Skip to content
Celoteh Pacakleret Celoteh Pacakleret

Kebaikan Untuk Semua

  • Tentang Kami
    • Tentang Arief
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Chat via WA
  • Shop
  • facebook.com
  • twitter.com
  • t.me
  • instagram.com
  • youtube.com
Subscribe

Posts by Bang Arief

Home » Archives for » Page 5

About Bang Arief
Seorang pemulung hikmah... Father of Three... Pengagum istri... Penyendiri yang senang berteman...
Warung Kopi Koeksistensi
Posted inCeloteh Pacakleret Internasional Nasional

Warung Kopi Koeksistensi

Sebuah warung sederhana, lengkap dengan poster buram "Peace Now!" di dinding dan bendera kecil PBB yang berdebu tergantung di pojok. Di satu meja, dua tokoh penting sedang duduk bersisian: Presiden…
Posted by Bang Arief 30/05/2025
Yang Tersisa dari Hujan
Posted inCeloteh Pacakleret Short Stories

Yang Tersisa dari Hujan

Hujan deras mengguyur Dago sejak tengah malam. Bukan hujan romantis yang cuma rintik-rintik, tapi hujan yang seperti sedang meluapkan dendam lama. Di kamar sempit kontrakan dua lantai yang cat temboknya…
Posted by Bang Arief 28/05/2025
Posted inAgama Celoteh Pacakleret

BERPOTENSI TIDAK ISTITHO’AH: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN IBADAH HAJI DI ERA PEMBATASAN

Harapan vs Kenyataan: Mengapa Jutaan Muslim Bisa Kehilangan Kesempatan Haji? Gelombang keprihatinan tengah menyelimuti jutaan calon jamaah haji di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah kebijakan baru yang diterapkan oleh Kerajaan Arab…
Posted by Bang Arief 28/05/2025
Vespa Peninggalan Ibu
Posted inCeloteh Pacakleret Nasihat Diri Short Stories

Vespa Peninggalan Ibu

Sudah hampir dua tahun Vespa tua itu tidak bergerak. Diam saja di pojok garasi rumah masa kecilku, tertutup debu, diselimuti diam. Hanya sesekali Bapak lewat, menatapnya sebentar, lalu kembali masuk…
Posted by Bang Arief 28/05/2025
Two-State Solution: Solusi Dua Negara, atau Dua Kali Ditampar oleh Sejarah?
Posted inCeloteh Pacakleret Internasional Sejarah Budaya

Two-State Solution: Solusi Dua Negara, atau Dua Kali Ditampar oleh Sejarah?

Mari kita menyelam ke dalam absurditas politik global dengan snorkel ketidakwarasan internasional. Bab 1: Sejarah Dimulai dari Penipuan Tahun 1947. PBB—lembaga paling damai tapi paling absurd setelah reality show tentang…
Posted by Bang Arief 28/05/2025
Posted inAgama Celoteh Pacakleret

Indonesia, Negeri Muslim Terbesar di Dunia (Tapi Masjidnya Sunyi Saat Subuh)

Di ujung langit Nusantara, saat matahari terbit di atas sawah yang masih diselimuti embun, terdengar suara merdu azan dari masjid yang berdiri gagah di antara warung pecel lele dan minimarket…
Posted by Bang Arief 27/05/2025
Ekonomi, Siapa yang Diuntungkan?
Posted inCeloteh Pacakleret Ekonomi

Ekonomi, Siapa yang Diuntungkan?

Kita sering dengar istilah “ekonomi kita sedang tumbuh”. Tapi siapa sebenarnya yang tumbuh? Siapa yang ikut naik, dan siapa yang tertinggal? Ekonomi sering dibungkus dalam bahasa yang tampak netral: pertumbuhan,…
Posted by Bang Arief 27/05/2025
“Negeri Uji Coba: Dari Laboratorium Dunia Menuju Eksperimen Abadi”
Posted inCeloteh Pacakleret Kesehatan Nasional

“Negeri Uji Coba: Dari Laboratorium Dunia Menuju Eksperimen Abadi”

Bab 1: Selamat Datang di Republik Uji Klinis Selamat datang di Indonesia, negeri yang hangat bukan karena keramahan, tetapi karena suhu tubuh penduduknya yang naik turun karena infeksi menahun. TBC,…
Posted by Bang Arief 26/05/2025
Posted inCeloteh Pacakleret Relationship Short Stories

Satu Cangkir Teh Dua Ego Manusia

Meja makan itu pernah jadi tempat tawa. Kini hanya terdengar sendok yang bergesekan dengan piring dan suara jam dinding. Maya duduk di ujung meja, Budiman di seberangnya. Satu meter jarak,…
Posted by Bang Arief 26/05/2025
Lowongan Kerja Tanpa Usia, Wajah Pas-pasan pun Dipersilakan, Asal Tidak Bernapas Terlalu Kencang
Posted inCeloteh Pacakleret Nasional

Lowongan Kerja Tanpa Usia, Wajah Pas-pasan pun Dipersilakan, Asal Tidak Bernapas Terlalu Kencang

Akhirnya! Setelah bertahun-tahun kaum tidak good looking dan usia di atas 25 tahun hidup dalam bayang-bayang diskriminasi lowongan kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) datang membawa angin segar. Bukan angin surga, tentu,…
Posted by Bang Arief 26/05/2025

Posts pagination

Previous page 1 … 3 4 5 6 7 … 17 Next page
Penulis Tamu
  • JURNALISTIK, PERS, DAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA: PILIHAN JALUR HIDUP SEORANG NUR ISKANDAR

    Oleh M. Hermayani Putera Berbicara mengenai perjalanan dan perkembangan dunia pers dan jurnalistik Kalbar dalam kurun waktu dua puluh lima tahun terakhir ini, ada satu nama yang selalu hadir menyertai kedua hal ini. Jika jurnalistik, mengutip dari Jurnalistik Terapan (Batic Press, 2004), bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas atau proses kerja seorang wartawan, maka pers lebih mendalami kepada insitusi atau lembaga ataupun perusahaan yang bergerak di bidang penyiaran hasil kerja wartawan atau penulis tersebut. Nama yang dimaksud ialah Nur Iskandar. Nama yang bermakna mulia sekali, yakni Berilmu dan Tabah. Orangtua beliau tentu punya doa dan harapan yang mulia ketika memberi nama pada anaknya ini. Dulu saya memanggilnya cukup dengan BANG NUR saja. Namun sejak enam tahun terakhir ini lebih sering menyapa beliau BANG NUR IS. Hal ini mengingat saya juga cukup dekat berinteraksi dengan abang beliau, BANG MUHAMMAD NUR HASAN, penggiat gerakan menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah berdimensi pemberdayaan di Kalbar dan bahkan sudah meluas hingga ke beberapa kota lain di luar Kalbar. Kalau abang beliau ini, kami akrab menyapanya dengan TOK Ya, karena ide-ide kebaikan dari jamaah beliau selalu ditampung, diterima, dan diiyakan. Lihatlah bentangan dedikasi dan pengabdian Bang Nur Is dalam lansekap dinamika dunia pers dan jurnalistik di bumi khatulistiwa. Dunia yang ia tekuni sejak mahasiswa, dilanjutkan sebagai profesi pasca meninggalkan kampus, dan terus didalami hingga saat ini. Pers mahasiswa, Harian SUAKA, Harian Equator, Harian Borneo Tribune, Radio Volare, dan sekarang mengelola media online TERAJU. Walaupun belakangan ini BANG NUR IS aktif di gerakan wakaf, literasi, dan kebudayaan, tapi ia tetap mahir berselancar sebagai seorang penggiat jurnalistik sejati, mewartakan geliat gerakan-gerakan ini. Justru di sini saya melihat Nur Is mampu menjadi seorang penyampai pesan mulia dari gerakan wakaf, pentingnya memperkuat literasi, dan mengapa kita perlu meneguhkan akar kebudayaan kita yang harus terus adaptis dinamis berdialektika dengan perkembangan budaya global. NUR IS tak jeri, apalagi takut, dengan kehadiran sesuatu yang baru datang atau dikenalkan dari luar. Malah ini menjadi sebuah tantangan baginya untuk terus belajar hal-hal baru, dan mengintegrasikannya dengan aspek lain. Selamat dan semangat terus berkarya, BANG NUR IS. Happy milad dan mensyukuri nikmat umur separuh abad ini. Semoga selalu sehat dan hidup penuh barakah di sisa jatah umur yang diberikan Allah. Masih muda kita Bang, jangan terlalu sering nengok cermin, apalagi mengecek warna rambut yang sudah ada rona putih di beberapa bagian. Anggap saja itu bunga pohon jambu air yang gugur dan pas jatuh di rambut kita…

    M. Hermayani Putera
  • Buku Setan

    Olive, seorang mahasiswi Untan, lagi jalan-jalan ke Banten. Bergaya seperti seorang petualang sejati, mulailah dia ngitar-ngitar pelosok-pelosok kota Banten. Hari mulai sore dan masuklah dia ke sebuah toko buku yang bangunan tua dan kuno. Buku-buku yang dijual di dalam toko buku kebanyakan adalah buku-buku tentang ilmu gaib, cerita hantu dan sejarah setempat. Olive mulai gugup. Tapi merasa sebagai seorang petualang, dia berusaha membesarkan hatinya. Matanya tertuju ke sebuah buku kuno yang sangat menarik. Judulnya “Tujuh cara melihat hantu”. Olive sangat tertarik untuk membacanya. “Bang… Bang…”, panggil Olive untuk mencari penjualnya. Tiba-tiba Olive dikagetkan suara dari belakang. “Ada apa, Non.”, jawab seorang lelaki tua yang menyeramkan. “Buku ini berapa?”, tanya Olive “Wah, buku ini tidak bisa dijual ke sembarang orang, Non. Ini buku kuno dan wasiat”, jawab penjaga toko, “Harganya Enam ratus ribu rupiah”. “Mahal amat”, jawab Olive, ” Dua ratus ribu deh”. “Gak bisa kurang, Non. Itu sudah harga bukunya. Karena sudah lama tidak ada pembeli di toko, saya kasih non diskon seratus ribu” Olive setuju dan bayar si penjual lima ratus ribu rupiah. Sebelum Olive pergi, si penjual memperingati dia. “Non, buku ini buku wasiat, tidak sembarangan orang bisa membacanya. Aku peringatkan anda untuk tidak membuka halaman terakhir atau anda akan ketiban sial seumur hidup”. Sebelum Olive keluar dari toko, si penjual menyahut lagi dengan suara seram, “Ingat non jangan coba-coba buka halaman terakhir!”. Malam itu Olive yang tinggal di sebuah villa membaca buku itu dan ketiduran. Tengah malam dia dibangunkan oleh suara petir dan angin yang masuk dari jendelanya yang terbuka. Olive bangun dan berusaha menutup jendela. Tiba-tiba dia teringat dengan bukunya. Karena tertiup angin kencang, halaman di buku itu mulai membuka sendiri dari halaman ke halaman. Teringat dengan peringatan si penjual buku, Olive berusaha meraih bukunya dan menyetop jalannya halaman di buku itu dari tiupan angin. Terlambat… Saat Olive berhasil meraih buku itu, dia lagi memegang halaman terakhir. “Mati aku”, gumam Olive dengan panik, aku bakal sial seumur hidup”. Olive mulai ketakutan dan was-was kalau ada makluk gaib yang muncul Setelah setengah jam menutup mata dengan ketakutan, Olive memberanikan diri untuk membuka mata kirinya dan melirik halaman terakhir buku itu: Harga asli : Rp. 20,000,- Harga Diskon : Rp. 10,000,- Cetakan tahun 2009.

Copyright 2025 — Celoteh Pacakleret. All rights reserved. Bang Arief Jak
Scroll to Top
error: Content is protected !!