Two-State Solution: Solusi Dua Negara, atau Dua Kali Ditampar oleh Sejarah?

Two-State Solution: Solusi Dua Negara, atau Dua Kali Ditampar oleh Sejarah?

Mari kita menyelam ke dalam absurditas politik global dengan snorkel ketidakwarasan internasional.

Bab 1: Sejarah Dimulai dari Penipuan

Tahun 1947. PBB—lembaga paling damai tapi paling absurd setelah reality show tentang istri-istri orang kaya—mengusulkan UN Partition Plan. Idenya simpel: Ada dua kelompok di Palestina, satu penduduk asli yang sudah ratusan tahun tinggal di sana, satu lagi adalah tamu baru yang datang karena katanya nenek moyang mereka punya surat tanah dari ribuan tahun lalu.

Alih-alih menyelesaikan masalah, PBB bilang, “Ya udah deh, kalian berdua punya rumah masing-masing.” Masalahnya, rumah itu cuma satu. Jadilah solusi dua negara itu seperti bilang, “Ini sepeda punya kamu berdua, padahal yang satu baru nyolong kemarin dan sekarang bawa shotgun.”

Bab 2: Inggris, Balfour, dan Bal-Forgot

Deklarasi Balfour: surat cinta dari Inggris untuk Zionis, tanpa sepengetahuan pemilik rumah asli. Lucu kan? Seperti kita nulis surat izin tinggal di rumah tetangga dan berharap tetangga ngangguk.

Inilah saat Palestina dimulai bukan dari konflik agama, tapi kolonialisme dengan bumbu supremasi rasial. Orang-orang Yahudi (Zionis, bukan semuanya ya) datang dengan sponsor kerajaan kolonial. Dikasih senjata, dikasih lahan, dikasih status. Kalau kamu pernah nonton sinetron, ini kayak tokoh antagonis yang tiba-tiba jadi pemilik rumah padahal belum masuk episode tiga.

Bab 3: Amerika dan Setting Konflik

Setelah Inggris pensiun, Amerika mengambil tongkat estafet: pelatih utama tim Zionis FC. Dengan alasan kemanusiaan pasca-Holocaust, mereka membantu Zionis mendirikan negara di tanah yang sudah berpenghuni. Amerika bilang, “Kami ingin memberikan mereka tempat yang aman.” Aman dari siapa? Dari Eropa yang ngebantai mereka? Jadi tempatnya Palestina?

Ini seperti kamu dikejar-kejar anjing di gang rumah orang, lalu kamu ngumpet di rumah orang itu, tapi ujung-ujungnya kamu usir pemilik rumahnya dan klaim itu rumah nenek moyangmu. Hollywood harus bikin film ini. Judulnya: The Landlord Who Was Never a Tenant.

Bab 4: Negara Yahudi Berdiri, Palestina Ambruk

Tahun 1948, Israel berdiri. Palestina… ya, mulai dijatuhkan. Bukan dengan pemilu atau debat publik, tapi dengan senjata dan pengusiran massal. Nakba, kata orang Palestina. Pesta peresmian kata orang Zionis.

Dan saat itu dunia menonton. Dunia, dengan kostum PBB, duduk di tribun dan bertepuk tangan saat tuan rumah dilempar keluar jendela oleh tamu tak diundang.

Bab 5: Two-State Solution: Nama Keren untuk Pemutihan

Two-State Solution katanya. Solusi katanya. Tapi lebih mirip pemutihan. Penjajah dikasih negara, yang dijajah dikasih setengah napas dan dikasih label “negara” yang tak punya bandara, pelabuhan, atau hak menentukan kebijakan.

Bayangkan kamu tinggal di rumah, lalu dijajah, lalu dibunuh, lalu 70 tahun kemudian penjajah bilang, “Gini aja deh, lu ambil dapur dan kamar mandi, gua ambil kamar utama, ruang tamu, dan halaman. Deal?”

Kita bilang itu solusi?

Bab 6: Indonesia, Prabowo, dan What If ala Kolonial

Masuklah Indonesia ke dalam drama ini. Prabowo bilang, “Kita akan akui Israel jika mereka akui Palestina.” Statement yang secara logika mirip bilang, “Kita akan mengakui pemerkosa sebagai suami, asalkan dia mengakui bahwa korban adalah istri sahnya.”

Apakah itu diplomasi atau delirium pasca-sarapan nasi goreng basi?

Kita ini negara yang dibangun di atas darah penjajahan 350 tahun. Negara yang bahkan UUD-nya bilang, “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Tapi kita sekarang mau jalin kerja sama dengan entitas penjajah, bahkan penjajah aktif yang masih sedang menjajah, bukan yang sudah pensiun.

Bab 7: Normalisasi: Dari Bajigur ke Abraham Accord

Normalisasi adalah kata lain dari: “Ayo biasakan diri dengan ketidakadilan.” Amerika sibuk menyebarkan Abraham Accord, seperti MLM diplomasi Timur Tengah: “Teken sini, dapat bonus ekonomi, dan musuh rakyatmu akan jadi teman.” Lucunya, Indonesia mulai goyah karena uang, tekanan, atau… karena tidak tahu sejarah?

Normalisasi dengan penjajah aktif adalah abnormal. Itu seperti menikahkan korban dengan pelaku. Lalu memaksa mereka honeymoon di rumah korban yang sudah hancur.

Bab 8: Apakah Ini Tentang Yahudi? Tidak.

Catatan penting. Ini bukan tentang Yahudi. Ini tentang Zionisme. Sama seperti kritik ke ISIS bukan berarti anti-Muslim, kritik terhadap Israel bukan berarti anti-Yahudi. Tapi sayangnya, semua dikemas dalam bingkai identitas. Israel menjual dirinya sebagai wakil dari Yahudi seluruh dunia. Padahal banyak Yahudi ortodoks yang menentang pendirian Israel.

Jadi, kalau Anda merasa harus mendukung Israel karena itu Yahudi, itu sama saja Anda mendukung ISIS karena mereka mengklaim Islam.

Bab 9: Kenapa PBB Mandul? Karena Mereka Ayah Tiri

Kenapa PBB selalu gagal menghentikan konflik ini? Karena PBB bukan institusi independen. Ia adalah kolektif kepentingan negara-negara kuat. Dan negara kuat mana yang berani menentang Israel dengan veto yang tersedia di kantong Amerika?

Keadilan di PBB itu kayak vegetarian makan sate kambing. Ilusi, bro. Ilusi.

Bab 10: Solusi Alternatif? De-Zionisasi

Solusi bukan two-state. Solusi adalah de-zionisasi. Menghapuskan sistem apartheid, supremasi, dan kolonialisme dari tanah Palestina. Bayangkan Afrika Selatan saat apartheid. Apakah solusinya dibagi dua negara untuk kulit putih dan kulit hitam? Tidak. Solusinya adalah menjatuhkan sistem yang menindas, bukan memberinya separuh sah tanah rampokan.

Bab 11: Untuk Presiden Prabowo

Pak Prabowo, jika Anda membaca ini, mungkin Anda dibisiki intel yang salah, atau diplomat yang kebanyakan makan siang di hotel bintang lima. Tapi sejarah tidak makan siang. Sejarah mencatat. Dan sejarah mencatat siapa yang berdiri bersama penjajah, dan siapa yang berdiri bersama yang tertindas.

Kalau pun Anda ingin diplomasi, buatlah diplomasi yang tidak menginjak prinsip dasar bangsa. Jangan sampai diplomasi itu berubah jadi diplomasi bunuh karakter, membunuh karakter kemanusiaan kita sendiri.

Bab 12: Satire Terakhir Sebelum Kita Masuk Neraka Internasional

Jadi begini, jika besok China menginvasi Indonesia, bunuh 50.000 orang dalam 2 tahun, lalu bilang: “Kita bagi dua aja: Jawa dan Sumatera buat kita, sisanya buat kalian,” apakah kita akan bilang, “Ini solusi dua negara yang bijaksana?”

Atau jika Papua dideklarasikan negara baru oleh pendatang bersenjata dengan dukungan Inggris dan Amerika, apakah kita akan bilang, “Selamat datang, Two-State Solution?”

Enggak, kan? Lalu kenapa logika absurd ini kita pakai untuk Palestina?

Epilog: Dua Negara, atau Dua Muka?

Two-State Solution hanyalah simbol dari dua hal: dua standar moral dan dua muka politik internasional. Dunia membela Ukraina, tapi membungkam Palestina. Dunia menangis untuk Paris, tapi diam atas Gaza. Dunia marah pada penjajahan masa lalu, tapi memelihara penjajahan masa kini.

Dan Indonesia? Negara besar yang pernah jadi mercusuar kemerdekaan dunia, kini jadi lilin kecil yang redup dibakar diplomasi absurd dan jebakan normalisasi.

Jadi terakhir, mari kita semua tepuk tangan. Bukan untuk solusi dua negara, tapi untuk naskah satire politik paling panjang yang pernah ditulis sejarah modern: The Legitimization of Genocide with Fancy Words.

Terima kasih. Jangan lupa pikirkan, bukan hanya ikut arus. Karena kadang arus membawa kita ke selokan sejarah, bukan ke samudra kebenaran.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *