ini milikku.” Dan saat kau merasa itu milikmu, maka kau sudah seperti Ibrahim, yang diminta Tuhan: “Sembelih.”

Kurban bukan tentang darah. Tuhan tidak lapar. Tuhan tidak buas.

Yang Ia inginkan adalah kesadaran: bahwa segala yang kita miliki bukan benar-benar milik kita. Bahwa harta, jabatan, cinta, bahkan anak pun—adalah titipan.

 

Maka puncak kurban bukan pada hewan yang rebah. Tapi pada ego yang disembelih.

Pengorbanan Ibrahim bukan tentang menghilangkan Ismail, tapi tentang menanggalkan rasa kepemilikan.

 

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang bahkan tidak percaya Tuhan, punya gagasan penting:

“Manusia selalu ingin memiliki, karena ia takut tidak berarti.”

 

Maka ia membeli. Ia mengoleksi. Ia menggenggam. Ia mengikat.

Bukan karena butuh, tapi karena takut kosong.

 

Kita mengisi lubang eksistensial dalam diri dengan harta, jabatan, pasangan, status sosial. Padahal, ironisnya:

Apa pun yang kita miliki, lama-lama akan balik memiliki kita.

Coba kehilangan pekerjaan yang bergengsi. Lihat seberapa besar jati dirimu ikut runtuh.

Coba ditinggalkan pasangan yang jadi pusat duniamu. Lihat betapa hidup tiba-tiba terasa kiamat kecil.

Kita bukan cuma punya Ismail. Kita menyatu dengannya.

 

Syirik bukan cuma soal menyembah berhala. Tapi juga menjadikan sesuatu selain Tuhan sebagai pusat gravitasi hidup.

Saat harta, jabatan, atau seseorang menjadi sumber kebahagiaan utama, maka sesungguhnya kita sudah bergantung padanya.

Dan ketergantungan itu yang menciptakan ketakutan untuk melepaskan.

 

Ibrahim tidak diminta menyembelih anaknya. Ia diminta menyembelih rasa kepemilikannya.

René Girard, antropolog agama, menyebut pengorbanan dalam sejarah manusia sebagai bentuk purifikasi sosial. Tapi dalam kisah Ibrahim, terjadi lompatan revolusioner:

Dari pengorbanan fisik menjadi pengorbanan egoistik.

Dari ritual berdarah menjadi ujian spiritual.

Dari membunuh yang dicintai menjadi membunuh rasa cinta yang posesif.

 

Ibn ‘Ashur, dalam tafsirnya, menulis bahwa inti kurban Ibrahim adalah menundukkan nafs al-mulk: rasa memiliki mutlak terhadap sesuatu.

Itu sebabnya kurban terasa menyakitkan.

Bukan karena kita kehilangan sesuatu, tapi karena kita kehilangan kendali atasnya.

Melepaskan itu menyakitkan karena melepaskan adalah pengakuan bahwa kita tidak kuasa.

Dalam psikologi eksistensial, ini disebut death anxiety.

Takut mati—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara makna: kehilangan peran, status, cinta, pengakuan.

Maka kita menempel pada hal-hal di luar diri: jabatan, relasi, pujian. Seolah itu bisa menyelamatkan kita dari kehampaan.

 

Tapi Viktor Frankl menulis:

“Happiness cannot be pursued; it must ensue.”

Kebahagiaan tidak bisa dikejar. Ia muncul sebagai hasil samping.

Bukan saat kita menggenggam, tapi saat kita rela.

Bukan saat kita menambah, tapi saat kita memberi.

 

Idul Adha kini sering selesai di level simbolik.

Kambing disembelih. Daging dibagi. Selfie diunggah.

Tapi makna terdalamnya tak ikut tertumpah.

Padahal, Tuhan tidak meminta kita mengeluarkan biaya.

Tuhan ingin kita merasakan luka kecil dalam batin—bahwa kita pernah terlalu mencintai, dan sekarang sedang belajar melepasnya.

 

Kurban sejati tidak terjadi setahun sekali. Ia hadir setiap kali kita memilih untuk melepaskan sesuatu yang selama ini kita peluk erat. Misalnya:

Mengorbankan ambisi pribadi demi waktu bersama keluarga.

Mengorbankan rasa benar sendiri demi menjaga cinta.

Mengorbankan citra demi kejujuran yang menyehatkan.

Mengorbankan gengsi demi berdamai dengan kenyataan.

Ismail tidak harus mati. Tapi perasaan bahwa Ismail itu milik kita, itulah yang harus disembelih.

 

Setiap dari kita punya Ismail. Pertanyaannya:

Apakah kita tahu apa Ismail kita?

Atau kita justru masih sibuk memupuknya, mempercantiknya, menyembunyikannya dari dunia, karena kita tahu betapa takutnya kita jika kehilangannya?

Kalau hari ini Tuhan mengetuk hati dan bertanya seperti kepada Ibrahim:

“Maukah kau serahkan Ismailmu?”

Mampukah kita menjawab tanpa gemetar?

Atau justru kita akan berucap pelan, dengan suara penuh tangis:

“Tapi, Tuhan… Ismail itu seluruh hidupku.”

Dan Tuhan, dengan penuh kasih, akan menjawab:

“Itulah masalahnya.”

 

Selamat Idul Adha.

Semoga yang kita sembelih tahun ini bukan cuma hewan.Tapi juga rasa memiliki yang membebani.

Semoga kita belajar menjadi Ibrahim—yang saat diuji, tak lagi bicara tentang miliknya, tapi tentang amanah yang siap dikembalikan.

Selamat Idul Adha.

Semoga yang tersisa di tangan kita bukan darah, tapi makna.Dan semoga setiap kehilangan—adalah awal dari kelapangan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *