“Siapa Sih yang Nggak Pernah Diurusin?”

“Siapa Sih yang Nggak Pernah Diurusin?”

Beberapa waktu lalu, seorang teman curhat soal postingannya di media sosial yang tiba-tiba ramai dikomentari. Bukan karena isinya kontroversial—hanya foto sederhana saat ia memutuskan resign dan mulai usaha kecil-kecilan. Tapi komentar yang datang malah bernada sinis: “Yakin bisa hidup dari situ?”, “Sayang ijazahnya.”

Ia hanya tersenyum waktu bercerita, tapi aku tahu, hatinya sempat lelah. Bukan karena usahanya berat, tapi karena banyak orang merasa perlu mengomentari hidupnya seolah lebih tahu.

Kejadian seperti ini bukan hal baru. Rasanya banyak dari kita pernah jadi “korban” komentar tak diminta, atau justru tanpa sadar pernah ikut mengomentari hidup orang lain.

Fenomena ini seringkali lahir dari satu hal: kurangnya kecerdasan emosional. Ketika seseorang tidak terbiasa berempati, tidak nyaman dengan perbedaan, atau belum mampu mengelola rasa iri dan insecure, komentar negatif jadi semacam pelampiasan.

Padahal, kita punya pilihan. Bisa terus menaruh energi untuk menilai hidup orang lain, atau mulai fokus memperbaiki hidup sendiri. EQ bukan bawaan lahir, tapi sesuatu yang bisa dilatih—melalui empati, refleksi, dan kemauan untuk belajar.

Daripada repot mencari celah kesalahan orang lain, mengapa tidak mulai mengisi waktu dengan hal yang membangun? Temukan hobi yang bermanfaat, kembangkan diri, dan cari kebahagiaan dari dalam, bukan dari membandingkan atau menjatuhkan.

Hidup ini pendek. Mari belajar menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, dan memberi ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *