Di tengah hiruk-pikuk kota besar, tinggallah seorang wanita muda bernama Livia. Setiap pagi, ia berdiri lama di depan cermin, memastikan kalung emasnya tampak jelas, tas bermerek terlihat mencolok, dan riasannya sempurna. Ia melangkah ke luar rumah bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk dilihat.
Orang-orang di kantornya memuji penampilannya. Setiap like di Instagram membuat hatinya sedikit lebih hangat, tapi entah mengapa malam-malamnya tetap dingin. “Kalau aku tidak tampil seperti ini, siapa yang akan menghargai aku?” pikirnya sering kali.
Suatu hari, saat berjalan melewati sebuah toko perhiasan tua, pandangannya tertarik pada cermin antik di dalam. Ia masuk, berpura-pura melihat-lihat cincin, tapi sebenarnya hanya ingin memeriksa pantulan dirinya.
Seorang wanita tua pemilik toko mendekat perlahan dan berkata lembut,
“Kalau kamu harus melihat cermin setiap hari untuk tahu kamu berharga, maka mungkin kamu belum benar-benar menemukannya.”
Livia tertegun.
Wanita tua itu melanjutkan, “Dulu saya juga seperti kamu. Saya kira semua orang harus tahu saya kaya, saya cantik, saya penting. Tapi semakin saya menunjukkan semua itu, semakin saya merasa kosong.”
Livia berusaha tersenyum, tapi hatinya tersentuh. Ia merasa seperti seseorang baru saja membacakan isi hatinya sendiri.
“Apa yang membuatmu berubah?” tanya Livia lirih.
“Saat saya sadar, kekayaan sejati itu saat saya tetap merasa cukup, bahkan ketika tak seorang pun tahu apa yang saya punya. Dan kecantikan sejati itu, saat saya tetap merasa berharga, bahkan ketika tidak ada yang melihat saya.”
Livia pulang tanpa membeli apa-apa. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, ia menatap cerminnya bukan untuk memastikan tampilannya sempurna—melainkan untuk bertanya: siapa aku jika tak ada yang melihatku?
Dan di situlah perjalanannya dimulai—bukan untuk dipandang, tapi untuk menemukan nilai sejati dari dalam dirinya.

