“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius

“Aku Selingkuh Karena Kamu Kurang Doa” — Sebuah Manipulasi Bermantel Religius

Serius, ini bukan spiritualitas. Ini manipulasi.

Ada satu kalimat yang terdengar religius banget, tapi sebenarnya ngaco:

“Aku selingkuh karena kamu kurang berdoa buat aku.”

Kedengerannya kayak orang yang sadar spiritual, kan? Tapi kalau kita kulik pelan-pelan, ini bukan bentuk pertobatan. Ini justru pengalihan tanggung jawab yang sangat halus, tapi nyakitin.

1. Playing Victim: Modus Lama dengan Gaya Baru

Ada pasangan yang ke-gap selingkuh, tapi bukannya minta maaf, malah bilang:

“Aku khilaf, kamu sih gak cukup doain aku…”

Wait, what? Ini bukan kesadaran spiritual, bro. Ini teknik lama yang namanya scapegoating alias main korban. Biar dia gak kelihatan salah, yang disalahin justru pasangan sendiri. Kamu jadi kambing hitam atas dosa yang dia pilih sendiri.

2. Selingkuh Itu Pilihan, Bukan Kecelakaan

Mari luruskan satu hal penting:

Selingkuh itu bukan kebetulan. Bukan juga karena “setan menggoda”.
Itu pilihan sadar — dari ngechat diam-diam, nyembunyiin status, sampe akhirnya kebablasan.

Dan setiap pilihan punya konsekuensinya. Termasuk tanggung jawab moral dan emosional.

3. Spiritual Bypassing: Ngumpet di Balik Ayat

Ngutip-ngutip agama tapi buat lari dari tanggung jawab, itu namanya spiritual bypassing.

Alih-alih bilang, “Aku salah, aku bertobat,” dia malah bilang, “Aku tergelincir karena kamu gak cukup support secara spiritual.”

Serius deh, ini bukan bentuk iman. Ini penyamaran ego pakai jubah religius.

4. Dampaknya? Rusak. Banget.

Buat pasangan yang dituduh “kurang doa”, dampaknya bisa berat banget:

  • Merasa gagal sebagai istri/suami

  • Terbebani dosa yang bukan miliknya

  • Kehilangan kepercayaan terhadap pasangan dan bahkan terhadap agama itu sendiri

Lama-lama jadi trauma religius.

5. Semua Disalahin, Kecuali Diri Sendiri

Orang kayak gini biasanya punya mentalitas:
“External locus of control”
Alias: semua salah keadaan, godaan, pasangan — asal jangan aku.

Padahal kedewasaan rohani yang sejati justru bilang:

“Ya, aku salah. Dan aku harus bertanggung jawab.”

Itu baru gentle. Baru berani. Baru beriman.

6. Doa Itu Penting, Tapi…

Yes, doa dalam hubungan itu penting. Tapi bukan jadi tameng buat nutupin pengkhianatan.

Kalau kamu beneran orang beriman, kamu gak akan selingkuh sambil nyari pembenaran pakai dalil.

Jujur itu sakit. Tapi manipulasi itu lebih jahat.

7. Stop Salahin Pasangan

Jangan salahin pasangan atas dosa yang kamu pilih sendiri.

Mau berubah? Bagus. Tapi mulai dari kejujuran dan pertobatan, bukan dari drama playing victim pakai nama Tuhan.

Kalau kamu pernah jadi korban manipulasi semacam ini:

Ingat, itu bukan salahmu.
Kamu gak kurang doa.
Kamu gak kurang baik.
Dia aja yang gak berani ngaku salah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *