Vespa Peninggalan Ibu

Vespa Peninggalan Ibu

Sudah hampir dua tahun Vespa tua itu tidak bergerak. Diam saja di pojok garasi rumah masa kecilku, tertutup debu, diselimuti diam. Hanya sesekali Bapak lewat, menatapnya sebentar, lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Aku sendiri sudah lama tidak tinggal di sana. Setelah menikah, aku pindah ke kecamatan sebelah. Rumah dinas yang tidak besar, tapi cukup buat aku, istriku, dan dua anak kami yang masih balita. Jaraknya tak jauh sebenarnya—hanya sekitar tiga puluh menit naik motor—tapi entah kenapa, waktu dan kesibukan perlahan membuatku jarang pulang. Bapak tak pernah protes, tapi aku tahu, ia sering menunggu.

Dulu, motor itu sering meraung pelan di pagi hari. Ibu yang mengemudi, aku yang duduk di belakang, menggenggam pinggangnya erat-erat. Kami ke sekolah, ke pasar, ke mana pun. Vespa itu bukan sekadar kendaraan — ia adalah tempat berpindahnya cerita, dari rumah ke dunia luar.

Tapi sejak Ibu meninggal dua tahun lalu, suara itu tak terdengar lagi. Rumah pun semakin sepi.

Yang aneh, Vespa itu tak pernah aku ambil. Padahal dulu, Ibu pernah bilang, “Kalau nanti kamu gede, ini motor buat kamu ya.” Tapi begitu Ibu tiada, aku justru menghindari motor itu. Diam-diam, aku takut. Takut kenangan terlalu banyak muncul saat aku duduk di jok belakangnya. Takut rasa bersalah ikut menumpuk karena dulu aku sering menolak ketika Ibu ingin antar aku sekolah pakai Vespa. Takut karena tahu, sekarang tak akan ada lagi yang mengendarainya di depanku.

Bapak pun tak pernah menyentuh Vespa itu lagi.

“Gak tega,” katanya suatu kali, pelan. “Terakhir dipakai ibumu ke pasar. Pas pulang, dia bilang motornya bunyinya beda. Malamnya dia demam… lalu besoknya masuk rumah sakit.”

Sejak saat itu, Bapak tak pernah menyalakan Vespa lagi. Mungkin di matanya, suara motor itu terlalu mirip dengan suara yang hilang dari rumah. Terlalu mirip suara Ibu.

Sampai suatu sore, saat aku sedang menjenguk, Bapak duduk di kursi kayu dekat pintu. Tubuhnya mulai bungkuk, rambutnya memutih, tapi sorot matanya masih sama — tenang, tapi tajam.

“Tri,” katanya, “kalau sempat, coba jualin itu Vespa. Sayang cuma diam. Lagian sekarang gak ada yang pakai. Mending dijual aja.”

Aku diam sebentar. Memandang ke arah garasi. Motor itu masih di sana. Tak berubah. Tapi sekarang terlihat seperti makam sunyi untuk kenangan yang tak berani disentuh.

“Iya, Pak,” jawabku akhirnya.

Beberapa hari kemudian, aku bersihkan motor itu. Lap bodinya, semir sedikit bannya, foto dari berbagai sudut, lalu unggah ke grup jual beli motor klasik. Tak kusangka, banyak yang tertarik. Salah satunya datang ke rumah, lihat langsung, dan tanpa banyak tawar-menawar, keluarkan 25 juta rupiah dalam bentuk tunai.

Saat uang itu ada di tanganku, entah kenapa aku tak langsung lapor Bapak. Aku duduk di dalam mobil dinas kantor, menghitung lembar demi lembar, lalu… muncul bisikan kecil di kepala.

“Bilang aja laku 17 juta. Sisanya bisa buat tambahan sekolah anak-anak. Bapak juga gak akan tahu.”

Dan bisikan itu menang.

Beberapa hari kemudian, aku sempatkan mampir ke rumah Bapak. Kuketuk pintu pelan sambil mengucap salam. Ia keluar dengan senyum lelah tapi hangat.

“Pak, ini Vespa laku 17 juta,” kataku sambil menyerahkan amplop coklat.

Bapak terima amplop itu, buka perlahan. Tangannya gemetar. Ia hanya menatap isi amplop itu sebentar, lalu menaruhnya kembali di meja.

“Ambil aja, Tri,” katanya pelan. “Itu memang motor peninggalan Ibumu, tapi bukan buat disimpan. Bapak jual biar bisa bantu kamu. Uang itu, hak kamu.”

Aku terdiam.

Bapak menatap jauh ke arah garasi yang kini kosong. Lalu, dengan suara nyaris berbisik, ia berkata:

“Waktu kamu TK, kamu pernah bilang ke Ibumu, ‘nanti kalo aku gede, motor ini buat aku ya?’ Dia cuma ketawa, lalu bilang ke Bapak malamnya… ‘kalau aku gak ada nanti, motor itu buat Tri.’”

Aku tercekat. Tenggorokanku kering. Tak sanggup bicara.

Dan saat itulah aku tahu, aku salah.
Aku kira yang berat adalah merawat Vespa itu.
Ternyata yang lebih berat adalah menjaga harapan yang dititipkan bersamanya.

Ternyata…
Motor itu bukan sekadar barang.
Ia adalah kenangan. Adalah harapan.
Adalah bagian dari Ibu yang masih tertinggal.

Dan lebih dari itu —
Uang itu bukan ujian kejujuran, tapi pengingat.
Bahwa sejak dulu, orangtuaku tak pernah hitung-hitungan.
Tak pernah minta kembali apa-apa.
Yang penting, anaknya cukup.

Sore itu, aku pulang ke rumah kecilku dengan sepeda motor matic yang biasa kupakai antar jemput anak. Tapi kali ini, di bagasi belakang, ada amplop coklat yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena uang di dalamnya — tapi karena beban di hatiku sendiri.

Dan sejak hari itu, setiap kali aku pulang menjenguk Bapak, aku selalu sempatkan duduk sebentar di garasi.

Menatap ruang kosong tempat Vespa tua itu dulu berdiri.
Dan diam-diam, berbisik dalam hati:

“Bu…
Motor itu sekarang udah gak ada.
Tapi aku masih inget rasanya duduk di belakang Ibu.
Masih inget suara knalpotnya, cara Ibu senyum dari spion.

Maaf, Bu…
Aku gak jaga amanah itu dengan baik.
Tapi aku janji, aku bakal jaga yang lebih penting dari itu:

Doa Ibu.
Kenangan Ibu.
Dan kasih sayang yang Ibu titipkan lewat Ayah,
meski tak pernah sekali pun Ibu bilang itu dengan kata-kata.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *